jpnn.com, JAKARTA - Tokoh pemuda sekaligus politisi asal Kabupaten Mimika, Alfian Akbar Balyanan resmi meluncurkan karya intelektualnya berjudul ‘Menuju Timika yang Menyala’.
Peluncuran itu menjadi arena diskursus publik untuk membedah arah baru pembangunan dan implementasi Otonomi Khusus (Otsus) Papua.
BACA JUGA: Terima Buku Anotasi KUHAP, Adian: Kepastian Hukum Kebutuhan Utama Masyarakat
Acara peluncuran tersebut dirangkai dengan diskusi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, memperkuat relevansi buku ini dalam diskursus kebijakan publik.
Alfian Akbar mengungkapkan karya tersebut bukan produk pemikiran instan.
BACA JUGA: MPSI Ajak Pemuda Papua Kawal Otsus, Lawan Hoaks, dan Perkuat Perdamaian
Buku tersebut merupakan manifestasi dari rekam jejak dan konsistensinya dalam mengawal narasi pembangunan Papua yang telah ia catat sejak 2018.
“Akhirnya hari ini kita dapat meluncurkan Menuju Timika Yang Menyala,” kata Alfian.
BACA JUGA: Ribka Haluk Bantah Pemotongan Dana Otsus Papua, Begini Faktanya
Karya itu disebut lahir dari pembacaan analitis terhadap ketimpangan pembangunan, tantangan ekonomi makro, serta persoalan kemanusiaan di wilayah tersebut.
Alfian menyoroti secara spesifik bahwa afirmasi negara melalui Otsus Papua masih membutuhkan evaluasi agar kesejahteraan dapat terdistribusi merata.
“Papua hari ini berada di persimpangan jalan. Negara telah memberikan landasan melalui Otonomi Khusus sebagai instrumen afirmasi dan pemberdayaan,” kata dia.
“Namun, setelah lebih dari dua dekade, kita masih melihat berbagai persoalan struktural yang harus diselesaikan bersama,” lanjutnya.
6 Isu Strategis dalam Buku ‘Menuju Timika yang Menyala’
Sebagai literatur dengan pendekatan akademis, buku ini dirancang untuk menjadi referensi bagi para pengambil kebijakan, birokrat, dan masyarakat luas.
Terdapat enam pilar analisis utama yang dibedah oleh Alfian Akbar, meliputi:
- Politik Hukum Otonomi Khusus: Evaluasi regulasi dan dampak afirmasi Otsus.
- Reformasi Birokrasi: Mendorong tata kelola pemerintahan daerah yang transparan.
- Pelayanan Bantuan Hukum: Akses keadilan bagi masyarakat akar rumput.
- Konsolidasi Demokrasi: Kematangan politik lokal di Mimika.
- Penyelesaian Sengketa Wilayah: Solusi berbasis hukum dan sosiologis.
- Strategi Pemekaran Daerah: Dampak desentralisasi terhadap pertumbuhan ekonomi.
Lebih dari sekadar kajian akademis, Alfian Akbar memposisikan buku tersebut sebagai katalisator gerakan bagi generasi muda untuk tidak sekadar menjadi penonton dalam transisi ekonomi dan politik di Papua.
“Ini adalah ajakan untuk menghidupkan kembali semangat yang menyala-nyala dalam membangun daerah. Dari Mimika, kita ingin menunjukkan bahwa Papua siap berkarya dan memberi kontribusi nyata bagi Indonesia,” jelas Alfian.
Buku ini diharapkan menjadi pijakan baru bagi kolaborasi lintas sektor pemerintah, akademisi, dan pemuda dalam merumuskan cetak biru pembangunan Mimika yang inklusif, adil, dan berkelanjutan. (dit/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Urgensi Perpanjangan Otsus Aceh Dalam Perspektif Keadilan dan Persatuan
Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Ryana Aryadita Umasugi




