Presiden Prabowo Subianto ingin mempercepat pengembangan industri bioetanol nasional dengan membangun sekitar 30 pabrik baru. Hal itu untuk mendukung implementasi bahan bakar campuran etanol 10 persen (E10).
"Kita mampu menuju E10. Jadi nanti bensin bisa dicampur dengan 10% etanol," kata Prabowo saat Panen Raya di Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7).
Berdasarkan laporan yang diterimanya, Prabowo menyatakan Indonesia bahkan memiliki potensi untuk meningkatkan kadar campuran bioetanol hingga 20% (E20).
Namun hal tersebut masih terkendala keterbatasan kapasitas produksi lantaran Indonesia baru memiliki satu pabrik etanol.
"Pabriknya yang kita miliki baru satu pabrik. Tadi saya putuskan kita akan bangun minimal 30 pabrik, kalau perlu sampai 50 pabrik," ucapnya.
Prabowo juga membandingkan perkembangan penggunaan bioetanol di sejumlah negara yang dinilai lebih maju.
"India sudah E20, Brazil sudah E100, masa Indonesia nggak bisa. Indonesia bisa kan? Bisa? Yang nggak mau, nggak apa-apa. Duduk saja, duduk saja nonton," kata Prabowo.
Pemerintah mempercepat rencana pengembangan industri bioetanol nasional E10 sebagai campuran bensin yang bakal dijalankan mulai 2027.
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, menyatakan telah menyiapkan 240 ribu hektare lahan untuk penanaman bahan baku etanol, terutama singkong dan tebu.
“Mencar-mencar (tersebar) di sejumlah provinsi, sementara memang baru sekitar 240 ribu hektare yang tersedia dari target 1 juta hektare,” ujar Nusron saat ditemui di kantor Kementerian PUPR, Rabu (29/10).
Ia menjelaskan, lahan tersebut tersebar di 18 provinsi dan terus diperluas hingga mencapai target 1 juta hektare. Nusron menyebut, dukungan Kementerian ATR/BPN terhadap program swasembada energi nasional dilakukan melalui dua hal: kemudahan tata ruang dan percepatan penyediaan lahan serta perizinan.





