Jakarta (ANTARA) - Palang Merah Indonesia (PMI) Jakarta Timur (Jaktim) menggencarkan pelatihan bagi kader juru pemantau jentik (Jumantik) untuk memperkuat pencegahan dan pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah setempat.
"Melalui kegiatan ini, PMI Kota Jakarta Timur berharap para kader jumantik, relawan, dan staf PMI mampu meningkatkan kapasitas dalam melakukan deteksi dini," kata Ketua PMI Kota Jakarta Timur Bambang Pangestu di Jakarta, Jumat.
PMI Jaktim menggelar pelatihan pengendalian Kejadian Luar Biasa (KLB) dan Surveilans Berbasis Masyarakat (SBM) untuk Dengue sebagai bagian dari implementasi Mosquito Borne Disease Prevention Program (MBDPP).
Menurut Bambang, pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mencegah dan mengendalikan DBD melalui pendekatan berbasis komunitas.
Peserta pelatihan itu merupakan para kader jumantik aktif serta relawan dan staf PMI Kota Jakarta Timur yang akan menjadi penggerak edukasi dan surveilans di wilayah masing-masing.
Baca juga: Rano Karno ingatkan warga Jakarta soal potensi DBD imbas El Nino
Selain itu, program tersebut merupakan bagian dari kerja sama PMI dengan berbagai mitra dalam memperkuat ketangguhan masyarakat terhadap penyakit tular vektor, khususnya di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung yang memiliki risiko tinggi terhadap penyebaran DBD.
"Selama pelatihan, peserta memperoleh materi mengenai konsep dasar Pengendalian KLB, SBM, pengendalian vektor, komunikasi risiko, hingga penyusunan rencana tindak lanjut di tingkat komunitas," jelas Bambang.
Proses pembelajaran dalam program itu menggunakan metode partisipatif yang memadukan penyampaian materi, diskusi kelompok, studi kasus, simulasi, presentasi, dan evaluasi melalui tes sebelum pelatihan dan sesudah pelatihan.
Bambang berharap pelatihan tersebut dapat memberikan wawasan komprehensif mengenai strategi pencegahan dengue berbasis masyarakat kepada seluruh peserta.
"Semoga peserta mendapatkan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pemberantasan sarang nyamuk (PSN), serta memperkuat koordinasi dengan fasilitas kesehatan dan pemerintah setempat dalam menghadapi potensi KLB DBD," ungkap Bambang.
Sementara itu, diketahui jumlah kasus DBD di Jakarta Timur sejak Januari hingga pertengahan Juni 2026 sebanyak 1.951 kasus. Kasus terbanyak ditemukan di Cakung sebanyak 360, sedangkan terendah di Makasar 113 kasus.
Baca juga: Kasus DBD di Jakbar menurun, Sudinkes ingatkan warga jangan abai PSN
Baca juga: Pemkot Jaksel ajak warga terapkan 3M Plus untuk cegah DBD
"Melalui kegiatan ini, PMI Kota Jakarta Timur berharap para kader jumantik, relawan, dan staf PMI mampu meningkatkan kapasitas dalam melakukan deteksi dini," kata Ketua PMI Kota Jakarta Timur Bambang Pangestu di Jakarta, Jumat.
PMI Jaktim menggelar pelatihan pengendalian Kejadian Luar Biasa (KLB) dan Surveilans Berbasis Masyarakat (SBM) untuk Dengue sebagai bagian dari implementasi Mosquito Borne Disease Prevention Program (MBDPP).
Menurut Bambang, pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mencegah dan mengendalikan DBD melalui pendekatan berbasis komunitas.
Peserta pelatihan itu merupakan para kader jumantik aktif serta relawan dan staf PMI Kota Jakarta Timur yang akan menjadi penggerak edukasi dan surveilans di wilayah masing-masing.
Baca juga: Rano Karno ingatkan warga Jakarta soal potensi DBD imbas El Nino
Selain itu, program tersebut merupakan bagian dari kerja sama PMI dengan berbagai mitra dalam memperkuat ketangguhan masyarakat terhadap penyakit tular vektor, khususnya di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung yang memiliki risiko tinggi terhadap penyebaran DBD.
"Selama pelatihan, peserta memperoleh materi mengenai konsep dasar Pengendalian KLB, SBM, pengendalian vektor, komunikasi risiko, hingga penyusunan rencana tindak lanjut di tingkat komunitas," jelas Bambang.
Proses pembelajaran dalam program itu menggunakan metode partisipatif yang memadukan penyampaian materi, diskusi kelompok, studi kasus, simulasi, presentasi, dan evaluasi melalui tes sebelum pelatihan dan sesudah pelatihan.
Bambang berharap pelatihan tersebut dapat memberikan wawasan komprehensif mengenai strategi pencegahan dengue berbasis masyarakat kepada seluruh peserta.
"Semoga peserta mendapatkan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pemberantasan sarang nyamuk (PSN), serta memperkuat koordinasi dengan fasilitas kesehatan dan pemerintah setempat dalam menghadapi potensi KLB DBD," ungkap Bambang.
Sementara itu, diketahui jumlah kasus DBD di Jakarta Timur sejak Januari hingga pertengahan Juni 2026 sebanyak 1.951 kasus. Kasus terbanyak ditemukan di Cakung sebanyak 360, sedangkan terendah di Makasar 113 kasus.
Baca juga: Kasus DBD di Jakbar menurun, Sudinkes ingatkan warga jangan abai PSN
Baca juga: Pemkot Jaksel ajak warga terapkan 3M Plus untuk cegah DBD





