Media Inggris melaporkan bahwa pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping tetap terobsesi oleh persaingan teknologi tinggi dengan Amerika Serikat, tetapi mengabaikan krisis ekonomi dalam negerinya yang semakin serius. Media Jerman mengklaim bahwa robot humanoid sedang menjatuhkan Xi Jinping. Beberapa self-media menafsirkan hal itu sebagai PKT sedang mengikuti jalan runtuhnya Uni Soviet.
Pada 21 Juni, Media Jerman “Deutsche Welle” menerbitkan kutipan dari sebuah artikel di The Economist yang berjudul “Apakah robot humanoid sedang menjatuhkan Xi Jinping?”
Judul asli artikel tersebut adalah “PKT memiliki inovasi, tetapi ekonominya berantakan—mana yang lebih penting?”. Artikel menyebutkan bahwa taruhan Xi Jinping pada perekonomian adalah bahwa model pertumbuhan baru berkembang lebih cepat daripada model lama yang didorong oleh sektor properti yang sedang runtuh. Ini adalah sebuah pertaruhan yang berisiko tinggi.
Artikel tersebut mengutip analisis dari seorang penasihat senior di tingkat pusat PKT, yang menunjukkan bahwa obsesi untuk memenangkan perlombaan teknologi seperti “ilmu pelet” yang secara tidak sengaja ditimpakan kepada para pemimpin PKT oleh Amerika Serikat. Perlombaan ini telah mendistorsi prioritas para pengambil keputusan PKT, mendorong mereka untuk sangat fokus—mungkin berlebihan—pada teknologi mutakhir sementara terlalu sedikit yang dilakukan untuk mengatasi masalah ekonomi kronis yang sedang dihadapi PKT saat ini.
Artikel tersebut menyatakan bahwa kebijakan industri Xi Jinping telah memicu persaingan sengit antara perusahaan dan wilayah. Tekanan persaingan yang ekstrem ini telah menurunkan harga dan menekan keuntungan perusahaan. Proporsi perusahaan industri yang merugi melonjak ke rekor tertinggi sekitar 32% pada bulan April tahun ini, melampaui puncak sebelumnya selama krisis keuangan Asia 1998. Utang perusahaan tetap tinggi dan terus meningkat.
Artikel tersebut menunjukkan bahwa meskipun produksi robot humanoid di Tiongkok mungkin bertambah, tetapi permintaan domestik tetap lemah. Untuk meningkatkan kepercayaan konsumen Tiongkok, beberapa “kesuksesan teknologi tinggi” saja jauh dari cukup.
Beberapa self-media berbahasa Mandarin menafsirkan artikel ini sebagai indikasi bahwa PKT, mengabaikan krisis ekonominya sendiri, mempertaruhkan segalanya pada persaingan teknologi dengan Amerika Serikat. Ini mengindikasikan bahwa Xi Jinping sedang memimpin PKT menempuh jalan “perlombaan ruang angkasa AS-Uni Soviet” yang meruntuhkan Uni Soviet.
Dalam programnya “Wen Zhao Official” komentator Wen Zhao menyebutkan bahwa pada tahun 1980-an, di akhir Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet, pemerintahan Ronald Reagan merancang program “Star Wars,” yang bertujuan untuk membangun sistem pertahanan rudal berlapis dari darat hingga ruang angkasa. Uni Soviet yang khawatir dengan runtuhnya “keseimbangan teror nuklir” yang telah mereka bangun dengan cermat selama bertahun-tahun, selain menyebabkan statusnya sebagai negara adidaya yang setara dengan Amerika Serikat akan hilang, sehingga memilih untuk menyalurkan jumlah dana besar dalam perlombaan ruang angkasa dengan mengabaikan kesulitan ekonomi yang dihadapi dalam negerinya. Akibatnya, sumber daya nasional menipis, semakin menjerumuskan dirinya ke dalam kesulitan keuangan dan sosial, yang mempercepat keruntuhan Uni Soviet.
Wen Zhao menjelaskan bahwa meskipun momentum Uni Soviet mengalami pelemahan pada tahun 1980-an, mungkin negara sosialis komunis itu masih dapat “bertahan lebih lama lagi” jika tidak ikut serta dalam perlombaan ruang angkasa dengan AS. Namun, kenyataannya adalah perlombaan ruang angkasa AS-Soviet menjadi pukulan terakhir yang menghancurkan Uni Soviet, membuat Uni Soviet terpaksa gulung tikar.
Saat ini, pemerintah AS dan PKT telah meluncurkan kompetisi teknologi tinggi di berbagai bidang, termasuk ruang angkasa, militer, semikonduktor, dan AI. Pemerintahan Trump juga meluncurkan Proyek Golden Dome, sistem pertahanan rudal berbasis ruang angkasa. Dalam beberapa tahun terakhir, PKT juga telah berinvestasi besar-besaran di bidang semikonduktor, kendaraan listrik, dan AI, berupaya menyaingi Amerika Serikat untuk dominasi global. (***)





