PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) mencatat kinerja negatif selama Januari-Juni 2026 dengan membukukan rugi bersih Rp1,92 triliun.
IDXChannel - PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) mencatat kinerja negatif selama Januari-Juni 2026. Perusahaan konstruksi pelat merah tersebut mengalami rugi besar dan tekanan arus kas akibat beban jasa konstruksi yang membengkak serta utang yang menumpuk.
Mengacu laporan keuangan unaudited yang diterbitkan Rabu (15/7/2026), pendapatan Waskita dalam enam bulan melesat 58 persen menjadi Rp4,92 triliun.
Namun, beban pokok pendapatan juga naik tajam sehingga laba kotor turun 24 persen menjadi Rp504 miliar. Alhasil, margin laba kotor menyusut dari 21,3 persen menjadi 10,2 persen.
Aneka beban yang ditanggung perseroan juga meningkat mulai dari beban penjualan (+11,6 persen) hingga beban umum dan administrasi (+7 persen). Meski kenaikan single digit, beban umum dan administrasi mencapai Rp730 miliar, terbesar di antara beban operasional.
Kondisi itu diperberat dengan beban keuangan yang mencapai Rp1,90 triliun. Waskita harus menanggung berbagai utang mulai utang bank yang mencapai Rp36 triliun hingga obligasi dan sukuk sebesar Rp9,2 triliun.
Dari sisi bottom line, rugi bersih Waskita mencapai Rp1,92 triliun, membaik dibandingkan semester I-2026 yang sebesar Rp2,31 triliun. Rugi per saham juga turun dari -Rp80,17 menjadi -Rp66,57.
Waskita juga mengalami tekanan arus kas (cashflow), tercermin dari arus kas dari aktivitas operasi yang minus Rp1,5 triliun, memburuk dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya negatif Rp1,26 triliun.
Hal ini disebabkan oleh tingginya pengeluaran kas kepada pemasok yang naik hampir dua kali lipat menjadi Rp4,68 triliun, seiring kenaikan pendapatan dan beban proyek, terutama bahan baku dan subkontraktor. Adapun pengeluaran untuk karyawan dan direksi relatif stagnan sebsar Rp403,8 miliar.
Sementara itu, posisi kas dan setara kas Waskita tercatat sebesar Rp2,61 triliun, turun 41 persen dibandingkan akhir 2025 yang sebesar Rp4,41 triliun. Di samping untuk membiayai operasional, penurunan kas juga disebabkan oleh pembayaran beban keuangan Rp723,55 miliar dan pokok utang bank sebesar Rp580,46 miliar.
Sebagai informasi, Waskita terus melakukan divestasi aset untuk memperbaiki arus kas di tengah keputusan pemerintah mencabut rencana Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp3 triliun. Baru-baru ini, perseroan melepas ruas tol Cimanggis-Cibitung sekitar Rp3,28 triliun.
Selain itu, perseroan juga tengah menanti proses merger BUMN Karya yang tengah dimatangkan oleh pemegang saham pengendali, Danantara Asset Management. Aksi korporasi ini ditargetkan tuntas pada akhir 2026.
(Rahmat Fiansyah)





