OPINI: Pariwisata Domestik, Strategi Ekonomi yang Terlupakan

bisnis.com
9 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia terlalu sering mengukur keberhasilan pariwisatanya dari jumlah wisatawan mancanegara yang datang. Setiap kenaikan angka kunjungan dirayakan sebagai keberhasilan karena dianggap identik dengan bertambahnya devisa dan meningkatnya citra Indonesia di mata dunia.

Cara pandang itu tidak salah. Namun, jika keberhasilan pariwisata hanya diukur dari banyaknya wisatawan asing, kita sesungguhnya sedang mengabaikan mesin ekonomi terbesar yang dimiliki bangsa ini: masyarakat Indonesia sendiri.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sepanjang 2025 terdapat sekitar 1,2 miliar perjalanan wisatawan nusantara. Pada periode yang sama, masyarakat Indonesia melakukan sekitar 9,17 juta perjalanan ke luar negeri, sedangkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia mencapai 15,39 juta perjalanan.

Angka tersebut menyampaikan pesan yang sangat jelas. Pasar terbesar pariwisata Indonesia bukan berada di luar negeri, melainkan berada di dalam negeri sendiri.

Selama ini, pariwisata sering dipahami sebagai sektor yang bertugas mendatangkan devisa melalui wisatawan asing. Padahal, dalam struktur perekonomian Indonesia, fungsi yang jauh lebih strategis justru terletak pada kemampuannya menjaga konsumsi domestik tetap bergerak.

Hal ini menjadi semakin penting karena konsumsi rumah tangga selama bertahun-tahun merupakan penyumbang terbesar terhadap produk domestik bruto Indonesia. Ketika masyarakat tetap melakukan perjalanan wisata, mereka sesungguhnya sedang menggerakkan roda ekonomi dari satu daerah ke daerah lainnya.

Baca Juga

  • Kemenpar: Event Pariwisata Hasilkan Perputaran Ekonomi Rp858 Miliar pada Semester I/2026
  • Ini Lima Program Unggulan Pariwisata, dari Desa Wisata hingga Tourism 5.0
  • Pariwisata Jaga Tren Positif

Setiap keluarga yang memilih berlibur ke Yogyakarta, Bandung, Bali, Banyuwangi, Danau Toba, Labuan Bajo, Lombok, atau berbagai destinasi lainnya bukan sekadar membeli tiket wisata. Mereka menghidupkan hotel, restoran, transportasi, UMKM, pedagang oleh-oleh, pemandu wisata, penyedia atraksi, hingga meningkatkan penerimaan pajak daerah.

Inilah yang disebut efek berganda (multiplier effect). Satu keputusan untuk berwisata menciptakan mata rantai ekonomi yang dinikmati oleh banyak pelaku usaha, terutama usaha mikro dan kecil yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah.

Sebaliknya, ketika masyarakat Indonesia memilih berwisata ke luar negeri, seluruh rangkaian belanja tersebut ikut menggerakkan ekonomi negara tujuan. Hotel, restoran, pusat perbelanjaan, operator wisata, hingga pemerintah daerah di negara lain menikmati manfaat yang sebenarnya dapat berputar di dalam negeri.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pelemahan perdagangan internasional, dan tantangan menjaga pertumbuhan ekonomi, kondisi tersebut semestinya menjadi perhatian. Indonesia membutuhkan semakin banyak sumber pertumbuhan yang berasal dari dalam negeri. Pariwisata domestik adalah salah satunya.

Keunggulan sektor ini terletak pada kemampuannya menyebarkan manfaat ekonomi secara luas. Tidak seperti beberapa sektor yang pertumbuhannya terkonsentrasi di kota-kota besar, belanja wisata langsung mengalir hingga ke desa-desa wisata, pelaku UMKM, ekonomi kreatif, jasa transportasi lokal, hingga petani dan nelayan yang memasok kebutuhan industri pariwisata.

Oleh karena itu, memperkuat pariwisata domestik sejatinya bukan sekadar agenda Kementerian Pariwisata. Ini adalah strategi ekonomi nasional yang melibatkan kebijakan transportasi, pembangunan infrastruktur, pengembangan UMKM, ekonomi kreatif, tata kelola daerah, hingga kebijakan fiskal.

Sayangnya, orientasi pembangunan pariwisata kita masih terlalu berfokus pada mengejar wisatawan asing. Promosi internasional terus diperkuat, sementara berbagai persoalan yang dihadapi wisatawan domestik masih sering dianggap biasa seperti harga tiket transportasi yang mahal, konektivitas antardaerah yang belum optimal, kualitas pelayanan yang belum merata, kebersihan destinasi, hingga minimnya pengalaman wisata yang benar-benar berkesan.

Padahal, dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa dan lebih dari satu miliar perjalanan wisata setiap tahun, pasar domestik merupakan fondasi yang jauh lebih stabil dibandingkan pasar internasional yang sangat dipengaruhi kondisi ekonomi global, nilai tukar, maupun dinamika geopolitik.

Bukan berarti Indonesia harus berhenti mengejar wisatawan mancanegara. Wisatawan asing tetap penting sebagai sumber devisa dan penguatan daya saing Indonesia di tingkat global.

Namun, strategi pariwisata nasional perlu dibangun di atas dua pilar yang sama kuat yakni menarik lebih banyak wisatawan asing dan, pada saat yang sama, memastikan masyarakat Indonesia semakin memilih berwisata di negerinya sendiri.

Sudah saatnya kita berhenti memandang wisatawan domestik sebagai pasar pelengkap. Mereka adalah fondasi industri pariwisata sekaligus instrumen penting dalam menjaga konsumsi nasional, menghidupkan UMKM, memperkuat ekonomi daerah, dan menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pada akhirnya, setiap perjalanan wisata masyarakat Indonesia bukan hanya soal liburan. Ia adalah aktivitas ekonomi. Ia adalah investasi bagi daerah. Dan dalam skala yang lebih besar, ia adalah salah satu cara menjaga mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap bekerja.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Transfer Uang ke Luar Negeri Kini Lebih Mudah lewat BRImo, Nikmati Cashback hingga Rp50 Ribu
• 22 jam laluviva.co.id
thumb
Layanan SIM Keliling Hari Ini Hadir di 5 Lokasi
• 10 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kejagung Sebut Isi Kotak yang Dibawa Polri Barbuk Kasus Korupsi Febrie Adriansyah-Don Ritto
• 20 jam lalurctiplus.com
thumb
Nipah Park Hadirkan 25 Cabor di Pekan Olahraga Nipah 2026, Medali Ramah Lingkungan Jadi Daya Tarik
• 5 jam laluharianfajar
thumb
Ditanya Soal Juara Piala Dunia 2026, Purbaya: Saya Suka Argentina!
• 14 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.