Oleh: Sadakati Sukma
Pengurus KONI Makassar
Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) XVIII Sulawesi Selatan Tahun 2026 yang akan diselenggarakan di Kabupaten Bone dan Kabupaten Wajo menjadi momentum penting bagi seluruh insan olahraga di Sulawesi Selatan. Ajang empat tahunan ini bukan sekadar perlombaan untuk memperebutkan medali, tetapi menjadi cerminan keberhasilan pembinaan olahraga prestasi yang dilakukan oleh setiap daerah.
Bagi Kota Makassar, PORPROV memiliki makna yang jauh lebih besar. Sebagai ibu kota provinsi sekaligus barometer pembinaan olahraga di Sulawesi Selatan, Makassar memikul tanggung jawab moral untuk terus menjaga tradisi prestasi yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Predikat Juara Umum bukanlah sekadar simbol kebanggaan, melainkan hasil dari proses panjang pembinaan atlet yang melibatkan pengurus cabang olahraga, pelatih, pemerintah daerah, akademisi, dunia usaha, hingga dukungan masyarakat.
Mempertahankan gelar juara tentu jauh lebih sulit daripada merebutnya. Seluruh kabupaten dan kota kini semakin serius membangun olahraga prestasi. Pembinaan atlet usia dini, peningkatan kualitas pelatih, penyediaan sarana olahraga, hingga penggunaan ilmu pengetahuan dan sport science mulai diterapkan secara masif. Persaingan di PORPROV XVIII dipastikan akan berlangsung semakin kompetitif.
Di tengah tantangan tersebut, KONI Kota Makassar menunjukkan optimisme yang tinggi. Berbagai program pembinaan telah dijalankan melalui pemantauan terhadap cabang olahraga, evaluasi hasil Pra PORPROV, pemusatan latihan, hingga penguatan koordinasi dengan seluruh pengurus cabang olahraga. Persiapan tidak hanya difokuskan pada aspek teknis, tetapi juga pembentukan karakter atlet agar memiliki mental juara, disiplin, integritas, dan menjunjung tinggi nilai sportivitas.
Target mempertahankan Juara Umum bukanlah sebuah ambisi yang berlebihan. Target tersebut merupakan konsekuensi dari komitmen Kota Makassar untuk terus menjadi pusat pembinaan olahraga prestasi di Sulawesi Selatan. Namun, target itu hanya dapat diwujudkan apabila seluruh komponen bergerak dalam satu irama. Atlet membutuhkan dukungan moral, pelatih membutuhkan kepercayaan, pengurus membutuhkan sinergi, sementara pemerintah dan masyarakat perlu memberikan ruang agar pembinaan dapat berjalan secara berkelanjutan.
PORPROV juga harus dipandang sebagai wadah lahirnya atlet-atlet masa depan yang kelak membawa nama Sulawesi Selatan dan Indonesia di tingkat nasional maupun internasional. Oleh karena itu, orientasi pembinaan tidak boleh berhenti pada perolehan medali semata, tetapi juga harus mampu mencetak sumber daya manusia olahraga yang berkarakter, profesional, dan berdaya saing.
Sebagai pemerhati olahraga, saya meyakini bahwa Kota Makassar memiliki semua modal untuk kembali berdiri di podium tertinggi. Modal tersebut bukan hanya berasal dari banyaknya atlet potensial, tetapi juga dari budaya kerja keras, semangat kompetitif, dan pengalaman panjang dalam melahirkan atlet berprestasi.
Kini saatnya seluruh masyarakat Kota Makassar memberikan dukungan penuh kepada para atlet yang akan berjuang di Bone dan Wajo. Mereka bukan hanya bertanding membawa nama pribadi atau cabang olahraga, melainkan membawa kehormatan Kota Makassar. Setiap doa, dukungan, dan kepercayaan dari masyarakat akan menjadi energi yang menguatkan langkah mereka di arena pertandingan.
PORPROV XVIII Sulawesi Selatan 2026 harus menjadi momentum untuk membuktikan bahwa Makassar tetap menjadi kiblat olahraga prestasi di Sulawesi Selatan. Dengan persiapan yang matang, pembinaan yang berkelanjutan, kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, serta semangat pantang menyerah, saya optimistis KONI Kota Makassar mampu mempertahankan tradisi sebagai Juara Umum.
Karena bagi Kota Makassar, menjadi juara bukan sekadar tujuan. Menjadi juara adalah tradisi yang harus terus dijaga demi kemajuan olahraga dan kebanggaan masyarakat Kota Makassar.





