JAKARTA, KOMPAS.com - Fenomena doom spending atau kebiasaan berbelanja sebagai pelarian dari rasa cemas, pesimisme, dan ketidakpastian masa depan semakin banyak dibicarakan, terutama di kalangan generasi muda.
Berbeda dari konsumsi untuk memenuhi kebutuhan, perilaku ini lebih didorong oleh upaya mencari kelegaan emosional meski hanya bersifat sementara.
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rakhmat Hidayat menilai doom spending tidak bisa dipahami semata sebagai perilaku konsumtif atau lemahnya pengendalian diri.
Baca juga: Fenomena Doom Spending di Kalangan Anak Muda, Kala Belanja Jadi Obat Stres
Menurut dia, fenomena tersebut merupakan hasil interaksi antara tekanan ekonomi, budaya konsumsi, hingga perkembangan media digital.
Ia menjelaskan, budaya konsumsi di kalangan pekerja muda perkotaan telah bergeser.
Konsumsi tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan, tetapi menjadi bagian dari identitas sosial dan simbol pencapaian.
"Di kota-kota besar seseorang tidak hanya dinilai dari pekerjaan atau pendapatannya, tetapi juga dari gaya hidup yang ditampilkan, mulai dari pakaian, gawai, tempat nongkrong, hingga pengalaman liburan," kata Rakhmat saat dihubungi Kompas.com, Selasa (14/7/2026).
Kondisi itu membuat belanja dipandang sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras setelah menghadapi tekanan pekerjaan, kemacetan, hingga ketidakpastian ekonomi.
Ketika target jangka panjang seperti membeli rumah atau mencapai stabilitas finansial terasa semakin sulit diraih, kepuasan instan melalui konsumsi menjadi pilihan yang dianggap lebih realistis.
Rakhmat mengatakan, pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran sosiolog Pierre Bourdieu yang melihat konsumsi bukan hanya memiliki nilai guna, tetapi juga mengandung simbol dan makna sosial.
"Barang menjadi representasi status, pencapaian, bahkan kebahagiaan. Akibatnya, doom spending tumbuh dalam lingkungan yang terus mendorong konsumsi sebagai solusi psikologis maupun simbol keberhasilan," ujarnya.
Baca juga: Financial Planner: Doom Spending Muncul Saat Masa Depan Finansial Terasa Kian Sulit Dicapai
Menurut dia, media sosial juga memperkuat pola tersebut.
Algoritma terus menampilkan gaya hidup ideal, produk terbaru, hingga pengalaman mewah yang memicu perbandingan sosial.
Di sisi lain, fenomena fear of missing out (FOMO), budaya treat yourself, dan lingkungan pertemanan ikut membentuk norma baru mengenai gaya hidup yang dianggap wajar.
Akibatnya, keputusan konsumsi tidak lagi sepenuhnya bersifat personal, melainkan dipengaruhi interaksi sosial.





