JAKARTA, KOMPAS.com - Pengirim pesan teror bom ke SDN Srengseng Sawah 15, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Maulana Yusuf alias Alan (34), diduga terlilit utang pinjaman online (pinjol).
Ketua RT setempat mengungkapkan, Alan bahkan beberapa kali melaporkan kedatangan debt collector ke lingkungan tempat tinggalnya karena merasa terganggu dengan aktivitas penagihan.
Baca juga: Peneror Bom di SDN Srengseng Sawah 15 Ternyata Ayah Siswa Baru
Ketua RT setempat, Anton Sianipar, mengatakan dugaan tersebut terungkap setelah dirinya mendapat teguran dari Kelurahan Srengseng Sawah terkait adanya laporan melalui aplikasi JAKI mengenai maraknya aktivitas penagih pinjaman online di wilayahnya.
“Jadi ada laporan ke JAKI terkait maraknya pinjol di lingkungan RT saya. Sehingga dari pihak kelurahan menegur saya untuk memberantas itu,” ungkap Anton saat ditemui di lokasi, Rabu (15/7/2026).
Setelah kasus teror bom terungkap, Anton bersama warga menelusuri laporan tersebut.
Baca juga: Mendikdasmen Pastikan Tak Ada Anak Terdampak Teror di SDN Srengseng Sawah 15 Jakarta
Hasilnya, mereka mendapati bahwa pelapor diduga adalah Alan sendiri.
“Setelah kejadian ini kami telusuri ternyata yang melakukan laporan JAKI terkait pinjol ya dia sendiri. Karena dia banyak terjerat pinjol,” ujar Anton.
Menurut Anton, Alan diduga merasa risih karena kerap didatangi penagih utang di rumahnya.
Selain pinjaman online, Alan juga disebut beberapa kali meminjam uang melalui koperasi simpan pinjam atau yang dikenal warga sebagai "bank keliling".
Baca juga: Mengaku Beraksi karena Iseng, Kini Peneror SDN Srengseng Sawah 15 Jadi Tersangka
Anton mengatakan, berdasarkan informasi yang diperoleh dari warga, Alan memang mengalami kesulitan ekonomi karena tidak memiliki pekerjaan tetap.
Sehari-hari, Alan hanya membantu ayahnya yang bekerja sebagai teknisi servis AC apabila ada panggilan pekerjaan.
Anton juga mengaku teringat dengan kasus teror bom yang pernah terjadi di lingkungan tersebut beberapa tahun lalu.
Saat itu, polisi sempat mendatangi salah satu rumah warga setelah menerima laporan ancaman bom, tetapi tidak menemukan benda mencurigakan.
Baca juga: Teror di Hari Pertama Sekolah: Ancaman Bom Batalkan MPLS di SDN Srengseng Sawah 15
“Kalau teror bom itu berapa tahun yang lalu di salah satu rumah warga saya sempat ada teror bom juga sih,” kata Anton.
Setelah mencocokkan nomor telepon yang digunakan dalam kasus teror bom di SDN Srengseng Sawah 15, Anton menduga nomor tersebut sama dengan yang pernah digunakan untuk meneror warga.





