Momentum ini dinilai krusial karena bertepatan dengan perayaan 75 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Swiss.
IDXChannel - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) resmi menjalin kemitraan strategis dengan Pemerintah Konfederasi Swiss melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) terkait peningkatan kerja sama di sektor mineral dan logam.
Penandatanganan dilakukan oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, di Jakarta, Kamis (16/7/2026), yang disaksikan oleh Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Olivier Zehnder.
Proses penandatanganan ini melengkapi kesepakatan sirkuler yang sebelumnya telah diteken oleh Presiden Konfederasi Swiss sekaligus Kepala Federal Department of Economic Affairs, Education and Research (EAER), Guy Parmelin, di Basel pada 23 Juni 2026 lalu.
Momentum ini dinilai krusial karena bertepatan dengan perayaan 75 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Swiss.
Rosan mengatakan, kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah mineral strategis nasional, sekaligus menyelaraskan agenda hilirisasi Indonesia dengan keunggulan teknologi yang dimiliki Swiss.
"Indonesia dikaruniai sumber daya mineral yang melimpah. Namun, ambisi kami bukan sekadar mengekspor bahan mentah, melainkan menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja berkualitas, dan memperkuat daya saing industri nasional melalui hilirisasi," kata Rosan, Kamis (16/7/2026).
"Dalam upaya tersebut, Swiss merupakan mitra yang ideal dengan keunggulannya di bidang teknologi, inovasi, keberlanjutan, pembiayaan, logistik, dan akses pasar global," lanjutnya.
Sementara itu, Duta Besar Swiss Olivier Zehnder mengatakan, kolaborasi ini menjadi wadah untuk menghubungkan potensi sumber daya Indonesia dengan keahlian, modal, serta teknologi ramah lingkungan dari Swiss. Dia berharap kerja sama ini memberikan dampak positif bagi ekonomi kedua negara.
"Kami berharap kerja sama ini akan semakin mempererat kemitraan ekonomi kedua negara sekaligus menciptakan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat di Indonesia maupun Swiss," kata Zehnder.
Ruang lingkup nota kesepahaman ini mencakup fasilitasi investasi, penguatan rantai pasok berkelanjutan, pengembangan teknologi bersih serta pertukaran keahlian di bidang tata kelola industri hilir.
Kerja sama ini merupakan kelanjutan dari Expression of Interest yang disepakati pada 30 September 2025 dan sejalan dengan komitmen pemerintah dalam membangun ekosistem industri hijau, termasuk baterai kendaraan listrik.
Catatan investasi menunjukkan hubungan ekonomi kedua negara terus bertumbuh. Sepanjang 2021 hingga triwulan I-2026, realisasi investasi Swiss di Indonesia mencapai sekitar USD1,33 miliar, yang terkonsentrasi pada industri makanan, kimia, farmasi, serta sektor logistik.
Selain itu, implementasi perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif Indonesia–European Free Trade Association (IE-CEPA) juga telah memberikan kemudahan bagi dunia usaha dari kedua belah pihak.
Rosan menekankan soal efektivitas kerja sama ini akan dinilai dari implementasi proyek nyata di masa mendatang, bukan sekadar dokumen administratif semata.
“Keberhasilan kerja sama ini tidak akan diukur dari dokumen yang kita tandatangani hari ini, melainkan dari proyek-proyek yang kita wujudkan di masa depan," katanya.
"Kami ingin melihat lebih banyak investasi, kemitraan teknologi, pertukaran keahlian, dan peluang yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara. Indonesia terbuka, Indonesia berkomitmen pada reformasi, dan Indonesia siap menjadi mitra jangka panjang," kata Rosan.
(Nur Ichsan Yuniarto)





