JAKARTA, KOMPAS.com - Bencana kabut asap Riau pada tahun 2015 menjadi peristiwa yang tidak terlupakan untuk influencer bernama Anggi Wahyuda (25).
Peristiwa tersebut bukan hanya sekadar merusak lingkungan, tetapi membuat Anggi kehilangan kaki kanan untuk selama-lamanya.
Cerita dimulai ketika Anggi yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) sedang mengendarai sepeda motor.
Ketika itu, asap tebal masih menghiasi kawasan Riau, karena kebakaran hutan dan lahan secara masif dari bulan Juni hingga Oktober 2015.
Baca juga: Pengosongan Hotel Sultan Masih Lanjut, Sofa hingga Rak Besi Diangkut ke Truk
Asap tebal tersebut tidak hanya menjadi polusi udara, tetapi juga mengganggu jarak pandang para pengendara.
"Di Binjai, jarak pandang sangat terganggu karena kabut asap itu. Dari arah berlawanan, ada truk tangki yang tidak melihat saya sedang melintas di depan, sehingga akhirnya saya tertabrak," kata Anggi ketika ditemui Kompas.com di kawasan Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (15/7/2026).
Kecelakaan itu membuat kaki kanan Anggi harus diamputasi, karena sudah mengalami kerusakan yang cukup parah.
Sejak itu, Anggi harus menjalani hari-hari yang berat, karena setiap pergerakannya selalu mengandalkan tongkat.
Sempat putus asaKehilangan satu kaki, membuat Anggi mengalami depresi berat selama dua tahun dan tidak berani keluar rumah, karena takut menjadi ejekan.
Saking malunya, Anggi selalu sengaja datang terlambat ke sekolah agar tidak menyita perhatian teman-temannya.
Bahkan ketika pulang sekolah, ia juga selalu meminta untuk dijemput saat kondisi lingkungan sekitar sudah sepi.
Sebab, Anggi sempat kehilangan kepercayaan dirinya dan takut jika kondisinya yang hanya memiliki satu kaki dilihat banyak orang.
Sampai saat ini, pria asal Binjai itu mengaku masih sulit menerima kondisinya yang harus menjalani hari-hari dengan satu kaki.
"Mengenai penerimaan, mungkin sampai sekarang pun sebenarnya saya sulit menerima keadaan seperti ini karena ini bukan pilihan atau kemauan saya," jelas Anggi.
Baca juga: Ulah Oknum Satpol PP Jaktim: Pungli Rp 300.000 di Rumah Belajar Jakut, Bawa Uang Iuran Siswa
Tetapi sejak pertama kali kakinya harus diamputasi, ia sudah berusaha ikhlas hingga saat ini.
Selama proses ikhlas menerima kondisi yang ada, tidak jarang Anggi justru mendapat komentar negatif dari banyak orang.
"Ada kalimat yang berbunyi, 'Orang yang fisik sempurna saja susah dapat kerja, apalagi disabilitas seperti Anggi'," jelas dia.
Seiring berjalannya waktu, komentar-komentar negatif tersebut menjadi penyemangat Anggi untuk terus bertumbuh dan berkembang.
Momen bangkitAnggi mengatakan, momen bangkitnya dimulai ketika duduk di kelas tiga SMA.
Ketika itu, teman-teman seangkatannya sudah mempersiapkan diri untuk masuk ke berbagai universitas impian.
Sedangkan nilai Anggi saat itu sangat rendah, karena jarang masuk sekolah akibat kecelakaan yang dialami.
Oleh karena itu, Anggi sudah pesimistis bisa masuk universitas ternama.
Baca juga: Mediasi Kedua Kasus Legalisir Ijazah Jokowi Gagal, Bonatua Sayangkan Dekan-Rektor UGM Tak Hadir





