JAKARTA, KOMPAS – Kondisi ekonomi pada paruh kedua tahun ini masih akan menantang bagi permintaan domestik dan sentimen konsumen. Menghadapi situasi itu, sejumlah perusahaan terbuka di sektor konsumer menerapkan strategi yang bervariasi. Mulai dari menahan kenaikan harga produk melalui efisiensi internal hingga ekspansi gerai secara konservatif.
Ekonom Samuel Sekuritas, Fithra Faisal Hastiadi, dalam laporan Samuel Economic Update, yang dikutip Jumat (17/7/2026), mengatakan, tantangan ini tecermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia Juni 2026 yang merosot ke level 117,8 dari level 120,9 pada Mei 2026.
Penurunan ini menandai pelemahan selama tiga bulan berturut-turut sekaligus menjadi angka terendah sejak September 2025. Rumah tangga melaporkan penurunan persepsi terhadap pendapatan saat ini dan masa depan, ketersediaan lapangan kerja, aktivitas bisnis, serta pembelian barang tahan lama.
Kondisi ini sejalan dengan laporan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur yang masuk ke zona kontraksi pada Juni 2026, serta neraca perdagangan Indonesia yang mencatat defisit pertamanya sejak 2020.
"Pada tahapan siklus bisnis ini, konsumen masih mengantisipasi pertumbuhan pendapatan dan aktivitas bisnis untuk berekspansi, meski dengan laju yang lebih lambat dari perkiraan sebelumnya saat kita menuju paruh kedua tahun 2026," katanya.
Dari sisi moneter, Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif sebesar 100 basis poin sejak Mei 2026 menjadi 5,25 persen. Ini ditempuh untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dan menahan inflasi, meski berdampak pada peningkatan biaya pinjaman rumah tangga.
"Kami memperkirakan keyakinan konsumen akan tetap berada di bawah tekanan moderat selama beberapa bulan mendatang karena rumah tangga menyesuaikan diri dengan biaya pinjaman yang lebih tinggi dan inflasi yang meningkat," ujar Fithra.
Di sektor riil, kondisi sektor konsumer dari berbagai subindustri menunjukkan respons operasional yang beragam dalam menghadapi dinamika pasar tahun ini.
Industri makanan dan minuman kemasan, PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD), misalnya, tidak menampik bahwa mereka melakukan penyesuaian ukuran produk dan menahan kenaikan harga agar tidak berdampak langsung ke konsumen. Strategi menjaga harga dan ukuran produk dilakukan untuk merek produk Gery yang berkontribusi pada 30 persen penjualan Garudafood.
Brand Equity Director Garudafood, Niken Esti, saat ditemui di Jakarta, Rabu (15/7/2026), mengatakan, perusahaan belum menyesuaikan ukuran kemasan (adjustment sizing) produk Gery demi mengejar pertumbuhan bisnis dan melayani konsumen secara maksimal.
"Kebetulan kita bisa mengatasi dengan efisiensi internal sehingga tidak membebankan konsumen," katanya.
Selain efisiensi, Garudafood mengandalkan strategi inovasi produk berbasis riset tren pasar internasional. Niken menilai kemampuan membaca tren lebih awal menjadi kunci agar produk tidak sekadar mengikuti tren sesaat, melainkan mampu bertahan dalam jangka panjang.
Perusahaan secara rutin memantau perkembangan tren makanan di berbagai negara, seperti Jepang, Korea Selatan, China, dan Amerika Serikat. Berbagai temuan tersebut kemudian dikurasi melalui proses innovation day, di mana temuan diuji kepada konsumen, dibuat prototipe, hingga diputuskan layak diluncurkan ke pasar.
Perusahaan terbuka yang bergerak di sektor konsumer lain juga dinilai tetap defensif di tengah risiko pelemahan ekonomi hingga akhir tahun.
Tim analis BRI Danareksa Sekuritas, misalnya, menilai kinerja industri pengolahan makanan berbasis unggas (poultry) seperti PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) akan tetap positif dibanding tahun sebelumnya.
Saham perusahaan tersebut pun saat ini dinilai berada dalam pandangan overweight atau layak dibeli karena valuasinya murah sebesar 3,8 kali Price Earning Ratio, yang posisinya sudah di bawah rata-rata lima tahun.
Meskipun menghadapi tantangan biaya bahan baku pakan unggas, pada triwulan II-2026, laba bersih gabungan sektor unggas tersebut diperkirakan mencapai Rp 1,6 triliun. Angka ini turun 65 persen secara triwulanan, tetapi masih tumbuh 77 persen secara tahunan.
Adapun BRI Danareksa Sekuritas mengingatkan adanya risiko tekanan margin di paruh kedua tahun ini akibat kebijakan impor kedelai satu pintu melalui BUMN Berdikari yang berpotensi menaikkan beban biaya. Risiko lain yang dicermati adalah kelanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG), inflasi tinggi, serta pelemahan rupiah.
Di subsektor lain, BRI Danareksa Sekuritas menilai emiten ritel seperti PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) menunjukkan kinerja stabil yang didukung oleh segmen pasar menengah ke atas.
Setelah pertumbuhan penjualan di toko yang sama (SSSG/same store sales growth) melonjak 6,7 persen pada triwulan I-2026 karena efek pasca-Idul Fitri, kinerja SSSG MAPA mengalami normalisasi pada triwulan kedua. Tetapi, normalisasi penjualan ini dinilai tetap positif secara tahunan.
Re-akselerasi penjualan MAPA diperkirakan terjadi pada Juli 2026, yang didorong oleh momentum tahun ajaran baru.
Analis CGS Internasional Sekuritas Indonesia (CGSI), dalam riset yang diterbitkan pada 2 Juli 2026, menyatakan, belanja masyarakat berpendapatan menengah atas yang menjadi segmen utama MAPA tidak akan banyak terganggu dinamika ekonomi di tahun ini, termasuk kenaikan BBM.
CGSI juga memperkirakan, MAPA akan banyak terbantu oleh tren meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat. Dengan portofolio produk olahraga dan gaya hidup, MAPA dapat lebih mudah menangkap permintaan konsumen dan menjaga penjualan.
Tantangan yang mungkin dihadapi adalah beralihnya konsumen ke produk dengan harga lebih terjangkau (down-trading). Manajemen MAPA mengakui pihaknya terdampak pelemahan rupiah yang menjadi beban impor bagi produk internasional mereka. Dalam kondisi ini, manajemen akan membagi beban tersebut ke konsumen dalam bentuk kenaikan harga produk. (Kompas, 2/7/2026)
MAPA menetapkan panduan kinerja sepanjang 2026 bakal konservatif, dengan target SSSG di target rendah satu digit, pertumbuhan penjualan di target tinggi satu digit, serta stabilitas margin laba kotor dan EBIT (laba sebelum bunga dan pajak) yang setara dengan tahun lalu.
MAPA juga merencanakan ekspansi bruto dengan membuka 300 gerai baru yang sekitar 85 persennya berlokasi di dalam negeri, serta mengandalkan akuisisi ”Sports Direct” sebagai motor pertumbuhan.





