Bisnis.com, JAKARTA — Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat pertumbuhan jumlah rekening di sejumlah kelompok bank belum diikuti kenaikan nominal simpanan. Kondisi tersebut mencerminkan rekening hasil akuisisi nasabah baru belum dimanfaatkan secara optimal untuk menghimpun dana.
Berdasarkan data distribusi simpanan LPS per Mei 2026, nominal simpanan pada kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) 1 turun 0,3% secara year to date (YtD), sedangkan simpanan KBMI 3 stagnan. Sebaliknya, simpanan pada KBMI 2 dan KBMI 4 masih mencatatkan pertumbuhan.
Di sisi lain, jumlah rekening justru meningkat pada sebagian besar kelompok bank. Jumlah rekening KBMI 1 tumbuh 4,6% YtD, KBMI 2 naik 28,5%, dan KBMI 3 meningkat 2,4%. Adapun jumlah rekening KBMI 4 turun 4,4% YtD.
Plt. Direktorat Surveilans, Pemeriksaan, dan Pengaturan Bank LPS Ridwan Nasution menyampaikan, perbedaan pertumbuhan jumlah rekening dan nominal simpanan merupakan fenomena yang wajar karena mencerminkan strategi bisnis serta karakteristik nasabah di masing-masing bank.
Menurutnya, pertumbuhan rekening yang lebih tinggi menunjukkan bank tengah memperluas basis nasabah melalui strategi akuisisi, termasuk memanfaatkan layanan digital dan pengembangan ekosistem transaksi. Strategi tersebut umumnya dijalankan bank yang memiliki basis nasabah ritel.
Ridwan menilai rekening baru tersebut belum sepenuhnya berkontribusi terhadap pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK).
Baca Juga
- Bunga Penjaminan LPS Naik, KB Bank (BBKP) Fokus Perkuat Dana Murah
- LPS: Masyarakat Jangan Khawatir Nabung di Bank, Simpanan Dijamin
- Di Balik Ribuan Rekening Judol, Sistem Pengawasan Bank Jadi Sorotan
“Pertumbuhan jumlah rekening yang belum sepenuhnya diikuti peningkatan nominal simpanan mengindikasikan bahwa rekening hasil akuisisi belum secara optimal digunakan,” ujar Ridwan kepada Bisnis, dikutip pada Kamis (16/7/2026).
Dia menjelaskan kondisi tersebut masih merupakan bagian dari proses pengembangan basis nasabah. Dalam jangka panjang, peningkatan jumlah rekening idealnya diikuti pertumbuhan saldo agar mampu memperkuat penghimpunan dana bank.
Menurut Ridwan, kontribusi rekening baru terhadap pertumbuhan simpanan bergantung pada berbagai faktor, seperti karakteristik dan kapasitas finansial nasabah, daya saing produk simpanan, kualitas layanan, serta strategi bank dalam mengelola hubungan dengan nasabah, termasuk melalui penetapan suku bunga dan pengembangan ekosistem layanan.
Di sisi lain, LPS belum melihat adanya pergeseran dana secara signifikan di industri perbankan. Ridwan mengatakan struktur simpanan masih terjaga meski kenaikan BI-Rate mendorong peningkatan imbal hasil berbagai instrumen keuangan.
Menurutnya, perubahan preferensi penempatan dana hanya terjadi pada sebagian nasabah yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga. Secara umum, kondisi tersebut lebih mencerminkan penyesuaian penempatan dana untuk mengoptimalkan imbal hasil dibandingkan perpindahan dana secara luas antar kelompok bank.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Krom Bank Indonesia Tbk. (BBSI) Anton Hermawan menyampaikan pertumbuhan jumlah rekening menunjukkan akuisisi nasabah masih berjalan positif
“Namun, mayoritas rekening baru masih memiliki saldo relatif rendah sehingga belum mampu mendorong pertumbuhan DPK secara signifikan,” ujar Anton kepada Bisnis, dikutip pada Kamis (16/7/2026).
Anton mengatakan, sebagian nasabah juga memanfaatkan rekening baru hanya sebagai rekening transaksi sehingga frekuensi transaksi meningkat, tetapi dana yang mengendap tetap terbatas.
Meski demikian, Krom Bank membukukan kinerja bisnis yang positif. Hingga Mei 2026, DPK perseroan meningkat 124% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp11,86 triliun, sedangkan jumlah rekening tumbuh 133% menjadi 1,10 juta rekening
Ke depan, perseroan akan memperkuat likuiditas dengan meningkatkan porsi dana murah (CASA) untuk menjaga struktur pendanaan yang lebih efisien.
Sementara itu, Direktur Bank PT Bank BCA Syariah Pranata menilai perlambatan pertumbuhan simpanan nasabah individu juga dipengaruhi oleh bergesernya preferensi masyarakat dalam menempatkan dana ke instrumen investasi, seperti emas, di tengah pelemahan daya beli.
Di tengah kondisi tersebut, BCA Syariah tetap mencatatkan pertumbuhan DPK sebesar 15,7% secara tahunan menjadi Rp15,2 triliun per Mei 2026. Pada periode yang sama, jumlah nasabah meningkat 20,4% menjadi sekitar 781.000, didorong oleh akselerasi pembukaan rekening secara digital melalui aplikasi mobile banking BSya.
Pranata mengatakan perseroan optimistis pertumbuhan DPK dan jumlah nasabah akan terus berlanjut seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap layanan keuangan syariah.
“Untuk menjaga tren tersebut, BCA Syariah akan memperluas kolaborasi serta meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah,” ungkap Pranata kepada Bisnis, dikutip pada Kamis (16/7/2026).





