Warga RW 003 Desa Cikeas Udik, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Isa, membantah lahan yang mengeluarkan asap tebal digunakan sebagai tempat penimbunan maupun pembakaran sampah liar.
Isa mengatakan, lahan tersebut awalnya merupakan jurang yang kemudian diuruk untuk dijadikan area parkir bagi peziarah di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bak Kintung.
Menurut dia, proses pengurukan dilakukan menggunakan tanah, puing bangunan, serta ranting dan kayu agar lahan menjadi padat dan dapat dimanfaatkan sebagai area parkir.
“Nah, kalau ini, kalau ini berhubung saya pengin punya parkiran, puing masuk, ranting masuk, dari bangunan-bangunan masuk biar cepat penuh. Itu aja sih saya mah, ini mah bukan sampah aslinya mah,” ujar Isa saat ditemui kumparan di lokasi, Kamis (16/7).
Isa juga membantah lokasi tersebut dipenuhi sampah rumah tangga.
“Kalau katanya sampah, ini mungkin pekat asapnya. Ini enggak, jadi kayak bau kayu kalau ini mah. Enggak ada, enggak ada sampah, cari aja,” ujarnya.
Ia pun membantah anggapan warga sekitar membuang sampah ke lokasi tersebut untuk kemudian dibakar.
“Bukan. Ini aja udah jadi tanah tuh, kan. Tanah, puing, ya. Tanah, puing, terus ranting. Udah busuk ini, udah empat tahun yang lalu ini mah, cuma kemarin meledug katanya, dengar-dengar orang. Organik jadi larinya,” katanya.
Menurut Isa, pengurukan dilakukan untuk menyediakan lahan parkir bagi peziarah karena TPU Bak Kintung belum memiliki area parkir yang memadai.
“Mau dipadatin, berhubung ini jurang, yang ziarah enggak ada parkiran. Enggak membahayakan kalau asapnya mah, cuma kalau namanya asap, sensitif ke perumahan. Iya, kebawa angin,” tuturnya.
Isa mengatakan pengurukan telah dilakukan sekitar empat tahun lalu. Kebakaran, menurutnya, baru terjadi pada Rabu pekan lalu.
“Udah empat tahun. Baru kejadian kemarin (terbakar) hari Rabu. Itu mah entah ada yang ngebakar, entah kepanasan, meledug bisa itu. Ya namanya juga korek kan bekas, panas meledug dikit-dikit,” ujarnya.
Isa belum mengetahui penyebab pasti munculnya api. Menurutnya, kebakaran bisa dipicu cuaca panas atau sumber api lain yang belum diketahui.
Sejak asap muncul, kata Isa, petugas pemadam kebakaran terus melakukan upaya pemadaman dengan bantuan mobil tangki air dari kawasan perumahan sekitar.
“Damkar habis kali 16, tangki dari Citra Grand ada kali 20. Berhubung emang cuacanya, cuacanya ini banget. Tangki dari Citra Grand ada kali 20. Udah, udah ditanganin sama alat berat,” katanya.
Isa menyebut asap mulai muncul sejak Rabu pekan lalu dan hingga kini masih dalam penanganan.
“Dari Rabu. Sekarang apa ya? Kamis ya? Berarti udah seminggu, udah delapan hari. Bukannya nggak ditangani, [ini] ditangani,” tuturnya.
Meski demikian, Isa mengeklaim asap tidak terlalu berdampak kepada warga di sekitar lokasi karena lebih banyak terbawa angin ke arah kawasan perumahan.
“Enggak, nggak kena. Kebawa angin. Mungkin yang di sini nih [perumahan] Citra ada sedikit kena. [Perumahan] Asana kadang-kadang kena. Habis angin sih juga,” jelasnya.
Ia kembali menegaskan material yang terbakar bukan sampah, melainkan kayu yang telah lama tertimbun.
“Ini bukan sampah, asap bukan sampah, asap kayu. Kayu yang gede itu. Kebakar, jadi lama. Kadang-kadang pohon palem, kan dalemannya itu rapuh itu. Itu kalau kebakar udah lama itu,” kata dia.
Titik Awal dari Pohon NangkaTerkait sumber api, Isa menduga titik awal kebakaran berasal dari pohon nangka yang bagian dalamnya telah lapuk.
“Itu yang pohon nangka itu awal. Jadi di dalem tuh udah gerowah. Berarti hidup di dalem itu. Tadinya mah kan nggak begini ini,” katanya.
Isa menambahkan, kondisi lahan tersebut sebelumnya jauh lebih rendah karena masih berupa jurang sebelum dilakukan pengurugan.
“Di bawah ini, kayak gitu tuh. Cuman ama saya, saya naikin,” tuturnya.
Isa berharap proses pemadaman segera selesai. Menurutnya, apabila penyiraman dilakukan secara terus-menerus, api diperkirakan dapat padam dalam waktu dekat.
“Tapi kalau katanya airnya nonstop kemungkinan hari ini mati,” kata dia.





