TEHERAN - Iran meretas jaringan seluler di seluruh Timur Tengah untuk melacak lokasi personel militer dan kontraktor Amerika Serikat (AS) selama perang, demikian laporan surat kabar Financial Times (FT) London.
Laporan itu mengutip data telekomunikasi dari proyek penelitian Mobile Surveillance Monitor dan berbagai pihak yang mengetahui masalah tersebut. Para anggota parlemen AS merasa khawatir dengan informasi tersebut, kata surat kabar itu, karena mereka memperingatkan bahwa sistem roaming dan teknologi periklanan ponsel pintar telah membuat militer rentan terhadap serangan.
“Iran benar-benar memiliki kemampuan untuk mendapatkan informasi lokasi secara real-time, langsung, dan berkelanjutan,” kata Gary Miller, seorang peneliti senior di lembaga pengawas keamanan siber Citizen Lab yang meninjau data tersebut dikutip FT, melansir Aljazeera, Selasa (14/7/2026).
“Saya akan sangat terkejut jika Iran tidak menggunakan SS7, atau akses jaringan seluler di wilayah tersebut, untuk melacak pengguna AS,” imbuhnya.
(Arief Setyadi )




