Di Pelabuhan Patimban, Kolaborasi Indonesia-Jepang Bersandar

kompas.id
12 jam lalu
Cover Berita

Pelabuhan Patimban di Kabupaten Subang, Jawa Barat, tidak hanya menjadi gerbang ekspor dan impor kendaraan serta peti kemas, tetapi juga simbol kolaborasi erat Indonesia-Jepang. Di daerah pantai utara tersebut, sentuhan teknologi negeri matahari terbit begitu terasa.

Dua crane atau alat derek perlahan mengangkat peti kemas ke sebuah kapal di dermaga peti kemas Pelabuhan Patimban, Kamis (9/7/2026) siang. Di sisi lain, ribuan mobil tersusun rapi di terminal kendaraan ke berbagai negara, seperti Filipina, Brunei Darussalam, dan Jepang.

Di balik aktivitas itu tersimpan kisah kolaborasi panjang Indonesia dan Jepang yang tidak hanya menghadirkan infrastruktur baru, tetapi juga membawa teknologi, pengetahuan, dan harapan akan tumbuhnya pusat logistik baru di pesisir utara Jawa. 

Pembangunan pelabuhan seluas 629 hektar ini tidak lepas dari sentuhan Jepang. Proyek itu meliputi pengerjaan dermaga pelabuhan, pemecah gelombang, tanggul laut, reklamasi, akses jalan menuju pelabuhan, hingga perluasan terminal kendaraan dan peti kemas.

”Hampir seluruh pengerjaan konstruksi dilaksanakan oleh konsorsium atau kerja sama operasi (KSO) antara perusahaan Jepang dan perusahaan Indonesia,” ucap Kenichi Iwawa dari PatimOne, konsultan pembangunan Pelabuhan Patimban, kepada awak media asal Indonesia dan Jepang di Patimban.

Baca JugaJepang Ingin Patimban Lekas Rampung

Berbagai proyek itu mendapatkan pinjaman lunak ODA (official development assistance) dari Pemerintah Jepang melalui Badan Kerja Sama Internasional Jepang (Japan International Cooperation Agency/JICA). Pinjaman itu dilakukan dalam tiga tahap, yang dimulai pada tahun 2017 dengan 118,9 miliar yen Jepang. 

Pinjaman pada tahap kedua, tahun 2022, sebesar 70,2 miliar yen Jepang dan pinjaman tahap ketiga sebanyak 83,408 miliar yen Jepang pada 2025. Jumlah total pinjaman diperkirakan mencapai sekitar 272,5 miliar yen Jepang atau sekitar Rp 30 triliun dengan masa pembayaran 40 tahun. 

Transfer teknologi 

Tidak hanya dalam bentuk permodalan, proyek ini juga berupa transfer teknologi dan keahlian Jepang ke negara-negara mitra. Sederet teknologi mutakhir Jepang pun telah diimplementasikan dalam pembangunan dermaga di terminal kendaraan dan peti kemas.

”Proyek ini mengadopsi tiga teknologi utama dari Jepang yang baru pertama kali diterapkan di Indonesia,” ujar Iwawa. Teknologi pertama adalah strutted frame method, yakni penguatan struktur dinding dermaga dengan penahan tanah menggunakan kombinasi tiang pancang, tembok turap, pelat beton, dan pipa baja untuk menahan tekanan tanah serta air. 

”Melalui metode ini, penggunaan material baja dapat dikurangi sekitar 20 persen dan memungkinkan proses konstruksi yang lebih cepat,” lanjut Iwawa. Teknologi kedua adalah cement deep mixing (CDM), yakni metode perbaikan tanah dasar laut dengan memperkuat fondasi di atasnya.

Menurut dia, lapisan dasar laut di Patimban cenderung lunak sehingga perlu diperkuat dengan metode ini. Teknologi ketiga adalah cement pipe mixing (CPM), yakni metode mencampurkan tanah hasil pengerukan dengan semen untuk digunakan kembali sebagai tanah urukan reklamasi.

”Dengan teknologi ini, sekitar 40 persen tanah hasil pengerukan yang biasanya dibuang ke laut lepas dapat dimanfaatkan kembali. Metode ini juga berhasil mengurangi penggunaan pasir hingga sekitar 80 persen dibandingkan dengan metode konvensional,” ungkap Iwawa.

Menariknya, kecanggihan teknologi Jepang tidak lantas menegasikan kearifan lokal. Pembangunan tanggul laut di sisi selatan pelabuhan, misalnya, menggunakan cerucuk dan matras bambu. Ribuan batang bambu yang diikat menjadi satu itu ditancapkan ke dalam tanah sebagai fondasi utama sebelum dilapisi batu.

Tidak hanya dalam pembangunan pelabuhan, operasional Patimban juga menjadi ruang transfer teknologi di antara kedua negara. Di terminal kendaraan, misalnya, pola pengaturan mobil mengikuti cara Pelabuhan Nagoya, Jepang. Terlebih dahulu, mobil memasuki ruang inspeksi untuk diperiksa kondisinya.

Setelah itu, petugas menyortir mobil sesuai merek dan tipenya untuk memudahkan proses penempatan kendaraan sebelum dibawa ke kapal. Dengan cara ini, operasionalisasi di terminal kendaraan bisa lebih efisien. Bahkan, jumlah pengendara yang dibutuhkan hanya tujuh orang.

”Tahun 2023, kami berhasil menangani ekspor mobil sekitar 126.000 unit. Mengingat total ekspor kendaraan Indonesia adalah 518.000 unit per tahun, artinya sekitar 25 persen di antaranya ditangani di Patimban,” ujar Hiroyuki Yazawa, Presiden Direktur PT Patimban International Car Terminal (PICT).

PICT merupakan konsorsium perusahaan asal Jepang yang mengoperasikan terminal kendaraan di Pelabuhan Patimban. Konsorsium ini terdiri dari Toyota Tsusho Group, Toyofuji Shipping Co Ltd, Nippon Yusen Kabushiki Kaisha, dan Kamigumi Co Ltd. PICT mulai beroperasi di Patimban sejak akhir 2021.

”Selain soal operasionalisasi, kami juga sangat fokus pada pengembangan sumber daya manusia. Kami mengirim staf dari Indonesia ke Jepang untuk mengikuti pelatihan di terminal-terminal milik Toyota Tsusho dan Toyofuji,” lanjut Yazawa. 

Baca JugaPelabuhan Patimban Mengejar Peluang Menjadi Gerbang Logistik Baru

Tujuannya, agar standar manajemen, keselamatan, dan efisiensi ala Jepang dapat sepenuhnya diterapkan dan dijalankan oleh tim di Pelabuhan Patimban. Bahkan, dari hal sederhana seperti kedisiplinan orang Jepang menjaga kebersihan juga diterapkan di Patimban. Sepanjang mata memandang, tidak tampak sampah berserakan di terminal.

Meskipun pengelolaan pelabuhan melibatkan perusahaan asal Jepang, Yazawa mengatakan, Patimban ini adalah pelabuhan publik. ”Tentu saja kami mempromosikan pelabuhan ini ke perusahaan Jepang. Tapi, kami juga menarik minat perusahaan lain. Di dekat sini ada BYD, perusahaan dari China, dan VinFast dari Vietnam,” ujarnya.

Volume kendaraan naik

Fuad Rizal, Chief Executive Officer PT Pelabuhan Patimban International, operator utama Patimban, mengatakan, berkisar 70-80 persen ekspor mobil dari Indonesia datang dari Toyota dan Daihatsu. Keduanya adalah perusahaan otomotif asal Jepang.

”Sehingga, sangat logis bagi kami bekerja sama dengan PICT. Terbukti, volume kendaraan di Pelabuhan Patimban terus tumbuh,” ujar Fuad. Hingga Juni 2026, Patimban telah menjadi pintu gerbang ekspor untuk 63.086 mobil atau meningkat dibandingkan dengan periode serupa tahun lalu dengan 54.722 unit.

Setiap tahun, terminal kendaraan, yang seluas 22,4 hektar, dapat melayani ekspor-impor dan permintaan domestik untuk 218.000 kendaraan. Saat ini, pihaknya tengah memperluas kapasitas terminal untuk melayani 600.000 kendaraan per tahun. Kedalaman dermaga pun telah ditingkatkan dari minus 10 meter low water spring (LWS) menjadi minus 14 meter LWS.

Terhitung sejak Kamis (9/7/2026), Patimban juga resmi melayani arus peti kemas ke luar negeri. Terminal kontainer saat ini berkapasitas 250.000 peti kemas ukuran 20 kaki atau TEUs per tahun dan akan diperluas hingga 1,65 juta TEUs per tahun. Pihaknya bermitra dengan PT Patimban Global Gateway Terminal (PGT) untuk mengoperasikan terminal ini.

PGT merupakan perusahaan yang kepemilikannya berasal dari Africa Global Logistic (AGL), Toyota Tsusho, dan PT Samudera Pelabuhan Indonesia. Fuad berharap, berbagai kolaborasi ini, terutama dengan Jepang, dapat mengembangkan Patimban sebagai pelabuhan unggulan tingkat internasional.

Jalan tol ke Patimban ditargetkan selesai pembangunannya pada pertengahan 2027.

”Patimban ini bertujuan untuk melengkapi Pelabuhan Tanjung Priok (Jakarta) yang sudah sangat padat serta menjadi penyangga untuk pertumbuhan ekonomi ke depan. Dengan adanya Pelabuhan Patimban, industri dari kawasan Jawa Barat ataupun Jawa Tengah akan tumbuh,” ucapnya.

Meski demikian, pengembangan Patimban masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya akses tol yang belum terhubung. ”Kalau jalan tol terhubung, waktu tempuh dari kawasan industri hanya 30-40 menit. Saat ini, waktu tempuhnya 1,5-2 jam. Jadi, jika tol terhubung pasti sangat efisien,” katanya. 

Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Patimban Mohd Arief Agustian menambahkan, jalan tol ke Patimban ditargetkan selesai pembangunannya pada pertengahan 2027. Apalagi, pelabuhan ini menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN). Dengan begitu, arus logistik bisa lebih lancar. 

Menurut Kepala Perwakilan Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA) Kantor Indonesia dan ASEAN Takeda Sachiko, Pelabuhan Patimban terus dikembangkan dan ditargetkan tuntas pada 2029. Pihaknya berharap, Patimban menumbuhkan perekonomian wilayah Rebana, yakni Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Subang, dan Sumedang.

”Bagi kami, Patimban adalah simbol kerja sama yang sangat erat antara Jepang dan Indonesia. Kami akan terus mendukung pembangunan di wilayah ini dengan menjadikan Patimban sebagai pusat menarik investasi, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Seleksi Administrasi Calon Sekda Jeneponto, Empat Peserta Lolos
• 5 jam laluterkini.id
thumb
Beredar Nama-Nama Korban Kecelakaan Beruntun di Sibolangit, Jumlah Korban Masih Simpang Siur
• 6 jam laludisway.id
thumb
Slavko Vincic Menangis Saat Diumumkan Jadi Wasit Spanyol vs Argentina di Final Piala Dunia 2026
• 6 jam laluharianfajar
thumb
Tak Ada Demo di Bundaran HI, Puluhan Mobil Polisi Tinggalkan Dukuh Atas Jakpus
• 3 jam lalukompas.com
thumb
Shin Tae-yong Buka Suara soal Persija Tak Turunkan Tim Utama di Piala Presiden 2026
• 4 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.