Grid.ID- Seorang dokter PPDS di Riau ditemukan meninggal dunia di semak-semak. Dia diketahui baru sepekan bertugas di RSUD Siak.
Seorang dokter Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Residen Anestesi bernama Alex Cristo Loris ditemukan tewas di semak belukar samping pagar RSUD Tengku Rafian Siak, Kabupaten Siak, Riau. Sebelumnya, Alex terakhir kali terlihat meninggalkan lingkungan rumah sakit pada Senin (13/7/2026) petang.
Alex diketahui tinggal di mess RSUD Tengku Rafian selama menjalani program pendidikannya itu. Kasat Reskrim Polres Siak AKP Raja Kosmos P mengatakan bahwa berdasarkan rekaman CCTV, Alex keluar dari area RSUD pada pukul 18.06 WIB.
“Berdasarkan rekaman CCTV, korban keluar dari rumah sakit pada pukul 18.06 WIB. Sejak malam itu korban sudah dicari karena handphone-nya tidak aktif,” kata Raja, dilansir dari Kompas.com.
Sebelumnya ditemukan meninggal dunia, Alex dilaporkan tidak bisa dihubungi sejak Senin (13/7/2026). Sekitar pukul 17.30 WIB, Istrinya, dr. YM (31) yang tinggal bersama Alex di asrama RSUD Tengku Rafian Siak disebut berulang kali mencoba menghubungi telepon genggam suaminya, namun tidak aktif.
Kekhawatiran ini lalu mendorong YM untuk mencari suaminya ke sejumlah ruangan di sekitar rumah sakit. Selain itu, dia juga bertanya kepada rekan-rekan sejawat, tetapi tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaan dokter Alex.
Pencarian berlangsung dengan memeriksa rekaman CCTV yang dipasang di lingkungan rumah sakit. Dalam rekaman itu, terlihat Alex yang berjalan seorang diri keluar dari area rumah sakit melalui pintu depan Pos Security II kemudian bergerak menuju luar kompleks RSUD.
Pada Selasa (14/7/2026) sekitar pukul 11.30 WIB saat dua petugas kemananan dan seorang sopir ambulans mulai menyisir semak belukar di luar pagar rumah sakit. Salah seorang petugas memanjat pagar pembatas dan melihat tubuh Alex terbaring di antara semak semak dalam posisi terlentang serta sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Penemuan ini kemudian langsung dilaporkan ke Bhabinkamtibmas sebelum diteruskan ke Satuan Reserse Kriminal Polres Siak. Petugas kepolisian lalu datang dan melakukan oleh tempat kejadian perkara serta mengevakuasi jenazah Alex bersama personel TNI.
Berdasarkan pemeriksaan awal di lokasi kejadian, polisi tak menemukan adanya barang-barang milik korban yang hilang. Telepon genggam dan barang lainnya seperti headset, ampul, dan alat suntik masih tersimpan di dalam tas milik Alex.
“Barang-barang milik korban tidak ada yang hilang. Handphone ada di dalam tas, kemudian peralatan pribadi termasuk headset, dan juga ditemukan ampul serta suntikan,” ujarnya.
Adapun, polisi kemudian mengamankan barang-barang tersebut, namun masih belum bisa menjelaskan terkait dengan ampul dan alat suntik yang ditemukan dengan penyebab kematian korban. Seluruh temuan itu diketahui masih akan diperiksa kembali bersama hasil pemeriksaan medis forensik.
Selain itu, polisi juga mengatakan bahwa tidak ada tanda-tanda kekerasan di tubuh korban. Meski begitu, mereka masih belum bisa menyimpulkan penyebab kematian dan jenazah dari Alez kini sudah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk menjalani autopsi.
“Hingga saat ini penyebab kematian masih dalam penyelidikan dan kami masih menunggu hasil autopsi dari Rumah Sakit Bhayangkara,” tutur Raja.
Melansir dari Tribun-Medan.com, selain autopsi, polisi juga masih mendalami kemungkinan adanya riwayat penyakit yang dimiliki korban dengan meminta keterangan dari pihak keluarga maupun rumah sakit. Petugas juga turut memeriksa sejumlah saksi yang mengetahui aktivitas terakhir dari dokter Alex.
Dalam insiden dokter PPDS di Riau ditemukan meninggal dunia ini, Alex ternyata baru satu pekan berada di Siak untuk menjalani penugasan medisnya itu. Korban sendiri tercatat sebagai warga Jalan Air Kabur Atas, Kelurahan Wailola, Kecamatan Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku.
Usai penemuan jenzah Alex, sang istri yaitu YM yang juga berprofesi sebagai dokter menangis histeris hadapan jasad suaminya ambil terus memanggil korban. Sejumlah petugas dan warga di sekitar lokasi kemudian berusaha untuk menenangkan perempuan tersebut.
“Sayang… ayo kita pulang,” kata sang istri. Kalimat itu diucapkannya berulang kali. (*)
Artikel Asli



