Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mengungkapkan sejumlah tantangan dalam menggarap sumur Migas Non Konvensional (MNK) di Indonesia, khususnya di Blok Rokan, Riau.
Beberapa tantangan itu di antaranya terkait penguasaan teknologi serta dukungan ekosistem industri yang saat ini belum tersedia di dalam negeri maupun kawasan regional Asia Tenggara.
Sebagai informasi, sumur MNK yang saat ini dikembangkan oleh PHR yakni Sumur Gulamo DET-1, Blok Rokan dan Sumur Kelok DET-1, Blok Rokan
Direktur Utama PHR Muhammad Arifin menjelaskan bahwa karakteristik MNK sangat berbeda dengan cadangan minyak konvensional yang selama ini dikelola oleh perusahaan. Menurutnya, pengembangan MNK membutuhkan tahapan yang kompleks serta dukungan global untuk membawa teknologi dan sumber daya manusia yang spesifik di bidang tersebut.
"Jadi MNK itu karena juga baru yang pertama kita sebagai pionir tantangan utamanya adalah ekosistem yang belum terbentuk di Indonesia. Sehingga karena ekosistemnya belum mendukung dan bahkan kalau kita lihat negara-negara tetangga pun Asia Tenggara belum ada gitu kita harus ke negara yang agak sedikit lebih jauh dan lebih maju untuk bisa bring in teknologi dan juga SDM," katanya dalam program Energy Corner CNBC Indonesia, dikutip Rabu (15/7/2026).
Arifin memaparkan bahwa tantangan utama dalam MNK adalah kondisi minyak yang terjebak di dalam bebatuan, sehingga tidak bisa mengalir secara otomatis saat dibor. Kondisi tersebut memaksa perusahaan untuk menerapkan teknologi multi-stage fracturing dan pengeboran terarah guna merekah reservoir agar minyak yang bersifat lengket tersebut bisa diangkat ke permukaan.
"Jauh berbeda dengan yang reservoir saat ini kita produksikan. Kenapa karena memang secara petroleum sistem lapangan MNK itu minyaknya terjebak di dalam batuan yang cukup sulit untuk kita angkat. Kita harus menerapkan teknologi yang biasa kita sebut multi-stage fracturing gitu," paparnya.
Selain kendala di bawah permukaan, pihaknya menghadapi tantangan lokasi pengeboran yang semakin sulit, mulai dari wilayah perairan dalam hingga area di tengah hutan.
Perusahaan saat ini menjadikan negara-negara yang sudah mapan dalam industri ini seperti China, Amerika Serikat, dan Kanada sebagai acuan utama dalam pengembangan ekosistem MNK nasional.
"Dan proses pengembangannya itu semakin ke sini semakin sulit. Ada yang sampai harus mengebor di perairan yang dalam, di tengah hutan. Insya Allah entering a new business di salah satu reservoir yang baru saja kita temukan yaitu kita sebut migas non konvensional," imbuhnya.
Hingga saat ini, PHR mencatat penemuan sumber daya MNK di sumur Gulamo dan Kelok dengan temuan kategori 2C mencapai hampir 740 juta barel setara minyak.
Angka tersebut tercatat sebagai salah satu temuan terbesar di lapangan minyak Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir yang diproyeksikan mampu berproduksi sampai 50.000 barel per hari (bph) saat masa puncaknya.
"Kita harapkan di bulan Juli ini kita mendapatkan persetujuan KBH sehingga insya Allah nanti di bulan Desember tahun 2026 ini kita lakukan pengeboran tajak sumur appraisal yang pertama. Kalau sekarang kita masih banyak menggunakan teknologi dari luar mudah-mudahan dengan terbentuknya ekosistem semua yang tadinya dari luar bisa di-develop dan dikembangkan di Indonesia," pungkas Arifin.
(wia) Add as a preferred
source on Google




