Di Antara Orderan dan Ayat Suci, Kisah Majelis Ojol Mengaji di Yogyakarta

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Sejumlah pengemudi ojek online (ojol) berduyun-duyun datang ke sebuah rumah di Jalan Bausasran, Pakualaman, Kota Yogyakarta, Rabu (15/7).

Mereka datang masih mengenakan "jaket tempur", mulai dari yang berwarna hijau hingga oranye. Usai memarkirkan motor, para ojol kemudian masuk ke ruang tengah rumah tersebut.

Di dalam rumah, mereka mengambil kartu bimbingan, lalu duduk mengantre menunggu giliran mengaji.

Selama tiga tahun terakhir, setiap hari Rabu menjadi agenda rutin Majelis Ojol Mengaji (Momen) di Rumah Quran Bausasran. Para ojol mendapat bimbingan mengaji secara gratis mulai pukul 09.00 hingga 11.00 WIB. Mereka juga mendapatkan makan siang.

Salah satu peserta yang paling lama bergabung di Majelis Ojol Mengaji adalah Edi Sutanto (47). Ia telah mengikuti kegiatan ini sekitar dua hingga tiga tahun.

"Alhamdulillah setelah bergabung di sini kita ketemu teman-teman yang luar biasa, yang tadinya cuma saling sapa di jalan, alhamdulillah sekarang bisa gabung ngaji bareng di Majelis Ojol Mengaji," kata Edi.

Edi mengatakan, saat pertama kali bergabung dirinya masih terbata-bata membaca Al-Quran. Di majelis tersebut, ia kembali belajar mengaji dari tingkat Iqra.

"Secara bertahap alhamdulillah sekarang udah ke Al-Quran," kata Edi yang sudah mengaji Al-Quran sebanyak 4 juz ini.

Tidak Malu Belajar Mengaji di Usia Tua

Edi mengatakan majelis ini menjadi jawaban bagi dirinya dan rekan-rekan sesama ojol yang belum lancar mengaji di usia dewasa. Di tempat ini mereka tidak perlu minder atau malu karena harus belajar bersama anak-anak maupun remaja.

"Seusia yang di atas saya, misal ngaji di masjid terdekat kan pasti malu. Karena apa? Yang ada anak TK, SD, SMP udah Quran, masa kita yang sepuh mulai Iqra kan akhirnya malu. Nah, akhirnya ketemu di Momen itu luar biasa. Jadi malunya hilang lah," katanya.

Selain itu, jadwal mengaji pada pagi hari dinilai sesuai dengan aktivitas para ojol. Pada pagi hari, pesanan biasanya masih sepi sehingga mereka dapat mengikuti kegiatan belajar tanpa mengganggu pekerjaan.

"Sharing-sharing dengan beberapa teman memang akhirat memang harus dikejar lah ya toh. Jangan sampai cuma dunia karena kita tahu akhirat itu ada kan," katanya.

"Ya ini alhamdulillah kalau pas kompak penuh ini. Kalau pas bareng-bareng ya bisa 30-an, 25 sampai 30 (ojol)," pungkasnya.

Sementara itu, salah satu peserta lainnya, Cak Weng, mengatakan mereka juga berencana membuat gerakan bersih-bersih masjid bersama rekan-rekan sesama ojol.

"Iya rencananya kalau malam," kata Cak Weng.

Berawal dari Kegelisahan

PIC Majelis Ojol Mengaji, Muh Sugiarto, mengatakan kegiatan tersebut lahir dari kegelisahan para pengemudi ojol yang ingin belajar mengaji, tetapi merasa sungkan jika harus belajar di masjid atau lingkungan tempat tinggalnya.

"Sebab, di situ juga mungkin ada anaknya, ada cucunya yang masih TPA juga. Sedangkan bapak-bapak ini yang usianya sudah senior bahkan kebanyakan masih banyak yang terbata-bata ya belum lancar membaca Al-Quran makanya melihat kebutuhan rekan-rekan itu kita buat satu kegiatan yang diinisiasi kurang lebih tiga tahun yang lalu ya," kata Sugiarto.

Sugiarto mengatakan banyak peserta memulai belajar dari tingkat Iqra. Selama tiga tahun berjalan, tercatat ada sekitar 125 ojol yang mendaftar, sementara peserta yang rutin hadir setiap Rabu berkisar 20 hingga 30 orang.

Seiring berjalannya waktu, peserta tidak lagi hanya berasal dari kalangan ojol, tetapi juga masyarakat umum, terutama mereka yang telah berusia lanjut.

"Usia termuda itu 27 tahun dan yang paling sepuh itu angkanya cantik. Jadi, 27 sampai 72 tahun tapi itu menurut form yang terdaftar ya. Mungkin untuk perjalanan waktu juga sudah bertambah umurnya tapi yang terdaftar tuh 27 sampai 72 tahun," katanya.

Sugiarto mengatakan para peserta mendapat pendampingan dari para ustaz. Nantinya, ustaz akan menentukan peserta memulai pembelajaran dari tingkat Iqra atau langsung Alquran.

"Di sini tim pengajar kita ada empat orang dan yang rutin mengajar itu rata-rata itu ustaz yang sudah juga punya majelis di luar ya. Artinya, memang jam terbangnya juga sudah cukup untuk untuk mendampingi peserta belajar. Walaupun kalau dilihat dari usia juga banyak yang masih muda dalam rentang mungkin 20-25 tahun itu sudah mendampingi kita belajar di sini," katanya.

Majelis ini berada di bawah naungan Mualaf Quran Center sehingga seluruh pendanaan berasal dari lembaga tersebut.

"Jadi, peserta datang yang ke sini full benar-benar gratis walaupun ada kalanya karena jemaah sudah merasa nyaman di sini itu secara inisiatif kadang-kadang bawa makanan atau buah-buahan gitu untuk dimakan bersama tapi untuk biaya semuanya gratis termasuk juga alat-alat untuk mengaji seperti Al-Quran dan Iqra sudah disediakan," katanya.

Bagi masyarakat yang ingin belajar mengaji, Sugiarto mengatakan calon peserta cukup datang dan mendaftar secara langsung.

Buka Dua Lokasi Baru

Untuk menjangkau para ojol yang berada di luar kawasan pusat kota, Sugiarto mengatakan pihaknya kini berkolaborasi dengan Yayasan Rumpun Nurani dan Yayasan Masjid Munzalan Mubarokan.

"Untuk Yayasan Rumpun Nurani itu mengelola satu kafe namanya Kafe Kolektif di Jalan Watu Gede, Monumen Jogja Kembali ke utara. Itu kita buka kolaborasi dengan dari Yayasan Rumpun Nurani itu menyediakan tempat dan juga ustaz gitu. Jadi, kita ngaji di musala tapi di dalam kafe gitu, itu tiap hari Sabtu," katanya.

"Lalu, hari Selasa kita berkolaborasi dengan Masjid Munzalan Mubarokan yang ada di Giwangan, itu ada juga surau di situ semacam masjid menyediakan ustaz dan tempat untuk mengaji kayak gitu. Jadi, itu di hari Selasa," katanya.

"Artinya kalau teman-teman ojol yang di area selatan belum tahu ada kegiatan di sini, bisa digandeng untuk merapat di Masjid Munzalan Mubarokan. Di sana juga ada Momen. Kita kasih nama Momen 3.0 di sana. Kalau yang di Kafe Kolektif itu Momen 2.0," katanya.

Ke depan, Sugiarto berencana membuka kelas serupa bagi pengemudi ojol perempuan yang ingin belajar mengaji.

"Dan sebenarnya ini kita sudah mulai apa ya mensosialisasikan bahwa ini tidak khusus untuk ojol. Jadi, ada beberapa bapak-bapak yang bukan ojol tapi pengin ikut ngaji. Jadi, kita terima juga, kita layani seperti itu," pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Saat Warga Cawang Rela Rumahnya Dibongkar Demi Atasi Banjir Jakarta
• 43 menit lalucnbcindonesia.com
thumb
Menteri PU Janjikan Umroh Gratis Jika Bisa Buktikan Aisyah Zakiyyah Keponakannya
• 5 jam laludisway.id
thumb
BMKG: 60,5% Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau, Hujan Makin Minim
• 9 jam laluokezone.com
thumb
Menjelang 110 Tahun Kelahiran Sumitro Djojohadikusumo, Jandi Mukianto Raih Doktor Ilmu Hukum ke-357 FHUI
• 2 jam lalujpnn.com
thumb
Rupiah Menguat ke Rp18.070 per Dolar AS pada Perdagangan Rabu Pagi
• 10 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.