Bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Selasa (14/7). Penguatan itu didorong reli saham-saham semikonduktor setelah data inflasi AS pada Juni tercatat lebih rendah dari perkiraan pasar.
S&P 500 naik 0,38% ke level 7.543 dan Nasdaq menguat 0,9% menjadi 26.107,01. Lalu, Dow Jones Industrial Average naik tipis 9,63 poin atau 0,02% ke level 52.508,27.
Kenaikan Dow Jones tertahan oleh anjloknya saham International Business Machines (IBM) hingga 25%. Itu terjadi setelah perusahaan memperingatkan laba kuartal kedua akan berada di bawah ekspektasi karena melemahnya permintaan bisnis perangkat lunak dan infrastruktur.
Di sisi lain, saham-saham sektor semikonduktor bangkit setelah adanya aksi jual pada sesi sebelumnya. ETF VanEck Semiconductor (SMH) melonjak 2,5%, diikuti kenaikan saham Applied Materials dan Teradyne yang masing-masing menguat lebih dari 3%. Lam Research dan Micron Technology melesat sekitar 5%, sedangkan STMicroelectronics naik lebih dari 2%.
Sentimen positif juga datang dari data inflasi AS. Indeks Harga Konsumen (IHK/CPI) pada Juni turun 0,4% secara bulanan sehingga inflasi tahunan melambat menjadi 3,5%. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan ekonom yang disurvei Dow Jones, yang memperkirakan penurunan bulanan CPI sebesar 0,2% dan inflasi tahunan 3,8%.
Meredanya tekanan inflasi membuat ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve atau The Fed pada tahun ini ikut menurun. Berdasarkan CME FedWatch, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan Juli turun menjadi 17% dari 42% sehari sebelumnya.
Meskipun begitu, pelaku pasar masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September tetap cukup besar, dengan probabilitas hampir 60% untuk kenaikan sebesar 25 hingga 50 basis poin.
Kepala Investasi Regan Capital, Skyler Weinand mengatakan, rendahnya data CPI AS pada Selasa (14/7) menunjukkan lonjakan inflasi yang dipicu konflik di Iran mulai mereda. Menurutnya, kondisi itu kemungkinan hanya bersifat sementara karena ketegangan geopolitik kembali naik dalam beberapa hari terakhir.
Tak hanya itu, Weinand menilai lemahnya data inflasi juga memberi ruang bagi The Fed untuk menunda kenaikan suku bunga dalam waktu dekat sehingga peluang pengetatan kebijakan moneter ikut menurun.
Namun, ia mengingatkan investor agar tidak terlalu optimistis karena hampir seluruh pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, sejak menjabat sejauh ini masih bernada hawkish atau cenderung mendukung kebijakan moneter yang ketat.
“Warsh berupaya mengendalikan harga konsumen dan alat terbaik yang dimiliki The Fed saat ini adalah menaikkan suku bunga,” ucap Weinand, dikutip CNBC International, Rabu (15/7).
Sebelumnya, Warsh memberikan kesaksian di hadapan Kongres AS pada Selasa. Dalam keterangannya, ia mengatakan lonjakan inflasi yang terjadi selama lima tahun terakhir diperkirakan segera "menjadi bagian dari masa lalu".
Di pasar komoditas, harga minyak melemah dari level tertingginya setelah Donald Trump membatalkan rencananya untuk mengenakan biaya sebesar 20% bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Kendati demikian, harga minyak tetap ditutup lebih tinggi setelah AS melancarkan serangan baru terhadap Iran.
Harga minyak mentah AS, yang sebelumnya sempat menembus US$ 80 per barel, ditutup naik 1,5% ke atas US$ 79 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent sebagai acuan internasional menguat 1,7% hingga berada di atas US$ 84 per barel.
Pergerakan tersebut terjadi setelah Trump pada Senin (13/7) menyatakan akan kembali memberlakukan blokade terhadap pelayaran Iran melalui Selat Hormuz.
Di sisi lain, saham Goldman Sachs memimpin kenaikan sektor perbankan dengan melonjak 9% setelah membukukan laba yang melampaui ekspektasi. JPMorgan Chase dan Bank of America, yang juga merilis laporan keuangan kuartal II, masing-masing mencatat kenaikan saham lebih dari 2% dan hampir 2%.




