Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah dibuka menguat pada level Rp18.065 terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa (14/7/2026).
Penguatan mata uang Garuda terjadi seiring dengan melemahnya greenback setelah rilis data inflasi AS yang lebih rendah dari ekspektasi pasar.
Berdasarkan data analisis Doo Financial Futures pada pukul 09.05 WIB rupiah dibuka menguat tipis sebesar 0,14% ke level Rp18.065.
Selain rupiah terhadap dolar AS, penguatan terjadi terhadap mayoritas mata uang Asia lainnya. Penguatan terbesar terhadap dolar AS terjadi untuk ringgit Malaysia yang terapresiasi sebesar 0,27%, diikuti yen Jepang menguat sebesar 0,10%.
Selanjutnya, yuan China, peso Filipina, dan dolar Taiwan terhadap dolar AS sama-sama naik sebesar 0,09%, dolar Singapura menguat 0,07%.
Sebaliknya, rupee India justru mencatatkan pelemahan terdalam sebesar 0,61%, won Korea melemah terhadap dolar AS sebesar 0,09%, dan baht Thailand melemah 0,08%.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong memproyeksikan rupiah mampu menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (15/7), seiring melemahnya mata uang Negeri Paman Sam setelah rilis data inflasi AS yang lebih rendah dari ekspektasi pasar.
Perlambatan inflasi AS memicu penurunan ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga Federal Reserve (The Fed), sehingga memberikan tekanan pada indeks dolar AS dan membuka ruang penguatan bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah.
"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang melemah cukup besar setelah data inflasi AS lebih rendah dari harapan. Hal ini memicu menurunnya ekspektasi terhadap suku bunga The Fed," ujar Lukman, Rabu (15/7).
Selain faktor inflasi, Lukman menilai pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang cenderung less hawkish turut memberikan sentimen positif bagi pasar. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pelemahan dolar AS lebih banyak dipicu oleh data inflasi dibandingkan komentar pejabat bank sentral tersebut.
"Pernyataan Kepala The Fed Kevin Warsh memang cenderung less hawkish. Namun, data inflasi semalam merupakan faktor utama yang menekan dolar AS," katanya.
Kendati demikian, ruang penguatan rupiah diperkirakan tidak akan terlalu besar. Pasalnya, harga minyak mentah dunia masih bertahan di level tinggi akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi tersebut berpotensi menahan penguatan mata uang negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia.
Tingginya harga minyak dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi domestik serta memperlebar kebutuhan devisa untuk impor energi, sehingga membatasi apresiasi rupiah.
Untuk perdagangan hari ini, Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran Rp18.000-Rp18.150 per dolar AS, dengan kecenderungan menguat selama tekanan terhadap dolar AS masih berlanjut.





