Mendagri Anggap Gaji Kepala Daerah Tak Sebanding Ongkos Politik, Ini Rinciannya

liputan6.com
5 jam lalu
Cover Berita

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyoroti besaran gaji kepala daerah yang dinilainya tak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan saat mengikuti pemilihan kepala daerah (Pilkada).

Menurut Tito, gaji yang diterima kepala daerah hanya sekitar Rp6 juta per bulan di luar sejumlah tunjangan.

Advertisement

BACA JUGA: Mendagri Tito Ungkap Strategi Pencegahan Korupsi di Daerah

Gaji pokok kepala daerah diatur dalam PP Nomor 59 Tahun 2000, sementara tunjangan jabatan dan biaya operasional diatur melalui regulasi tersendiri.

"Gajinya pun berapa? Gajinya kepala daerah itu Rp 6 juta lebih ya. Kemudian ditambah dengan tunjangan-tunjangan yang mungkin jauhlah dari yang sudah dikeluarkan itu. Nah, di antaranya lagi ada usulan kepala daerah mereka bisa mendapatkan persentase dari PAD," kata Tito di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (16/7/2026).

Pernyataan itu disampaikan Tito saat menjelaskan salah satu faktor yang dinilainya dapat mendorong kepala daerah mencari pemasukan lain setelah terpilih.

Menurut dia, biaya yang dikeluarkan untuk mengikuti Pilkada sangat besar, sementara pendapatan resmi kepala daerah relatif terbatas.

"Kita tahu juga bahwa saya sudah pernah menyampaikan mungkin bahwa biaya rekrutmen mereka itu tidak murah. Semua sudah jadi pembicaraan umum, pengetahuan umum bahwa untuk menjadi kepala daerah itu kan tidak gratis. Mereka harus menyiapkan yang resmi saja menyiapkan tim sukses, menyiapkan kampanye. Biayanya tinggi," ujarnya.

"Ini salah satu akar masalah. Dia mengeluarkan biaya sementara take home pay-nya mereka, pendapatan mereka mungkin tidak bisa menutupi, akhirnya cari peluang," sambung Tito.

Meski demikian, Tito menegaskan tidak semua praktik korupsi dipicu oleh faktor ekonomi. Menurutnya, ada pula kepala daerah yang melakukan penyimpangan karena faktor pribadi.

"Bisa juga dikarenakan faktor perorangan. Sudah cukup, tapi kemudian ingin lebih. Dan sekali lagi kepala daerah ini kan dipilih rakyat ya, sepanjang dia populer disukai ya kemudian terpilih. Ada yang paham birokrasi, ada juga yang tidak mengerti tentang administrasi sehingga mengandalkan kepada pejabat birokratnya, Sekda, BPKAD, Bappeda," katanya.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
DKI Jakarta Tegaskan Larang Penjualan Daging Anjing dan Kucing, Ini Dasar Aturannya
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
TNI AU Kirim Lima Jet Tempur T-50i ke Latihan Udara Multinasional di Australia
• 11 jam lalukatadata.co.id
thumb
Asabri Gandeng Lebih dari 500 Rumah Sakit untuk Perkuat Layanan Jaminan Kecelakaan Kerja
• 16 jam lalupantau.com
thumb
Kursumawati, BRILink Agen Inspiratif Penggerak Literasi dan Inklusi Keuangan di Serbalawan Sumut
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
[FULL] Temuan Polres Siak soal Teka-Teki Kematian Dokter Residen di Semak Belukar
• 21 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.