JAKARTA, KOMPAS — Performa pasar saham dan pasar mata uang rupiah terpantau mulai positif pada perdagangan Kamis (16/7/2026). Sentimen eksternal yang antara lain dipicu oleh melandainya tekanan inflasi di Amerika Serikat serta kebijakan ekonomi dalam negeri meningkatkan selera investor internasional untuk kembali masuk ke pasar RI.
Pada penutupan perdagangan hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat 1,01 persen ke level 6.108. Posisi ini menunjukkan kenaikan berturut-turut dalam enam hari perdagangan terakhir.
Penguatan indeks didukung oleh kembalinya aksi beli investor asing dengan catatan pembelian bersih (net buy) yang signifikan sebesar Rp 1,01 triliun pada sesi perdagangan pertama.
Asing mencatatkan pembelian tertinggi pada saham-saham perbankan besar seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), serta saham komoditas PT Timah Persero Tbk (TINS).
Tim analis Phintraco Sekuritas dalam laporannya hari ini, menyebutkan, kenaikan IHSG sejak beberapa hari lalu sudah sejalan dengan penguatan rupiah. Pada Rabu (15/7/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terapresiasi 0,13 persen ke level Rp 18.091 dengan kenaikan terbesar dibandingkan mata uang Asia lainnya secara harian.
Faktor pendukung IHSG lainnya dinilai berkaitan dengan rencana pemerintah untuk tidak menaikkan tarif pajak sebagai strategi untuk meningkatkan penerimaan negara pada 2026.
Walau demikian, di saat yang sama, pemerintah mulai menaikkan tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di sejumlah kementerian dan lembaga, di tengah proyeksi penerimaan pajak yang diperkirakan tidak mencapai target APBN 2026.
Secara teknikal, menurut Phintraco, IHSG masih mengindikasikan momentum penguatan yang terjaga. "Dengan demikian, IHSG berpeluang melanjutkan penguatan untuk menguji area resistance pada level 6.125–6.175 pada perdagangan Jumat besok," kata mereka.
Untuk rupiah, nilai tukarnya pada perdagangan hari ini ditutup menguat sebesar 82 poin pada level Rp 17.986 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat menyentuh posisi penguatan tertinggi harian di level Rp 17.985 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, dalam keterangannya, menjelaskan bahwa pelemahan indeks dolar AS didorong oleh rilis data ekonomi terbaru dari AS.
Harga produsen secara tak terduga mengalami penurunan sebesar 0,3 persen pada bulan Juni, kontras dengan ekspektasi pasar yang memproyeksikan tidak adanya perubahan bulanan. Koreksi ini menyusul laporan data inflasi konsumen yang juga terpantau lebih rendah pada awal pekan ini.
"Laporan berturut-turut tersebut memperkuat tanda-tanda bahwa tekanan harga yang mendasarinya di Amerika Serikat mulai mereda. Kondisi ini secara otomatis mengurangi ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve yang agresif dalam waktu dekat," ungkap Ibrahim, yang juga menjabat sebagai Direktur PT Traze Andalan Futures.
Meski data inflasi memberikan sinyal pendinginan, para pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati akibat eskalasi geopolitik yang kembali membara di Timur Tengah. Konflik tersebut telah mendorong harga minyak mentah global menguat di kisaran 80 dolar AS per barel.
Menurut pemberitaan, AS dilaporkan melancarkan serangan udara selama lima hari beruntun terhadap target-target Iran, sementara Presiden Donald Trump menegaskan akan mengintensifkan operasi militer hingga Teheran menghentikan gangguan terhadap pelayaran komersial serta membuka kembali Selat Hormuz.
"Kekhawatiran global mencuat bahwa lonjakan harga energi berpotensi menyulut kembali inflasi di masa mendatang, yang pada gilirannya dapat membatasi ruang bagi Federal Reserve untuk melonggarkan kebijakan moneternya," kata Ibrahim.
Dari dalam negeri, stabilitas nilai tukar mendapat dukungan dari respons kebijakan pemerintah serta pengakuan dunia internasional terhadap kredibilitas kelembagaan domestik.
Awal pekan ini, lembaga pemeringkat global S&P Global Ratings dalam laporan terbarunya mempertahankan peringkat utang dan pandangan (outlook) positif Indonesia. Hal ini memupus keraguan yang sebelumnya sempat disorot oleh lembaga pemeringkat internasional lainnya, seperti Moody's dan Fitch Ratings.
Serial Artikel
Pasar Saham dan Obligasi Dapat Angin Segar dari ”Rating” Terbaru S&P
Ruang penguatan pasar masih akan bergantung pada arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI), stabilitas makro, serta derasnya arus modal asing.
S&P memproyeksikan penilaian peringkat kredit Indonesia akan stabil. Ini didukung perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap stabil di kisaran 5 persen, dengan proyeksi sebesar 5,1 persen pada 2026.
Angka ini didukung oleh masih kuatnya permintaan domestik dan konsumsi rumah tangga, meskipun ada potensi sedikit melambat akibat ketatnya suku bunga domestik dan gejolak global.
Pemerintah saat ini, menurut catatan Ibtahim, juga tengah merumuskan bauran langkah fiskal dan intervensi pasar guna memitigasi dampak inflasi, khususnya pada komponen harga pangan yang bergejolak (volatile food) serta lonjakan biaya industri akibat kenaikan harga kemasan produk makanan.
Untuk perdagangan esok hari, Ibrahim memproyeksikan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah terbatas dalam rentang kisaran Rp 17.986 hingga Rp 18.030 per dolar AS.





