REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — China akan menyediakan sebanyak 5.000 kesempatan pelatihan dan seminar mengenai kecerdasan buatan (AI) bagi negara-negara berkembang dalam lima tahun mendatang.
Komitmen tersebut disampaikan Presiden China Xi Jinping saat memberikan pidato utama pada pembukaan Konferensi AI Dunia 2026 dan Pertemuan Tingkat Tinggi Tata Kelola AI Global di Shanghai, Jumat (17/7/2026).
Baca Juga
Tiga Duel Individu Argentina Vs Spanyol yang Bisa Tentukan Hasil Akhir Laga Final
PLN Beri Diskon 50 Persen Tambah Daya Listrik hingga 27 Juli 2026
Kebanyakan Scrolling? Yuk Olahraga Untuk Bantu Jaga Fungsi Otak
Program pelatihan itu menjadi bagian dari upaya Beijing memperluas kerja sama internasional di bidang teknologi sekaligus membantu negara-negara berkembang meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam pemanfaatan dan tata kelola AI.
Xi menekankan pentingnya kerja sama global agar perkembangan kecerdasan buatan dapat memberikan manfaat yang lebih luas dan tidak hanya dikuasai oleh negara-negara maju maupun perusahaan teknologi besar.
.rec-desc {padding: 7px !important;} Cara Baru Tantang AS?
Pengumuman Presiden China Xi Jinping untuk menyediakan 5.000 kesempatan pelatihan dan seminar kecerdasan buatan (AI) bagi negara-negara berkembang bukan sekadar program peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Di baliknya, Beijing sedang mengirimkan pesan yang lebih besar: China ingin menjadi pemimpin baru dalam tata kelola dan penyebaran teknologi AI global, sekaligus menawarkan alternatif terhadap dominasi Amerika Serikat yang selama ini memimpin industri AI dunia.
Selama beberapa tahun terakhir, persaingan China dan Amerika Serikat tidak lagi terbatas pada perang dagang maupun perebutan pasar semikonduktor. Persaingan telah bergeser ke penguasaan teknologi strategis seperti kecerdasan buatan. Washington mengandalkan perusahaan-perusahaan raksasa seperti OpenAI, Google, Anthropic, Meta, dan Microsoft, sementara Beijing mendorong perusahaan domestik seperti Huawei, DeepSeek, Moonshot AI, Biren, hingga MetaX untuk membangun ekosistem AI yang tidak bergantung pada teknologi Amerika.
Dalam konteks itulah, pelatihan AI bagi negara-negara berkembang menjadi instrumen diplomasi yang bernilai strategis. Dengan membagikan pengetahuan, pengalaman, serta akses terhadap teknologi AI, China berharap semakin banyak negara di Asia, Afrika, Amerika Latin, dan kawasan Global South yang mengadopsi standar, infrastruktur, maupun ekosistem digital yang dikembangkan Beijing. Pendekatan ini berbeda dengan kompetisi yang semata-mata berorientasi pada penjualan produk teknologi; China berupaya membangun hubungan jangka panjang melalui transfer kapasitas dan kerja sama kelembagaan.