Bisnis.com, SURABAYA – Pemerintah Kerajaan Arab Saudi menjajaki pemanfaatan Bandara Internasional Dhoho di Kediri, Jawa Timur, sebagai salah satu titik keberangkatan dan kepulangan (embarkasi-debarkasi) jemaah haji serta umrah mulai 2027.
Rencana tersebut diungkapkan oleh Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi usai melangsungkan pertemuan dengan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Rabu (15/7/2026).
Dudy menjelaskan wacana itu sebelumnya telah dibahas bersama Menteri Transportasi dan Logistik Kerajaan Arab Saudi Saleh bin Nasser Al-Jasser saat pertemuan di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Senin (13/7/2026).
Guna menindaklanjuti rencana itu, Dudy bahkan menyebut, tim teknis dari Arab Saudi akan melakukan penjajakan maupun survei secara langsung di lokasi guna meninjau kesiapan bandara yang dibangun oleh PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) tanpa sokongan APBN.
Bandara Dhoho akan diproyeksikan menjadi pintu gerbang baru penerbangan langsung menuju Jeddah dan Madinah. Selain itu, bandara ini akan menunjang operasional Bandara Internasional Juanda di Sidoarjo yang selama ini menampung jemaah asal Jawa Timur dan wilayah lain di Indonesia timur.
"Beberapa hari yang lalu, kami sudah bicara dengan Kementerian Transportasi dan Logistik Saudi dan mereka berkeinginan untuk bisa menggunakan Bandara Dhoho. Mungkin dalam waktu dekat mereka akan mengirim tim untuk menjajaki pemanfaatan Bandara Dhoho sebagai bandara yang melayani penerbangan langsung dari Jawa Timur ke Saudi Arabia," ujar Dudy.
Baca Juga
- Bandara Dhoho Kediri Beroperasi Kembali 10 November, Ini Maskapai dan Rutenya
- Bandara Haji Jadi Solusi Optimalisasi Dhoho dan Kertajati
- Manuver Bandara Dhoho, dari Sepi Penerbangan Berubah Jadi Bandara Haji 2026
Bersamaan dengan persiapan Bandara Dhoho, Dudy menyebut, pemerintah juga segera merevitalisasi fasilitas penunjang di Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo.
Revitalisasi, ungkap dia, akan diprioritaskan pada infrastruktur landasan pacu (runaway) agar dapat melayani kebutuhan maskapai penerbangan dengan pesawat udara berbadan lebar (wide body).
"Diharapkan Bandara Juanda bisa menampung pesawat-pesawat berbadan besar sehingga bisa digunakan oleh masyarakat Jawa Timur. Khususnya, seperti bisa terbang langsung ke Jeddah dan Madinah untuk melayani masyarakat Jawa Timur yang akan melaksanakan ibadah umrah dan haji," katanya.
Pada kesempatan yang sama, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, pengoperasian Bandara Dhoho akan memberikan kemudahan bagi jemaah haji dan umrah, terutama yang berasal dari kawasan Mataraman. Sebab, lanjut dia, jarak menuju embarkasi menjadi lebih dekat dan tidak harus menempuh perjalanan panjang.
"Seluruh persiapan terus kami lakukan bersama Kementerian Agama, Kementerian Perhubungan, Angkasa Pura, juga seluruh pihak terkait agar seluruh persyaratan dapat dipenuhi dengan baik," kata Khofifah.
Embarkasi Dhoho diproyeksikan melayani sekitar 10.548 jemaah haji yang berasal dari 15 kabupaten dan kota di Jawa Timur, yakni Kabupaten dan Kota Kediri, Kabupaten dan Kota Blitar, Nganjuk, Tulungagung, Trenggalek, Kabupaten dan Kota Madiun, Magetan, Ponorogo, Pacitan, Ngawi, Jombang, serta Bojonegoro.
Khofifah mengatakan, beberapa tahun terakhir pemerintah daerah telah menyiapkan Bandara Dhoho sebagai bagian dari upaya memperkuat layanan penyelenggaraan ibadah haji maupun umrah di Jawa Timur.
"Bandara Dhoho ini sudah lama kami persiapkan untuk memperkuat layanan penyelenggaraan ibadah haji sekaligus memberikan kemudahan bagi jemaah, khususnya dari wilayah Mataraman. Kami berharap proses keberangkatan maupun kepulangan jemaah akan semakin efektif dan nyaman," ujar Khofifah.





