Jalan Berliku Koperasi Kelurahan di Tengah Rimba Minimarket Ibu Kota

liputan6.com
12 jam lalu
Cover Berita

Liputan6.com, Jakarta - Hampir setahun sejak diresmikan, Koperasi Kelurahan Merah Putih mulai menjalankan aktivitasnya di berbagai wilayah Jakarta. Namun, wajah koperasi di ibu kota ternyata tidak sama. Ada yang sudah memiliki ratusan anggota dan mampu menyediakan berbagai kebutuhan pokok, ada pula yang masih mengandalkan iuran anggota sebagai modal usaha.

Tim Liputan6.com mendatangi tiga Koperasi Kelurahan Merah Putih di Jakarta, yakni Pondok Kelapa di Jakarta Timur, Bangka di Jakarta Selatan, dan Melawai di Kebayoran Baru. Masing-masing memiliki cerita dan tantangan yang berbeda.

Advertisement

BACA JUGA: Kemenkop Sedang Menggodok Model Bisnis Khusus Koperasi Merah Putih di Perkotaan

Pagi itu, aktivitas di Koperasi Kelurahan Merah Putih Pondok Kelapa, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, baru saja dimulai. Seorang karyawan terlihat merapikan meja dan menyusun barang dagangan di etalase. Ketua koperasi sedang berada di Surabaya untuk mengikuti rapat kerja. Sementara yang menyambut kedatangan Liputan6.com adalah Tata, salah satu pengawas koperasi.

Lokasi koperasi berada tepat di samping Kantor Kelurahan Pondok Kelapa. Bangunan itu dulunya merupakan rumah dinas lurah yang kini difungsikan sebagai gerai Koperasi Kelurahan Merah Putih.

Menurut Tata, pembentukan koperasi diawali dengan sosialisasi yang melibatkan pemerintah kelurahan, Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK), tokoh masyarakat, hingga berbagai unsur warga lainnya.

"Jadi kami begitu ada wacana koperasi itu, kerja sama antara pemerintahan kelurahan, lalu ada FKDM, LMK, semuanya diundang. Lalu ada perwakilan-perwakilan kemasyarakatan, tokoh-tokoh masyarakat, dan kami mensosialisasikan apa yang dimaksud dengan pendirian koperasi Merah Putih itu berdasar undang-undang yang ada," kata Tata kepada Liputan6.com, Rabu (15/7/2026).

Setelah proses sosialisasi, pengurus koperasi dipilih melalui musyawarah bersama warga.

"Jadi pengurusnya juga enggak main tunjuk aja, tapi melalui rapat secara keseluruhan yang tadi itu, lalu menunjuk siapa nih pengurusnya. Nah, disepakatilah waktu itu Pak Nur Effendi yang sampai sekarang."

Saat ini koperasi tersebut telah memiliki lebih dari 500 anggota. Setiap anggota menyetor simpanan pokok Rp 100 ribu dan simpanan wajib Rp 25 ribu. Dana itulah yang hingga kini menjadi modal utama koperasi menjalankan operasional.

Rak-rak di dalam gerai terlihat cukup lengkap. Beras, gula, minyak goreng, makanan ringan hingga makanan beku sudah tersedia. Meski begitu, Tata mengakui tantangan koperasi bukan lagi soal ketersediaan barang, melainkan bersaing dengan minimarket yang sudah lebih dulu menjamur di Jakarta.

"Cuma tantangannya lebih kepada konsep kita itu diminta untuk menyediakan barang itu lebih murah. Jakarta itu kan sebenarnya sudah penuh dengan pedagang seperti Alfamart segala macam. Tapi kami diminta paling tidak bisa setara harganya."

Menurut dia, hingga kini koperasi juga masih mengandalkan modal dari anggota karena belum memperoleh dukungan pembiayaan dari pemerintah.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Koperasi Kelurahan Merah Putih Bangka, Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Lokasinya juga memanfaatkan bekas rumah dinas lurah. Suasananya lebih sederhana dibanding Pondok Kelapa. Barang dagangan yang dipajang pun belum sebanyak koperasi sebelumnya.

 

 

Salah satu bagian rak Koperasi Kelurahan Merah Putih di Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. (Liputan6/Devira Prastiwi)

Hafiz, salah satu pengurus koperasi, mengatakan koperasi tersebut kini memiliki sekitar 225 anggota. Sebagian besar berasal dari unsur RT, RW, PPSU, PKK, Jumantik, hingga Dasawisma.

Menurut Hafiz, pertanyaan yang paling sering dia terima dari warga justru bukan soal sembako, melainkan pinjaman.

"Kebanyakan memang ketika kita masuk ke arisan RT, warga nanyanya 'ada pinjaman enggak sih?'."

Namun hingga kini koperasi belum membuka layanan pinjaman.

"Kalau di kita sendiri emang enggak ada pinjaman, kita cuma muter dana anggota buat dagang sembako aja."

Modal usaha berasal dari simpanan pokok Rp150 ribu dan simpanan wajib Rp20 ribu setiap bulan.

"Kalau enggak dari dana anggota kita enggak bisa bergerak," ujar Hafiz.

Produk yang paling banyak dicari warga adalah Minyakita. Sesekali koperasi juga menggelar bazar dengan menjual paket sembako berisi beras, gula, kopi, teh, dan mi instan.

Menurut Hafiz, koperasi sebenarnya ingin berkembang lebih cepat. Namun syarat untuk memperoleh bantuan pemerintah belum bisa dipenuhi.

"Karena kalau nungguin pemerintah itu syaratnya berat. Waktu itu di bulan November diminta cari lahan 1.000 meter. Nah itu kita enggak punya. Makanya kita enggak dapet yang dibangunin gerai."


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Diterjang Gelombang, 2 Turis Tiongkok Tewas Tenggelam saat Snorkeling di Labuan Bajo | KOMPAS SIANG
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
Mantan Kolega Ungkap Sifat Bekas Ketua Ombudsman Hery Susanto: Arogan dan Suka Intervensi
• 2 jam lalukompas.id
thumb
Elma Theana Terjun Jadi Produser Film Anak-anak Bambu, Berawal dari Kepedulian pada Anak Yatim
• 11 jam lalugrid.id
thumb
Wacana SPP SMA/SMK Negeri di Jabar Diaktifkan Lagi, Dedi Mulyadi Tak Mau Gegabah
• 17 jam lalujpnn.com
thumb
Kabel Semrawut di Jalan Raya Bogor-Jakarta Mulai Ditata
• 21 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.