Mikroplastik Sudah Mencemari Laut Dalam, Bahkan di Ekosistem Paling Terpencil

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS - Polusi plastik tidak lagi hanya menjadi persoalan pantai yang dipenuhi sampah atau penyu yang terlilit kantong plastik. Krisis ini telah menjangkau bagian terdalam lautan, setidaknya di kedalaman hingga 2.000 meter.

Setiap tahun diperkirakan sekitar 11 juta ton sampah plastik mengalir ke laut dunia. Seiring waktu, plastik berukuran besar terpecah menjadi mikroplastik, partikel berukuran kurang dari lima milimeter. Partikel ini kemudian terbawa arus laut hingga ribuan kilometer, mencemari berbagai ekosistem dan memasuki rantai makanan.

Namun, sebagian besar penelitian selama ini hanya berfokus pada wilayah pesisir atau permukaan laut. Padahal hampir 90 persen ruang hidup di lautan berada di laut dalam, kawasan yang selama ini dianggap jauh dari pengaruh aktivitas manusia. Salah satu lingkungan paling unik di laut dalam adalah lubang hidrotermal (hydrothermal vents), tempat keluarnya air panas kaya mineral dari dasar laut yang mampu menopang kehidupan tanpa bantuan sinar matahari.

Penelitian terbaru yang dipimpin Se-Joo Kim dan Jinyoung Jeong dari Korea Research Institute of Bioscience and Biotechnology (KRIBB) bersama Korea Institute of Ocean Science and Technology (KIOST) di jurnal Water Research yang diakses pada Kamis (16/7/2026), mengungkap tentang cemaran mikroplastik di lubang hidrotermal ini.

Dalam penelitian yang disebut sebagai studi komparatif ini, para peneliti meneliti siput dan kerang laut dalam yang hidup di sekitar lubang hidrotermal lebih dari 2.000 meter di bawah permukaan laut. Sampel dikumpulkan dari dua lokasi berbeda, yakni Cekungan Fiji Utara di Samudra Pasifik barat daya dan Punggungan India Tengah di Samudra Hindia.

Hasilnya, sebanyak 92 persen hewan yang diperiksa mengandung mikroplastik, dengan rata-rata 3,42 partikel pada setiap individu. Temuan ini menunjukkan bahwa ekosistem laut dalam yang selama ini dianggap paling terisolasi di Bumi pun tidak luput dari pencemaran plastik.

Baca JugaMikroplastik Ditemukan di Hampir Semua Sampel Otak Manusia

"Pencemaran plastik kini telah menyebar bahkan ke ekosistem lubang hidrotermal laut dalam yang sebelumnya dianggap sebagai salah satu lingkungan paling terisolasi di Bumi. Temuan kami memberikan bukti ilmiah penting untuk membangun sistem pemantauan lingkungan laut dalam dan kebijakan konservasi di masa depan," kata Se-Joo Kim, dalam keterangan tertulis.

Jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan adalah polistirena. Produk tersebut merupakan bahan yang umum digunakan untuk kemasan makanan, styrofoam, dan berbagai produk konsumsi sehari-hari.

Penelitian juga mengungkap bahwa cara hewan memperoleh makanan memengaruhi pola akumulasi mikroplastik di dalam tubuhnya. Pada siput laut dalam yang merumput di permukaan dasar laut dengan memakan lapisan mikroba, mikroplastik terutama terkumpul di organ pencernaan.

Sebaliknya, pada kerang penyaring (filter feeder), partikel plastik tersebar relatif merata di seluruh jaringan tubuh. Hal ini menunjukkan bahwa karakter biologis setiap spesies menentukan bagaimana mikroplastik masuk dan terakumulasi di dalam organisme.

Perbedaan juga terlihat jelas antara kedua lokasi penelitian. Hewan yang berasal dari Samudra Hindia mengandung mikroplastik jauh lebih tinggi dibandingkan spesimen dari Pasifik barat daya. Setelah disesuaikan dengan berat tubuh, konsentrasinya bahkan mencapai 14,7 kali lebih tinggi.

Baca JugaMikroplastik Ancaman bagi Tubuh dan Lingkungan

Menurut para peneliti, perbedaan tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh tingkat aktivitas manusia di kawasan sekitarnya, besarnya aliran sampah plastik dari sungai menuju laut, serta pola sirkulasi arus laut berskala global yang mengangkut mikroplastik ke berbagai wilayah samudra.

Temuan ini menjadi bukti ilmiah bahwa plastik yang dibuang manusia di daratan maupun permukaan laut tidak berhenti di sana. Partikel-partikel kecil itu mampu tenggelam dan berpindah hingga ribuan meter ke dasar laut, mencapai salah satu ekosistem paling ekstrem di planet in

Arus bawah laut

Penelitian sebelumnya telah mengungkap kemungkinan penyebab adanya cemaran mikroplastik hingga laut dalam. Temuan yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Science and Technology pada April 2025 lalu menunjukkan, arus bawah laut yang bergerak cepat, yang dikenal sebagai arus turbiditas, bertanggung jawab atas pengangkutan sejumlah besar mikroplastik ke laut dalam.

Temuan menunjukkan bahwa arus kuat ini mampu bergerak dengan kecepatan hingga delapan meter per detik, membawa sampah plastik dari landas kontinen ke kedalaman lebih dari 3.200 meter.

Mikroplastik sendiri dapat beracun bagi kehidupan laut dalam.

Para ilmuwan telah lama menduga bahwa arus turbiditas memainkan peran utama dalam mendistribusikan mikroplastik di dasar laut. Universitas Manchester adalah salah satu yang pertama menunjukkan hal ini melalui penelitian mereka tentang titik-titik konsentrasi mikroplastik di Laut Tyrrhenian, yang diterbitkan dalam jurnal Science pada 2020..

Studi, yang dilakukan oleh Universitas Manchester, Pusat Oseanografi Nasional (Inggris), Universitas Leeds (Inggris), dan Institut Penelitian Kelautan Kerajaan Belanda, memberikan bukti lapangan pertama yang menunjukkan proses tersebut. Peng Chen, penulis utama studi di Universitas Manchester, mengatakan, mikroplastik sendiri dapat beracun bagi kehidupan laut dalam.

Selain itu, mikroplastik juga bertindak sebagai "pembawa" yang mentransfer polutan berbahaya lainnya seperti "bahan kimia abadi" PFAS dan logam berat. Hal ini menjadikannya faktor stres ganda lingkungan yang dapat memengaruhi seluruh rantai makanan.

Bagi Indonesia, rangkaian hasil penelitian ini menjadi pengingat penting. Indonesia memiliki wilayah laut yang sangat luas, termasuk kawasan laut dalam di Samudra Hindia, Laut Banda, Laut Maluku, hingga perairan timur Indonesia yang menjadi habitat beragam spesies unik.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah juga mulai membuka peluang eksplorasi sumber daya mineral laut dalam. Temuan mengenai mikroplastik ini menunjukkan bahwa perlindungan laut dalam tidak bisa lagi hanya mempertimbangkan kerusakan akibat aktivitas penambangan atau perubahan iklim, tetapi juga harus memperhitungkan ancaman pencemaran plastik yang berasal dari daratan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cara Dishub Cegah Truk Tabrak JPO sampai Jembatan Jakarta Lagi
• 5 jam laluliputan6.com
thumb
Membongkar Sisi Kelam Dunia Kecantikan Lewat Drama Plastic Beauty
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
SIM Keliling Jakarta Hari Ini: Cek 5 Lokasi dan Syarat Perpanjangan
• 15 jam lalurepublika.co.id
thumb
Bahlil Goda Nusron Wahid Pakai Kacamata Hitam: Inggris Kalah, Dia Sedih
• 3 jam laluliputan6.com
thumb
Putra Sayuti Melik Hidup Memprihatinkan di Masa Tua | BERITA UTAMA
• 23 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.