Selama lebih dari satu abad, Wimbledon dikenal sebagai turnamen tenis yang menjunjung tinggi tradisi. Mulai dari aturan berpakaian serba putih hingga sajian khas stroberi dan krim yang identik dengan turnamen ini, banyak hal di Wimbledon nyaris tak berubah.
Namun, ada satu tradisi yang akhirnya berhasil ditinggalkan dan justru mencatatkan sejarah baru yakni kesetaraan hadiah bagi jawara putra maupun putri.
Pada edisi 2026, Wimbledon mencatatkan total hadiah terbesar sepanjang sejarah, yakni £64,2 juta atau sekitar Rp 1,4 triliun, naik 20 persen dibanding tahun sebelumnya. Juara tunggal putra dan putri sama-sama menerima hadiah sebesar £3,6 juta atau sekitar Rp 79,2 miliar, naik dari £3 juta atau sekitar Rp 66 miliar pada 2025.
Kesetaraan hadiah ini mungkin terasa wajar saat ini. Namun pada kenyataannya, sebelum tahun 2007, Wimbledon masih menjadi satu-satunya turnamen Grand Slam yang memberikan hadiah lebih besar kepada juara putra dibanding juara putri.
Perjalanan panjang menuju hadiah yang setaraKesetaraan hadiah di tenis tidak terjadi dalam semalam. Perubahan ini juga bukan kebijakan yang tiba-tiba muncul, melainkan lahir dari perjuangan panjang para petenis perempuan yang berani memprotes ketidakadilan dan menuntut penghargaan yang setara atas prestasi mereka.
US Open menjadi turnamen olahraga pertama yang menerapkan hadiah setara bagi atlet putra dan putri pada 1973. Keputusan tersebut lahir setelah legenda tenis Billie Jean King mengancam tidak akan kembali bertanding apabila hadiah untuk petenis perempuan tetap lebih rendah. Langkah itu kemudian diikuti Australian Open pada 2001 dan French Open pada 2006.
Wimbledon baru menyusul pada 2007 setelah mendapat tekanan dari berbagai pihak, termasuk petenis putri, Venus Williams. Setelah menjuarai Wimbledon pada 2005, petenis asal Amerika Serikat itu memanfaatkan posisinya sebagai juara untuk menyuarakan ketidakadilan tersebut. Ia berbicara langsung di hadapan Komite Grand Slam dan mendesak agar besaran hadiah untuk petenis putra dan putri bisa disamakan.
Namun, tuntutan itu belum membuahkan hasil. Pada 2006, Wimbledon masih mempertahankan perbedaan hadiah. Venus pun memilih jalur lain. Ia menulis artikel opini di The Times berjudul 'Wimbledon Has Lost Its Way'. Dalam tulisannya, Venus menilai Wimbledon telah mengirim pesan bahwa perempuan adalah "juara kelas dua" (second-class champion). Menurutnya, turnamen yang menjunjung tinggi tradisi seharusnya juga menjunjung prinsip keadilan.
Desakan tersebut mendapat dukungan dari banyak pihak, mulai dari Women's Tennis Association (WTA), Billie Jean King, hingga sejumlah tokoh olahraga dan politik di Inggris. Tekanan yang terus menguat akhirnya membuahkan hasil. Pada Februari 2007, All England Club mengumumkan bahwa mulai Wimbledon 2007, juara tunggal putra dan putri akan menerima hadiah yang sama.
Menariknya, Venus kembali menjuarai Wimbledon pada tahun yang sama. Kemenangan itu menjadikannya petenis putri pertama dalam sejarah Wimbledon yang menerima hadiah juara dengan nominal yang sama persis seperti juara putra, Roger Federer.
Meski seluruh turnamen Grand Slam kini telah menerapkan hadiah yang setara, bukan berarti persoalan tersebut telah selesai.
Melansir World Economic Forum (WEF), masih banyak turnamen ATP dan WTA yang menawarkan hadiah lebih rendah bagi petenis perempuan. Sebagai upaya memperkecil kesenjangan, Lawn Tennis Association (LTA) Inggris pada 2025 berkomitmen menyamakan hadiah untuk seluruh turnamen ATP dan WTA yang mereka selenggarakan paling lambat pada 2029.
Tenis juga menjadi salah satu cabang olahraga pertama yang memperkenalkan program cuti melahirkan berbayar bagi atlet profesional. Namun, kebijakan seperti ini masih belum banyak diterapkan di cabang olahraga lainnya.
Tantangan atlet perempuan tak berhenti pada besaran hadiah uangUN Women mencatat, olahraga perempuan kini memang mendapatkan perhatian yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya. Meski demikian, masih terdapat berbagai kesenjangan yang dihadapi atlet perempuan.
Para atlet putri masih memiliki peluang profesional yang lebih sedikit, menerima pendapatan yang lebih rendah, memperoleh sponsor yang lebih terbatas, hingga menghadapi fasilitas dan kondisi bertanding yang belum setara.
Kesenjangan itu juga terlihat dari daftar atlet dengan bayaran tertinggi di dunia. Pada 2025, tidak ada satu pun atlet perempuan yang masuk dalam daftar 50 atlet dengan penghasilan terbesar.
Sebagian pihak berpendapat kondisi tersebut dipengaruhi oleh jumlah penonton dan pendapatan olahraga perempuan yang selama ini lebih kecil dibanding olahraga laki-laki. Namun, banyak pihak juga menilai bahwa stereotip dan bias yang telah mengakar selama bertahun-tahun masih menjadi hambatan utama bagi perkembangan olahraga perempuan.
Olahraga perempuan menunjukkan pertumbuhan pesatMenariknya, WEF justru mencatat bahwa olahraga perempuan tengah menunjukkan perkembangan yang signifikan. Menurut Kim Piaget, Insights Lead, Diversity, Equity, Inclusion and Social Justice di WEF, perjuangan menuju kesetaraan hadiah mulai menunjukkan hasil, tidak hanya di tenis, tetapi juga di berbagai cabang olahraga lainnya.
Piaget mengatakan meningkatnya perhatian publik, dukungan dari sponsor, media, dan organisasi olahraga membuat olahraga perempuan semakin membuktikan nilai ekonominya. Bahkan, dalam empat tahun terakhir, pendapatan olahraga perempuan meningkat sekitar 240 persen secara global.
Tren tersebut turut mendorong pertumbuhan industri olahraga dunia secara umum. Dalam laporan Sports for People and Planet yang diterbitkan World Economic Forum bersama Oliver Wyman, nilai industri olahraga global saat ini mencapai sekitar US$2,3 triliun dan diproyeksikan tumbuh menjadi US$8,8 triliun pada 2050. Berkembangnya olahraga perempuan disebut sebagai salah satu faktor utama yang mendorong pertumbuhan tersebut.
Meski demikian, Piaget menegaskan bahwa kesetaraan di dunia olahraga tidak dapat diukur hanya dari besaran hadiah juara.
"Dengan semakin besarnya perhatian terhadap olahraga perempuan, didukung data yang semakin kuat serta investasi yang semakin tepat sasaran, kini terbuka peluang yang sangat besar untuk menciptakan persaingan yang lebih setara sekaligus mengubah sistem olahraga secara menyeluruh," kata Piaget seperti dikutip WEF.
Riset WEF juga menunjukkan bahwa investasi pada kesetaraan, baik di olahraga maupun sektor lain, dapat menciptakan ekonomi yang lebih tangguh, produktif, dan sejahtera. Namun, berdasarkan Global Gender Gap Report 2025, dengan laju kemajuan saat ini, dunia masih membutuhkan sekitar 123 tahun untuk mencapai kesetaraan gender secara penuh.
Untuk itu, menurut UN Women, olahraga merupakan salah satu sarana penting untuk mempercepat kesetaraan gender. Perempuan yang aktif berolahraga cenderung bertahan lebih lama di bangku pendidikan dan memiliki peluang kerja yang lebih baik. Dengan meningkatnya perhatian, dukungan, dan investasi terhadap olahraga perempuan, Piaget menilai saat ini menjadi momentum penting untuk menciptakan sistem olahraga yang lebih setara.





