JAKARTA, KOMPAS – Kinerja dunia usaha diperkirakan masih akan berada dalam jalur ekspansif pada triwulan III tahun 2026. Namun, tren ini sedikit menurun dibanding triwulan sebelumnya. Kondisi tersebut turut berpengaruh terhadap permintaan kredit perbankan ke depan.
Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha Triwulan II-2026 yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI) mengindikasikan kinerja kegiatan dunia usaha meningkat. Ini tercermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 12,97 persen, lebih tinggi dari triwulan sebelumnya sebesar 10,11 persen.
SBT merupakan indikator yang menghitung selisih antara persentase responden yang memberikan jawaban meningkat dengan persentase responden yang memberikan jawaban menurun. Dalam survei ini, responden terdiri dari sekitar 3.300 responden di seluruh Indonesia.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan, peningkatan kegiatan usaha itu didorong oleh kenaikan kinerja mayoritas lapangan usaha utama, antara lain pertanian, kehutanan, perikanan, konstruksi, serta pertambangan dan penggalian, sejalan dengan aktivitas usahanya.
Kemudian, tren tersebut juga didorong oleh sektor akomodasi dan makan minum, sejalan dengan terjaganya permintaan masyarakat pada rangkaian periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan puncak musim liburan sekolah pada triwulan II-2026.
“Responden memperkirakan kegiatan usaha pada triwulan III-2026 terjaga dengan SBT sebesar 11,75 persen,” katanya dalam siaran pers, Jumat (17/7/2026).
Dalam hal ini, tren tersebut ditopang oleh kinerja beberapa lapangan usaha yang diperkirakan meningkat, terutama industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, serta reparasi mobil dan motor, sejalan dengan prakiraan terjaganya permintaan masyarakat.
Lebih lanjut, peningkatan juga terjadi pada sektor konstruksi seiring dengan berlanjutnya pengerjaan sejumlah proyek pemerintah dan swasta. Selain itu, sektor pertambangan dan penggalian juga diperkirakan meningkat, dipengaruhi oleh turunnya curah hujan yang mendorong aktivitas pertambangan.
Meski prospek kegiatan usaha diklaim tetap terjaga, SBT cenderung menurun, dari 12,97 persen pada triwulan II-2026 menjadi 11,75 persen pada triwulan III-2026. Penurunan ini mengindikasikan lebih terbatasnya ekspansi dunia usaha yang turut memengaruhi permintaan kredit.
Di sisi lain, kondisi likuiditas internal dunia usaha menurun. Ini salah satunya tercermin dari turunnya Saldo Bersih Likuiditas dari sebesar 17,05 persen pada triwulan I-2026 menjadi 15,03 persen pada triwulan II-2026.
Sejalan dengan itu, kemampuan dunia usaha dalam mencetak laba pun menurun, dari sebesar 14,87 persen pada triwulan I-2026 menjadi 11,87 persen pada triwulan II-2026. Tren tersebut mengindikasikan dana internal perusahaan kian terbatas, sehingga membuka ruang bagi permintaan kredit perbankan.
Ini terutama karena tren kenaikan bunga, kondisi global yang semakin panas, dan belum pulihnya daya beli dari dalam negeri.
Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan berpendapat, kondisi tersebut berdampak terhadap permintaan kredit kepada perbankan secara variatif, dengan kecenderungan menurun.
“Ini terutama karena tren kenaikan bunga, kondisi global yang semakin panas, serta belum pulihnya daya beli dari dalam negeri,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha juga menangkap beberapa faktor yang menghambat rencana investasi, antara lain suku bunga (16,16 persen), perizinan (16,07 persen), infrastruktur (8,3 persen), serta kondisi ekonomi dan geopolitik.
Di sisi lain, para responden juga menyoroti kemudahan akses kredit perbankan pada triwulan II-2026 yang cenderung mulai terhambat. Ini tercermin dari turunnya Saldo Bersih (SB) akses kredit, dari sebesar 4,84 persen pada triwulan I-2026 menjadi 2,45 persen pada triwulan II-2026.
Trioksa memperkirakan berbagai faktor tersebut akan membuat pertumbuhan kredit korporasi cenderung melambat. Per Mei 2026, penyaluran kredit korporasi oleh industri perbankan tercatat tumbuh sebesar 18,39 persen secara tahunan.
“Untuk kredit korporasi akan melandai dari pertumbuhan saat ini sekitar 18 persen menjadi 15-17 persen, sedangkan untuk kredit industri perbankan secara keseluruhan berkisar 8-10 persen secara tahunan,” katanya.
Dalam hal ini, permintaan kredit cenderung akan ditopang oleh sektor-sektor yang berkaitan dengan belanja pemerintah. Sebaliknya, permintaan kredit dari segmen ritel atau konsumen cenderung akan berada dalam tekanan.
Kondisi tersebut sejalan dengan antisipasi industri perbankan terhadap risiko pengetatan likuiditas ke depan. Meski saat ini kondisi likuiditas masih terjaga, bank cenderung akan selektif dalam menyalurkan kredit sebagai langkah mitigasi dari risiko tersebut.
Sebelumnya, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN Nixon LP Napitupulu menyebut, kenaikan suku bunga acuan dan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (BI) telah menimbulkan persaingan likuiditas di pasar semakin ketat.
“Game changer-nya hari ini adalah likuiditas. Kita tidak bisa memaksa kredit tumbuh dalam kondisi uang tidak ada,” ujarnya dalam konferensi pers ”Paparan Kinerja Semester I-2026” di Jakarta, Kamis (16/7/2026) sore.
Hingga Juni 2026, penyaluran kredit oleh BTN tercatat sebesar Rp 418,11 triliun atau tumbuh 11,2 persen secara tahunan. Kendati demikian, perseroan menargetkan pertumbuhan kredit hingga akhir tahun berada dalam kisaran 8-10 persen.





