Grid.ID - Rumah keluarga Bupati Sukaharjo Etik Suryani di Solo dan Wonogiri ramai jadi sorotan. Pasalnya kedua rumah itu diduga dijadikan tempat penyimpan harta hasil perasan Rp 21,2 Miliar.
Hal ini pun mencuat usai penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terkait dugaan pemerasan terhadap organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sukoharjo.
Etik Suryani sendiri terjaring OTT pada Kamis (9/7/2026) hingga Jumat (10/7/2026). Dimana KPK juga telah menetapkan Etik sebagai tersangka.
Usai penangkapan, salah satu lokasi yang digeledah KPK yakni di rumah orangtua Etik Suryani di Solo.
Yakni tepatnya di Kampung Jagalan, Kelurahan Bumi, Kecamatan Laweyan, Kota Solo.
Di lokasi tersebut tampak rumah berlantai dua di dalam sebuah gang dengan tembok berwarna merah dan dihiasi pagar besi berwarna hitam. Salah seorang warga sekitar juga membenarkan bahwa rumah itu kediaman dari orangtua Etik Suryani.
"Iya benar di situ rumahnya," kata warga dikutip Grid.ID dari TribunSolo.com, Rabu (15/7/2026).
Warga sekitar sendiri juga mengaku sempat terkejut saat ada ramai-ramai dan mulai beredar video Etik tertangkap KPK.
"Iya lumayan kaget, kondisinya malam ada rame-rame sempat liat terus balik lagi ke rumah.
Terus muncul di berita-berita. Ia memang beliau asli sini orangtuanya. Ditempati rayi (adik)-nya," imbuh sang warga.
Sementara itu, rumah keluarga Bupati Sukaharjo, Etik Suryani yang berada di Wonogiri juga tak selamat dari mata elang KPK. Di sana, menurut Plt Direktur Penyidikan (Dirdik) KPK, Achmad Taufik mengatakan, Etik berupaya menyembunyikan harta hasil pemerasan anak buahnya dalam sebuah rumah rahasia atau safe house.
Di dua rumah itu, Etik menyimpan uang tunai serta emas batangan yang nilainya mencapai Rp21,2 miliar.
"Terkonfirmasi betul itu dipakai oleh tersangka sebagai penyimpanan barang bukti di beberapa tempat yang sempat didatangi oleh tim di lapangan. Jadi semacam, ya bisa dikatakan safe house lah," kata Taufik dikutip dari Tribunnews.com.
Rumah tersebu juga tidak sembarangan bisa diakses oleh orang. Dan hanya orang-orang kepercayaan sang bupati yang bisa mengaksesnya.
"Jadi, semacam ya bisa dikatakan safe house lah. Dan itu juga orang-orang kepercayaannya bupati saja yang bisa mengakses ke tempat-tempat itu," tandas Taufik. (*)
Artikel Asli




