TABLOIDBINTANG.COM - Band pop alternatif Juke resmi memperkenalkan Extended Play (EP) perdana bertajuk Inikah Cinta. Lewat karya tersebut, mereka menawarkan nuansa musik romantis yang terinspirasi dari kejayaan pop alternatif Indonesia pada era 2000-an, sekaligus menandai perjalanan panjang mereka sejak terbentuk lebih dari satu dekade lalu.
Perjalanan Juke menuju perilisan karya tersebut tidak berlangsung singkat. Band ini berawal dari proyek sederhana dua sahabat yang gemar menciptakan lagu bersama pada 2012 sebelum berkembang menjadi grup musik dengan formasi lengkap pada 2017.
"Awalnya cuma duo aja. Tercetus nama Juke itu dari Chris," ujar Juke.
Seiring waktu, formasi Juke mengalami sejumlah perubahan hingga akhirnya diperkuat oleh Jue, Wahyu, Adi, Rijal, Fatar, dan Yani. Pada 2025, mereka mulai aktif memperkenalkan karya melalui berbagai radio lokal, yang kemudian membuka peluang tampil di sejumlah panggung musik.
Meski EP tersebut diberi judul Inikah Cinta, Juke justru memilih lagu Waktu Berlalu sebagai fokus utama. Keputusan itu diambil karena lagu tersebut memiliki peran penting dalam keseluruhan alur cerita yang mereka bangun di album mini tersebut.
"Kenapa Waktu Berlalu kami jadikan focus track dan bukan sebagai judul album? Karena lagu ini dirancang sebagai lagu terakhir sekaligus gong penutup dari seluruh rangkaian kisah di EP ini," jelas Juke.
Di tengah persaingan industri musik yang semakin dipengaruhi tren digital dan konten viral di media sosial, Juke tetap percaya bahwa karya yang dibuat dengan ketulusan akan menemukan pendengarnya sendiri.
Secara musikal, Juke mengusung warna pop alternatif romantis dengan sentuhan khas era 2000-an. Mereka mengaku terinspirasi oleh sejumlah band besar Indonesia yang sempat mendominasi industri musik pada masa tersebut, seperti Peterpan yang kini bernama NOAH, Nidji, dan D'Masiv.
"Kami ingin membangkitkan gairah musik era itu lagi. Karakter 2000-an memang sudah menyatu dengan kami," ujar Juke.
Dalam proses pengembangan musiknya, Juke juga mendapat arahan dari Nazril atau Ariel NOAH sebagai pengarah musik. Menurut mereka, masukan tersebut membantu menjaga keseimbangan antara idealisme bermusik dan selera pasar.
"Dalam menjaga idealisme bermusik ini, kami juga beruntung dibantu oleh arahan telinga emas dari Bang Nazril (Ariel) yang bertindak sebagai pengarah kami, membimbing bagaimana sebaiknya karakter musik kami dikemas agar idealisme dan selera pasar bisa berjalan beriringan."




