Sampit: Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit mengungkapkan puncak musim kemarau di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, mengalami pergeseran.
“Pada rilis pertama kami, puncak musim kemarau itu diprakirakan Agustus, tetapi setelah kami ulas kembali dan kami rilis untuk Kotim puncak kemarau itu di September. Jadi ada pergeseran,” kata Kepala BMKG Kotim, Mulyono Leo Nardo, di Sampit, Jumat, 17 Juli 2026, melansir Antara.
Perubahan itu berkaitan dengan bergesernya awal musim kemarau. Semula awal musim diprakirakan terjadi pada awal Juni, tetapi kemudian bergeser menjadi Juni dasarian II atau sekitar pertengahan Juni.
“Pada awal Juni masih ada kegiatan operasi modifikasi cuaca, sehingga sampai akhir Juni curah hujan masih lumayan banyak,” ujar dia.
Baca Juga :
El Nino Berbeda dengan Musim Kemarau, Ini Penjelasan BMKG"Tahun ini fenomena El Nino menuju kuat. Jadi kita menghadapi musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang dibanding tahun-tahun sebelumnya," kata dia.
Mulyono mengatakan suhu udara di Kotim belum menunjukkan peningkatan yang terlalu ekstrem. Hingga saat ini suhu maksimum harian masih berkisar 33 derajat Celsius, sehingga belum berbeda jauh dari kondisi normal.
Ilustrasi kekeringan. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/agr
Namun, kekeringan mulai terjadi sejalan dengan meningkatnya kemunculan hot spot atau titik panas. Bahkan, peta potensi kemudahan terjadinya kebakaran dalam beberapa hari terakhir menunjukkan indikator warna merah yang berarti sangat mudah terbakar.
Oleh sebab itu, BMKG mengingatkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau, terutama dengan tidak membuka lahan menggunakan cara dibakar yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Selain menjaga lingkungan, masyarakat juga diimbau memperhatikan kondisi kesehatan karena intensitas hujan mulai berkurang sementara cuaca panas lebih dominan dalam beberapa pekan terakhir.




