Bisnis.com, PADANG - Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara dari Polda Sumatra Barat tentang kasus bom rakitan yang diledakkan seorang siswa berinisial R (17) di lingkungan sekolah di madrasah aliyah negeri (MAN) 3 Padang, Kecamatan Koto Tangah, murni merupakan tindakan pribadi R dan tidak terafiliasi pada jaringan terorisme.
Kabid Humas Polda Sumbar Kombes Pol Susmelawati Rosya mengatakan bom rakitan yang dibuat R ini merupakan bom yang memiliki daya ledak rendah, sehingga di saat kejadian ledakan di samping ruang kelas tersebut, tidak menimbulkan dampak yang parah.
“Dari keterangan R, bom itu dibuatnya secara otodidak yakni mencari informasi di media sosial, dan kemudian hasil bom yang dirakitnya itu dibawa ke sekolah,” katanya, Rabu (15/7/2026).
Dia menjelaskan pada hari kejadian yakni Selasa (14/7) kemarin itu, terdapat 4 bom rakitan, 1 diantaranya meledak di sekolah, dan 3 lainnya itu masih utuh, karena disimpan di rumah R yang berada di Pasie Nan Tigo, Kecamatan Koto Tangah, Padang.
“Jadi setelah R ini kami amankan, tim Jibom (penjinak bom) Gegana Brimob Polda Sumbar melakukan disposal dari sisi bahan peledak yang berada di lokasi kejadian, dan dari sinilah kami menemukan 3 bom lainnya dalam kondisi telah dirakit atau belum diledakkan,” ujarnya.
Selanjutnya pihak kepolisian melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) secara gabungan, dan mendapatkan hasil terbaru yakni ada sekitar 19 item yang berkaitan dengan kejadian ledakan tersebut.
Baca Juga
- Kemenag Sumbar Siapkan Pendampingan Pasca Ledakan Bom Rakitan di MAN 3 Padang
- Gara-gara Perundungan, Siswa MAN 3 Padang Rakit Bom dan Ledakkan di Sekolah
- Polisi Tetapkan 1 Tersangka Ancaman Bom di SDN Srengseng Sawah 15
Oleh karena itu, Susmelawati menyatakan untuk informasi lebih lanjut, saat ini penyidik masih terus mendalami kasus tersebut, termasuk memeriksa penyebab pelaku nekat merakit hingga meledakkan bom rakitan di lingkungan sekolah.
“Tapi dari keterangan R ini, alasan dia nekat melakukan tindakan tersebut, karena sering mendapatkan perlakuan bullying dari teman-teman di sekolah,” jelasnya.
Kendati demikian, Susmelawati menegaskan mengingat R berstatus pelajar dan kini proses penyidik terus berjalan. Kemudian untuk pendidikan R masih jadi prioritas, sembari melakukan pendampingan terhadap R.
"R tetap sekolah, dan tentunya masih dalam pengawasan. Tapi tidak di MAN 3 Padang, namun sementara waktu dipindahkan ke MAN 2 Padang, sembari diberi pendampingan," tutupnya.
Didampingi Kemenag Sumbar
Kepala Kanwil Kemenag Sumbar Mustafa mengatakan meski di madrasah terlihat kondusif, perlu ada langkah-langkah pendampingan apabila terdapat siswa yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.
Kemenag Sumbar menyatakan kesiapan untuk memberikan pendampingan tersebut.
"Kami melihat kegiatan pembelajaran berjalan normal dan belum menemukan indikasi adanya siswa yang mengalami trauma akibat peristiwa tersebut. Tapi harus ada langkah lebih lanjut," ucap Mustafa, Selasa (14/7/2026).
Dia menyampaikan langkah-langkah pendampingan tersebut bisa dilakukan secara bertahap, yakni melalui kepala madrasah, guru, wali kelas, dan guru Bimbingan Konseling (BK).
Begitupun untuk siswa juga akan diberikan penguatan agar tetap tenang, tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi, serta tetap menjalani aktivitas belajar seperti biasa.
"Apabila dalam perkembangannya ditemukan siswa yang membutuhkan pendampingan psikososial, kami akan berkoordinasi dengan tenaga profesional, termasuk psikolog dan pihak terkait, untuk memberikan layanan trauma healing sesuai kebutuhan," katanya.
Mustafa menegaskan proses belajar mengajar di MAN 3 Kota Padang tetap berlangsung sebagaimana biasa.
Sebagai bagian dari upaya membangun kembali rasa aman dan nyaman di lingkungan madrasah. Kegiatan pada hari berikutnya akan diawali dengan senam bersama, outbound, serta pembinaan dari jajaran Polsek Koto Tangah.





