REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – PT Bank Danamon Indonesia Tbk optimistis pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) hingga akhir 2026 tetap sesuai target di tengah persaingan penghimpunan dana yang semakin ketat. Perseroan menjadikan penguatan likuiditas sebagai salah satu fokus utama untuk menopang ekspansi bisnis.
Chief Strategy Officer Bank Danamon Reza Iskandar Sardjono mengatakan pertumbuhan DPK perseroan masih berada di jalur yang direncanakan. Menurut dia, kecukupan likuiditas menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kesehatan bank.
Baca Juga
Danamon Syariah Siapkan Produk Emas untuk Perencanaan Haji
“Menurut saya (pertumbuhan DPK) masih on track. Kami akan terus menjaganya karena itu memang salah satu kunci kesehatan bank. Likuiditas menjadi fokus utama kami,” kata Reza usai Media Luncheon HUT ke-70 Danamon di Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Reza mengatakan strategi penghimpunan dana dilakukan melalui penguatan berbagai ekosistem bisnis, seperti sektor otomotif, fast moving consumer goods (FMCG), pendidikan, properti Jepang, hingga haji dan umrah.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Menurut dia, pendekatan financial supply chain memungkinkan aliran dana dari produsen, distributor, subdistributor, hingga konsumen berada dalam ekosistem nasabah Danamon sehingga mendukung pertumbuhan DPK secara berkelanjutan.
Selain memperkuat ekosistem, Danamon juga terus meningkatkan layanan digital dengan menambah berbagai fitur transaksi untuk mendorong aktivitas nasabah sekaligus menjaga daya saing.
Berdasarkan laporan kinerja kuartal I 2026, total kredit dan trade finance Danamon tumbuh sekitar 9 persen secara tahunan menjadi Rp216,2 triliun. Sementara itu, giro, tabungan, dan deposito meningkat sekitar 16 persen menjadi Rp176,1 triliun.
Sementara itu, Consumer Funding and Wealth Business Head Bank Danamon Ivan Jaya mengatakan perseroan terus menjaga keseimbangan kebutuhan pendanaan jangka pendek dan jangka panjang di tengah kompetisi penghimpunan dana.
Menurut Ivan, penyesuaian suku bunga dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan kebutuhan nasabah, kondisi pasar, serta arah kebijakan pemerintah dan regulator.
“Kami tidak serta-merta menaikkan semua suku bunga, baik suku bunga kredit maupun deposito,” ujar Ivan.
Ia mengatakan strategi utama perseroan bukan hanya melalui penyesuaian pricing, tetapi juga meningkatkan aktivitas transaksi agar porsi dana murah bertambah dan cost of fund tetap terjaga.
Menurut Ivan, meningkatnya dana murah memberikan ruang bagi bank untuk menawarkan suku bunga kredit yang lebih kompetitif kepada masyarakat.
Ia menambahkan target pertumbuhan kredit hingga akhir 2026 tetap dipertahankan pada kisaran dua digit rendah atau sekitar 10 persen hingga 15 persen. Sementara itu, pertumbuhan DPK diharapkan bergerak sejalan dengan ekspansi pembiayaan.
“Pertumbuhan kredit di kisaran low double digit, antara 10 sampai 15 persen, selalu menjadi target kami. Untuk dana juga mengikuti,” katanya.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dana pihak ketiga industri perbankan pada Mei 2026 tumbuh 13,49 persen secara tahunan menjadi Rp10.294 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang kenaikan giro sebesar 20,53 persen, deposito 10,17 persen, dan tabungan 10,21 persen.
Likuiditas industri juga tetap terjaga dengan rasio alat likuid terhadap non-core deposit (AL/NCD) sebesar 108,20 persen dan alat likuid terhadap DPK (AL/DPK) sebesar 24,74 persen, jauh di atas ambang batas yang ditetapkan regulator.