Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Wahyudi Anas mengatakan penyebab terjadinya antrean pembelian bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah daerah karena adanya perubahan pola konsumsi. Masyarakat yang sebelumnya menggunakan BBM nonsubsidi beralih menjadi pengguna BBM subsidi setelah harga BBM nonsubsidi naik.
“Ada shifting (migrasi) perubahan pola pembelian. Kalau berdasarkan ketentuan atau regulasi hal ini memang diizinkan dilakukan masyarakat,” kata Wahyudi dalam konferensi pers di Komisi XII DPR RI, Kamis (16/7).
Meski diperbolehkan, dia menyebut dengan adanya shifting ini membuat terjadinya antrean pembelian BBM yang panjang, utama di jalur logistik seperti Trans Sumatra. Tak hanya antrean, perubahan pola ini juga menyebabkan kenaikan konsumsi BBM subsidi sebesar 10-15% dibandingkan sebelumnya.
“Kami meminta agar masyarakat tidak melakukan pembelian secara panik dan berlebihan. Beli BBM sesuai kebutuhan harian, dengan bijak dan wajar,” ujarnya.
Walaupun terjadi kenaikan konsumsi, dia menyebut pasokan dan penyaluran BBM subsidi masih sangat aman., baik untuk BBM subsidi Biosolar ataupun Pertalite.
Dia menyampaikan, pemerintah saat ini terus mengevaluasi seluruh pelanggaran yang dilakukan dalam pembelian BBM subsidi. Evaluasi tersebut dilakukan melalui pemblokiran kode cepat (QR code), penindakan langsung, serta penyerahan barang bukti kendaraan yang terbukti melanggar.
“Kami serahkan kepada aparat penegak hukum untuk dilakukan tindakan sesuai dengan aturan dan regulasinya,” ucapnya.
Sebelumnya, Ekonom CELIOS Nailul Huda telah memperingatkan kenaikan harga BBM nonsubsidi akan menyebabkan masyarakat beralih ke BBM subsidi. "Jika selisih harga terlalu besar, akan terjadi perpindahan konsumen dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi. Ini bisa memicu lonjakan permintaan yang signifikan," ujarnya.
BPH Migas mencatat terjadi kenaikan 5,92% pada penyaluran atau konsumsi BBM subsidi Solar pada semester 1 2026.
Pada periode Januari-Juni 2026, jumlah konsumsi Solar mencapai 9,48 juta kilo liter (kl) atau 50,85% dari total kuota 18,64 juta. Angka ini naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu hanya mencapai 8,95 juta kl atau 46,14% dari kuota.
“Lonjakan (konsumsi) Solar terjadi pasca kenaikan harga BBM Dex Series, dan Pertamax. Hal ini membuat masyarakat yang sebelumnya menggunakan BBM nonsubsidi beralih menjadi (pengguna) BBM subsidi,” kata Wahyudi.
Kenaikan konsumsi juga terjadi pada BBM subsidi Pertalite. Pada semester 1 2026 jumlah konsumsinya mencapai 13,96 juta kl atau 47,68% kuota. Naik tipis dari realisasi semester 1 2025 yang hanya mencapai 13,92 juta kl atau 44,60% kuota. Tak hanya itu, Wahyudi juga menyebut realisasi minyak tanah sebesar 260 ribu kl atau 48,91% dari total kuota 530 ribu kl.




