EtIndonesia.com Situasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Disebutkan bahwa pada pukul 15.00 waktu Pantai Timur AS, militer Amerika melancarkan gelombang serangan kedua pada hari itu. Sebelumnya, Presiden Donald Trump dikabarkan mengungkap apa yang disebut sebagai “daftar target penghancuran” dan memperingatkan bahwa pekan depan Amerika akan mulai menyerang pembangkit listrik serta jembatan di Iran apabila Teheran tidak kembali ke meja perundingan.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa Trump telah mengadakan rapat di Situation Room bersama sejumlah pejabat kabinet untuk membahas kemungkinan pelaksanaan serangan yang lebih besar pada tahap berikutnya.
Trump Ancam Serang Infrastruktur IranSetelah beberapa malam berturut-turut melakukan operasi militer, pasukan Amerika pada siang hari waktu Iran dilaporkan menyerang sistem pertahanan pantai serta fasilitas penyimpanan dan peluncuran rudal jelajah di Pulau Greater Tunb, sebuah lokasi strategis di pintu masuk barat Selat Hormuz. Serangan tersebut disebut berlangsung sekitar 90 menit.
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menjelaskan target operasi berikutnya apabila Iran tetap menolak berunding.
“Minggu depan mereka benar-benar akan menghadapi masa yang sangat sulit. Karena minggu depan giliran pembangkit listrik dan jembatan yang akan menjadi sasaran. Kami akan melumpuhkan seluruh pembangkit listrik mereka dan menghancurkan jembatan-jembatan mereka, kecuali mereka bersedia kembali ke meja perundingan,” katanya.
Namun demikian, Trump juga menyatakan bahwa Iran kembali menghubungi Amerika Serikat untuk mengupayakan perundingan damai.
“Mereka ingin berunding. Saya mengatakan kepada mereka, lebih baik berunding, kalau tidak hasil akhirnya mereka tidak akan memiliki apa-apa,” lanjutnya.
Serangan Militer BerlanjutMenurut laporan tersebut, pada Selasa malam waktu Pantai Timur AS, militer Amerika mengerahkan kekuatan udara dan laut dalam operasi selama tujuh jam yang menyerang puluhan sasaran militer di sekitar Selat Hormuz dan wilayah pesisir Iran.
Operasi itu melibatkan pesawat tempur, pesawat nirawak (drone), serta kapal perang Angkatan Laut AS yang meluncurkan senjata berpemandu presisi ke berbagai lokasi, termasuk:
- Posisi rudal Iran.
- Basis pesawat nirawak.
- Fasilitas Angkatan Laut Iran.
- Sistem pertahanan pantai.
Tujuannya disebut untuk mengurangi kemampuan Iran dalam mengancam jalur pelayaran internasional dan keselamatan awak kapal.
Laksamana Brad Cooper juga mengecam Iran dengan menuduh bahwa selama sepekan terakhir Iran sengaja menyerang warga sipil, termasuk menyerang tujuh kapal dagang yang menyebabkan sekitar 12 awak kapal tewas, hilang, atau terluka. Iran juga dituduh meluncurkan puluhan rudal dan drone ke negara-negara Teluk.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) itu menyatakan bahwa saat ini lebih dari 20 kapal perang Angkatan Laut AS serta ratusan pesawat militer sedang menjalankan operasi di kawasan tersebut.
Dilaporkan Bahas Serangan yang Lebih BesarMedia Axios, mengutip tiga sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, melaporkan bahwa Presiden Trump telah mengumpulkan Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dan pejabat tinggi lainnya dalam rapat Situation Room untuk membahas kemungkinan melancarkan serangan yang lebih besar dibanding operasi yang sedang berlangsung.
Menurut laporan itu, sebagian pengamat menilai Trump mungkin mempertimbangkan peningkatan tekanan militer guna memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz. Bahkan, menerima tuntutan Amerika Serikat dalam perundingan mengenai program nuklir.
Pada hari yang sama, Departemen Keuangan AS juga mengumumkan sanksi terhadap tujuh individu dan organisasi yang dituduh terlibat dalam jaringan pengadaan senjata bagi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Seluruh aset dan kepentingan mereka di Amerika Serikat dibekukan.
Laporan Mengenai Dugaan Bantuan dari TiongkokLaporan NTD juga menyebut bahwa mantan Menteri Luar Negeri Iran yang kini menjadi anggota parlemen, Manouchehr Mottaki, melalui media pemerintah Iran menyerukan agar Iran mempertimbangkan operasi darat untuk menyusup ke sebuah pangkalan militer Amerika di Timur Tengah dan menyandera ribuan personel militer AS sebagai bentuk pembalasan.
Di tengah meningkatnya ketegangan, muncul pula laporan yang menyebut dua pesawat angkut militer Angkatan Udara Tiongkok mendarat di Iran tanpa mengaktifkan transponder selama penerbangan, sehingga memunculkan berbagai spekulasi.
Selain itu, disebutkan pula bahwa tiga pesawat kargo Boeing 747 yang berangkat dari Tiongkok dengan tujuan resmi Luksemburg tidak memasuki wilayah udara Eropa dan menghilang dari radar ketika mendekati Iran. Sebagian pihak menduga penerbangan tersebut mungkin berkaitan dengan pengiriman perlengkapan militer.
Laporan tersebut menyebut adanya spekulasi bahwa Beijing kemungkinan membantu meningkatkan kemampuan pertahanan Iran dalam menghadapi tekanan militer dari Amerika Serikat.
Laporan dari reporter NTD Television, Wang Ziyi.





