Daftar Lengkap 51 Saham Terkonsentrasi Masuk HSC, Apa Dampak ke Transaksi Bursa?

katadata.co.id
15 jam lalu
Cover Berita

Bursa Efek Indonesia (BEI) menambah jumlah saham yang masuk kategori high shareholding concentration (HSC) dari semula 14 menjadi 51 emiten setelah memperbarui metodologi penilaiannya. Penambahan tersebut membuat sejumlah saham berkapitalisasi besar, seperti Barito Renewables Energy (BREN), DCI Indonesia (DCII), Bayan Resources (BYAN), Bank Permata (BNLI), Allo Bank Indonesia (BBHI), hingga Dian Swastatika Sentosa (DSSA) masuk dalam daftar saham berkepemilikan terkonsentrasi.

Masuknya 51 emiten ke dalam daftar HSC diperkirakan akan menjadi pertimbangan baru bagi investor dalam mengukur risiko investasi. Kendati demikian, analis menilai status HSC tidak serta-merta menunjukkan suatu saham bermasalah atau tidak layak dikoleksi.

HSC merupakan daftar emiten yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh sedikit pemegang saham atau kelompok afiliasi. Daftar tersebut diterbitkan BEI untuk meningkatkan transparansi pasar, meminimalkan potensi praktik spekulatif, sekaligus memenuhi standar investor global.

Dalam metodologi terbaru, BEI menambahkan indikator price impact ratio untuk saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun. Melalui indikator tersebut, bursa akan menyaring saham yang memiliki pengaruh perubahan harga tinggi terhadap aktivitas transaksi untuk mengidentifikasi potensi masuk kategori HSC.

Adapun 51 saham yang kini masuk daftar HSC antara lain: 

No.Kode EmitenPerusahaanTerkonsentrasi (%)1AGIIPT Samator Indo Gas Tbk97,75%2ALIIPT Ancara Logistics Indonesia Tbk97,62%3BBHIPT Allo Bank Indonesia Tbk92,71%4BBSIPT Krom Bank Indonesia Tbk99,95%5BELIPT Global Digital Niaga Tbk93,83%6BINAPT Bank Ina Perdana Tbk94,79%7BNIIPT Bank Maybank Indonesia Tbk99,14%8BNLIPT Bank Permata Tbk99,92%9*BRENPT Barito Renewables Energy Tbk97,31%10BTPNPT Bank SMBC Indonesia Tbk99,78%11BYANPT Bayan Resources Tbk98,50%12CMNPPT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk96,64%13CMNTPT Cemindo Gemilang Tbk99,41%14DCIIPT DCI Indonesia Tbk99,96%15*DGWGPT Delta Giri Wacana Tbk97,35%16DNETPT Indoritel Makmur Internasional Tbk98,06%17*DSSAPT Dian Swastatika Sentosa Tbk95,76%18ELPIPT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk98,90%19FAPAPT FAP Agri Tbk99,77%20FILMPT MD Entertainment Tbk92,98%21FITTPT Hotel Fitra International Tbk95,00%22GEMSPT Golden Energy Mines Tbk99,24%23*HATMPT Habco Trans Maritima Tbk96,09%24IFSHPT Ifishdeco Tbk99,77%25KINGPT Hoffmen Cleanindo Tbk98,40%26KONIPT Perdana Bangun Pusaka Tbk95,08%27LIFEPT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk99,21%28MCOLPT Prima Andalan Mandiri Tbk98,62%29MEGAPT Bank Mega Tbk95,68%30*MGLVPT Panca Anugrah Wisesa Tbk95,94%31*MGROPT Mahkota Group Tbk93,76%32MKPIPT Metropolitan Kentjana Tbk97,02%33MLPTPT Multipolar Technology Tbk99,42%34MORAPT Ekamas Mora Republik Tbk95,65%35MPROPT Maha Properti Indonesia Tbk99,99%36PGUNPT Pradiksi Gunatama Tbk99,95%37POLUPT Golden Flower Tbk99,94%38PRAYPT Famon Awal Bros Sedaya Tbk99,84%39RISEPT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk98,03%40*RLCOPT Abadi Lestari Indonesia Tbk95,35%41*ROCKPT Rockfields Properti Indonesia99,85%42SATUPT Kota Satu Properti Tbk94,27%43SILOPT Siloam International Hospitals Tbk96,70%44SMARPT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk99,58%45SOHOPT Soho Global Health Tbk99,93%46*SOTSPT Satria Mega Kencana Tbk98,35%47SRAJPT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk97,21%48STTPPT Siantar Top Tbk94,95%49*TCPIPT Transcoal Pacific Tbk94,10%50*WBSAPT BSA Logistics Indonesia Tbk95,82%51YUPIPT Yupi Indo Jelly Gum Tbk99,91%

*daftar HSC yang masuk sebelum 14 Juli 2026.

Apa Dampaknya bagi Investor?

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan price impact ratio dihitung dengan membandingkan perubahan harga saham terhadap velocity, yakni rasio rata-rata volume transaksi terhadap jumlah saham yang beredar di publik (free float).

"Dengan velocity yang rendah tetapi perubahan harga yang besar tentu akan menghasilkan price impact ratio tinggi. Atas saham-saham inilah kami akan melakukan screening terhadap potensi ada atau tidaknya HSC," kata Jeffrey dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (14/7).

Evaluasi menggunakan indikator baru tersebut akan dilakukan setiap tiga bulan terhadap seluruh saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun mengikuti jadwal evaluasi indeks utama BEI. Sementara mekanisme trigger factor tetap berlaku untuk seluruh saham dan dilakukan secara insidental.

Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan masuknya suatu saham ke dalam kategori HSC akan memengaruhi persepsi investor karena menunjukkan tingkat konsentrasi kepemilikan yang tinggi. Namun, status tersebut bukan berarti saham itu bermasalah atau tidak layak diinvestasikan.

"Namun, HSC bukan berarti saham tersebut bermasalah atau tidak layak diinvestasikan. Bagi investor yang mengedepankan manajemen risiko, kategori HSC akan menjadi salah satu pertimbangan dalam mengambil keputusan investasi, tetapi bukan satu-satunya faktor," kata Hendra.

Menurut Hendra, investor tetap harus memperhatikan fundamental perusahaan, prospek bisnis, valuasi, kualitas tata kelola, dan likuiditas perdagangan. Saham dengan fundamental kuat diperkirakan tetap diminati meski masuk daftar HSC, sedangkan saham dengan fundamental lemah berpotensi menghadapi tekanan sentimen yang lebih besar.

Ia juga menilai status HSC tidak otomatis membuat harga saham turun maupun naik. Dalam jangka pendek volatilitas memang dapat meningkat akibat penyesuaian portofolio investor, tetapi dalam jangka panjang arah harga tetap ditentukan oleh kinerja fundamental perusahaan.

Perkuat Kredibilitas Pasar Modal

Hendra menilai penyempurnaan metodologi HSC, termasuk penambahan indikator price impact ratio, merupakan langkah positif untuk meningkatkan transparansi dan kualitas pengawasan pasar modal. Menurutnya, kebijakan tersebut juga sejalan dengan masukan pengelola indeks global seperti MSCI dan S&P Dow Jones Indices (S&P DJI).

"Pengetatan kriteria HSC merupakan langkah positif yang memperkuat kredibilitas pasar modal Indonesia dan menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan daya saing pasar keuangan nasional di tingkat global," kata Hendra.

Analis Panin Sekuritas Cabang Pondok Indah Elandry Pratama juga menilai metodologi baru tersebut berpotensi meningkatkan transparansi pasar. Meski dapat memicu volatilitas dalam jangka pendek, kebijakan tersebut diyakini akan meningkatkan kepercayaan investor dalam jangka panjang.

"HSC sebaiknya menjadi salah satu indikator risiko, sementara keputusan investasi tetap mengacu pada fundamental dan valuasi emiten," ujar Elandry.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pembangunan Batch I IKN Rampung, OIKN Kini Fokus Bangun Gedung DPR-MA
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Kementerian Keuangan Kembali Raih Opini WTP ke-15 Berturut-turut, Perkuat Transparansi Pengelolaan APBN
• 20 jam lalupantau.com
thumb
Prabowo: Indonesia Terbuka bagi Investor, tetapi Tak Bisa Lagi Dipandang Sebelah Mata
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
Kemendag Bidik Potensi Perubahan Tarif Bea Masuk Arab Saudi bagi EKspor Indonesia
• 13 jam lalumedcom.id
thumb
Usulan KH Sholeh Darat Jadi Pahlawan Nasional Masuk Tahap Verifikasi Lapangan
• 23 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.