Karhutla di Jateng Timbulkan Kerugian Ratusan Juta dan Renggut Korban Jiwa

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

SEMARANG, KOMPAS — Puluhan kasus kebakaran lahan dan hutan atau karhutla dilaporkan terjadi di sejumlah daerah di Jawa Tengah sepanjang tahun 2026. Akibat peristiwa tersebut, kerugian diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Tak hanya itu, karhutla juga disebut merenggut satu korban jiwa.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng menyebut, ada 211 kasus kebakaran sepanjang 1 Januari sampai 5 Juli 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 187 kasus merupakan kebakaran gedung dan permukiman dan sebanyak 24 kasus merupakan karhutla.

Puluhan kasus karhutla itu tersebar di berbagai daerah. Wilayah dengan kasus karhutla paling banyak adalah Kabupaten Sukoharjo dengan 6 kasus, Sragen dengan 5 kasus, Klaten dengan 3 kasus, serta Blora, Kudus, dan Semarang masing-masing dua kasus.

Baca JugaHadapi Musim Kemarau, Jateng Siapkan 123 Juta Liter Air Bersih

Karhutla juga dilaporkan terjadi di Boyolali, Demak, Kota Surakarta, dan Pemalang. Di wilayah tersebut, kasus karhutla yang terjadi masing-masing satu kasus.

"Total luasan lahan yang terdampak sekitar 21 hektar dengan taksiran kerugian sebesar Rp 312,9 juta," kata Kepala BPBD Jateng Bergas Catursasi Penanggungan saat dihubungi, Selasa (14/7/2026).

Baca JugaKekeringan di Indonesia Meluas dan Titik Panas Melonjak

Menurut Bergas, kasus karhutla yang terjadi tahun 2026 meningkat hingga 700 persen dibanding periode yang sama di tahun 2025. Sebelumnya, sepanjang 1 Januari sampai 5 Juli 2025, jumlah karhutla yang terjadi sebanyak 3 kasus.

Adapun kasus kebakaran gedung dan permukiman yang terjadi di Jateng pada 1 Januari sampai 5 Juli 2026 melanda sekitar 163 unit rumah dan 329 unit bangunan lain. Akibat kejadian itu, kerugian materi yang timbul mencapai Rp 20,8 miliar. Tak hanya itu, kebakaran gedung dan permukiman menyebabkan 4 korban jiwa.

Bergas pun mengimbau masyarakat untuk tidak membakar hutan dan lahan serta tidak membuang puntung rokok sembarangan agar kebakaran bisa dihindari. Masyarakat juga disarankan untuk memeriksa instalasi listrik secara berkala, menyiapkan alat pemadam api ringan, dan segera melapor jika kebakaran terjadi.

Tak hanya BPDB, Kepolisian Daerah Jawa Tengah juga turut memantau kasus-kasus karhutla. Polda Jateng menyebut, sepanjang 1-11 Juli 2026, terdapat 16 kasus karhutla. Masing-masing peristiwa tersebut terjadi pada rentang pukul 09.00 hingga 16.00 WIB atau saat suhu udara disebut mencapai puncaknya.

"Selain mengakibatkan kerugian materi hingga ratusan juta rupiah, kebakaran lahan juga menelan satu korban jiwa di wilayah Kabupaten Batang yang diduga dipicu aktivitas pembakaran lahan," ucap Kepala Bidang Humas Polda Jateng Komisaris Besar Artanto.

Baca JugaMendamba Penanganan Karhutla yang Inklusif

Artanto mengatakan, Polda Jateng telah menyiapkan langkah-langkah mitigasi untuk menekan risiko karhutla di wilayahnya. Hal itu, misalnya dengan mengedukasi kelompok tani, pengelola kawasan hutan, dan masyarakat di wilayah rawan kebakaran.

Polisi juga bakal meningkatkan patroli pada kawasan perkebunan, lahan kosong, dan hutan, terutama pada jam-jam rawan. Selain itu, polisi akan berkoordinasi dengan BPBD, pemadam kebakaran, pihak Perhutani, dan pemerintah daerah dalam mempercepat deteksi dini maupun penanganan apabila ditemukan titik api.

"Polda Jateng juga menyiagakan personel beserta peralatan pendukung pemadaman, termasuk kendaraan water cannon untuk mendukung pemadaman darurat di lokasi tertentu, serta mengoptimalkan pemantauan titik panas berbasis teknologi untuk mempercepat respons di lapangan. Upaya itu juga diiringi dengan penegakan hukum terhadap setiap peristiwa kebakaran yang terbukti disebabkan oleh adanya unsur kesengajaan maupun kelalaian," ujar Artanto.

Baca JugaTantangan Penanganan Karhutla 2026 Lebih Berat dibanding Tahun Lalu

Artanto pun mengimbau masyarakat untuk tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Kebiasaan tersebut dinilai masih menjadi salah satu penyebab munculnya titik api yang dapat berkembang menjadi kebakaran dalam skala lebih luas.

"Jangan membuka atau membersihkan lahan dengan cara dibakar. Api yang awalnya kecil dapat dengan cepat membesar akibat tiupan angin dan mengancam lahan pertanian, kawasan hutan, bahkan permukiman warga," katanya.

Selain mengakibatkan kerugian materi hingga ratusan juta rupiah, kebakaran lahan juga menelan satu korban jiwa di wilayah Kabupaten Batang yang diduga dipicu aktivitas pembakaran lahan

Artanto juga mengingatkan masyarakat untuk tidak membakar sampah sembarangan, tidak membuang puntung rokok di area yang dipenuhi rumput atau vegetasi kering, serta lebih berhati-hati saat melakukan aktivitas yang menggunakan api di ruang terbuka. Hal itu, karena banyak kebakaran berawal dari kelalaian yang dianggap sepele.

"Karhutla bukan hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mengancam keselamatan jiwa, kesehatan masyarakat, serta perekonomian. Pencegahan membutuhkan kepedulian bersama. Apabila melihat adanya titik api, segera laporkan kepada petugas agar dapat ditangani secepat mungkin sebelum menimbulkan kerugian yang lebih besar," ucap dia.

Kebakaran lahan tebu

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Batang, Nur Nasetya Nugroho, mengatakan, sempat ada kebakaran lahan tebu di Desa Kedawung, Kecamatan Banyuputih, Batang, yang pertama kali diketahui warga pada 6 Juli 2026. Tak jauh dari lokasi tersebut, jasad seorang pria ditemukan tergeletak di dalam parit.

"Menurut laporan yang kami terima dari pemerintah kecamatan, korban merupakan laki-laki berusia 71 tahun. Sehari-hari korban menjaga lahan tebu itu. Kami belum tahu, apakah korban meninggal karena kebakaran tersebut atau bukan, tetapi polisi menyebut ada luka bakar pada jasad korban dan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan," ujar Nugroho. 

Nugroho menyebut, peristiwa kematian itu terungkap setelah warga melihat sepeda motor korban terparkir di sekitar lahan tebu tersebut, tetapi tidak melihat korban. Setelah menyisir di sekitar lahan tersebut, warga menemukan korban sudah berada di dalam parit.

Nugroho menambahkan, tidak ada yang tahu pasti kapan kebakaran terjadi. Saat warga sampai di lahan tebu itu, api sudah padam.

Berdasarkan catatan BPBD Batang, ada beberapa kecamatan yang dinilai rawan karhutla, yakni Gringsing, Banyuputih, Bandar, dan Limpung. Untuk mencegah kebakaran terjadi, BPBD Batang menyiagakan pompa-pompa alkon di lahan-lahan yang dinilai rawan.

Sementara itu, pada Senin (13/7/2026) sekitar pukul 09.45 WIB, terjadi karhutla di Desa Bendo, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sragen. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari menyebut, kebakaran itu dipicu aktivitas pembakaran rumput oleh seorang warga, yang kemudian merambat ke lahan perkebunan tebu.

"BPBD Kabupaten Sragen mencatat luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 4,5 hektare dan tidak menimbulkan korban jiwa. BPBD bersama dinas pemadam kebakaran, aparat kecamatan, dan pemerintah desa segera melakukan pemadaman," kata Abdul dalam keterangannya.

Baca JugaEl Nino Pacu Kebakaran Lahan Gambut,  Anak-anak Rentan Terpapar
Kekeringan

Selain karhutla, BNPB mengimbau masyarakat untuk mewaspadai terjadinya kekeringan di musim kemarau. Kondisi itu dikhawatirkan memicu krisis air bersih.

Di Kabupaten Klaten, sedikitnya 3.148 keluarga atau 10.407 jiwa dilaporkan terdampak kekeringan. Kekeringan itu melanda empat desa di Kecamatan Kemalang, antara lain Desa Kendalsari, Desa Tegalmulyo, Desa Tlogowatu dan Desa Sidorejo.

"BPBD Kabupaten Klaten telah berupaya melakukan distribusi air bersih. Sepanjang 15 Juni-13 Juli 2026, sebanyak 236 tangki atau sekitar 1.180.000 liter air bersih telah disalurkan kepada masyarakat di Desa Kendalsari, Tegalmulyo, Tlogowatu, dan Sidorejo," ucap Abdul.

Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Banyumas. Kekeringan yang dipicu musim kemarau berdampak pada sedikitnya 1.820 keluarga atau 5.648 jiwa yang tersebar di enam kecamatan, yakni Kecamatan Purwokerto Timur, Karanglewas, Sumpiuh, Jatilawang, Cilongok, Kemrajen.

BPBD Kabupaten Banyumas disebut menyiapkan sarana penampungan air dan mendistribusikan masing-masing 5.000 liter air bersih ke dua titik di Desa Kedungpring, Kecamatan Kemranjen menggunakan truk tangki air pada Senin. Selain itu, air bersih juga telah disalurkan langsung kepada warga melalui toren berkapasitas 2.000 liter serta penampungan air yang tersedia.

Di Kabupaten Pemalang, kekeringan dilaporkan berdampak pada sedikitnya 2.923 keluarga di Kecamatan Belik, Bawang, Pulosari. Pemerintah Kabupaten Pemalang bahkan telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi Kekeringan hingga 31 November 2026.

"BPBD Kabupaten Pemalang terus mendistribusikan bantuan air bersih kepada masyarakat. Pada Senin, sebanyak 56.000 liter air bersih disalurkan menggunakan tiga armada mobil tangki," ujar Abdul.

Berdasarkan prediksi curah hujan kumulatif dasarian II bulan Juli 2026 atau 11-20 Juli 2026 yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah Indonesia didominasi mengalami hujan pada kategori rendah.

Merespon hal tersebut, BNPB mengimbau pemerintah daerah terus mengoptimalkan distribusi air bersih serta menyiapkan sarana penampungan air di wilayah rawan kekeringan agar penyaluran bantuan dapat berlangsung lebih efektif. Masyarakat juga diimbau untuk menggunakan air secara bijaksana dan efisien.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Generasi Muda Didorong Aktif Kenalkan Budaya dan Wisata Daerah
• 6 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Mencari Sosok Pria yang Diduga Gadaikan Tanah Mbah Lanjarsari di Sleman
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Diungkap Senator Amerika, Donald Trump Sudah Kehabisan Akal untuk Mengakhiri Perang Iran
• 21 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
BRI Wellness Experience 2026, Destinasi Baru untuk Hidup Sehat dan Healing
• 12 jam lalumedcom.id
thumb
Seleksi Kompetensi CAT PPPK Sekolah Rakyat Dimulai 17 Juli, Ini Cara Cetak Kartu Peserta
• 15 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.