Tim dari UB Dorong Eco-Pesantren Nol Limbah di Pamekasan Lewat PMKI 2026

beritajatim.com
4 jam lalu
Cover Berita

Malang (beritajatim.com) – Tim Pengabdian Masyarakat dari Universitas Brawijaya (UB) memelopori gerakan peduli lingkungan berbasis lembaga pendidikan keagamaan di Madura. Berkolaborasi dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universitas Airlangga (Unair), UB sukses menggelar sosialisasi model pembentukan Eco-Pesantren berbasis nol limbah (zero waste).

Kegiatan berlangsung selama dua hari di Kabupaten Pamekasan, tepatnya pada 13 hingga 14 Juli 2026. Program yang diinisiasi UB sebagai ketua tim (host) ini bertujuan mengantisipasi ancaman krisis iklim global sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal. Melalui skema hibah Program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI-A), kegiatan multidisiplin ini mendapat pendanaan untuk menyinergikan kompetensi tiga perguruan tinggi besar di Jawa Timur.

Ketua Tim PMKI UB, Dr. Ir. Rita Parmawati, S.P., M.E., IPU., ASEAN Eng., memaparkan bahwa Pondok Pesantren Matsaratul Huda di Kabupaten Pamekasan dipilih karena memiliki potensi strategis sekaligus tantangan lingkungan yang nyata. Dengan jumlah 678 santri mukim, aktivitas konsumsi harian di dalam pesantren memicu timbulan sampah organik yang diperkirakan mencapai sekitar ±203,4 kilogram per hari.

“Sampah organik sebanyak itu kalau dikelola secara konvensional dengan metode kumpul, angkut, lalu buang ke TPA, akan memicu pembusukan anaerob terbuka. Proses ini melepaskan gas metana ke udara bebas, yang daya rusaknya dalam pemanasan global mencapai 28 hingga 34 kali lebih berbahaya daripada CO2,” terang Dr. Rita Parmawati kepada beritajatim.com, Jumat (17/7/2026).

Dr. Rita menambahkan, dampak buruk pembusukan limbah tersebut tidak hanya berkontribusi pada perubahan iklim global, tetapi juga merusak sanitasi mikro di sekitar lingkungan pondok. Udara menjadi berbau menyengat, lingkungan lembap, dan menjadi sarang penyakit. “Oleh karena itu, UB memimpin kolaborasi ini untuk membentuk embrio Eco-Pesantren yang menerapkan prinsip ekonomi sirkuler,” tuturnya.

Dalam pelaksanaannya, tim UB yang beranggotakan Dr. Prisca Kiki Wulandari, S.Pd., M.Sc. dan Yasa Palaguna Umar, S.TP., M.Sc., Ph.D., bertindak sebagai motor utama penggerak ketahanan pangan dan tata kelola zero waste.

Selain memberikan materi edukasi bertajuk “Edukasi Ketahanan Pangan dan Eco-Pesantren”, tim UB juga menghibahkan mesin pencacah sampah organik. Menariknya, alat pencacah tersebut merupakan produk inovasi yang telah mengantongi sertifikat paten atas nama Universitas Brawijaya.

Pada hari kedua, penguatan materi dilanjutkan oleh perwakilan Universitas Airlangga (Unair), Dr. Sudarmaji, S.KM., M.Kes., yang menyampaikan materi “Edukasi Program Sanitasi Lingkungan Pondok dan Kampung Iklim untuk Kesehatan Lingkungan”.

Tim Unair memimpin pelatihan teknis pemanfaatan sampah dapur menjadi cairan ramah lingkungan atau eco-enzyme. Melalui rasio pencampuran 1:3:10 (gula/molase, limbah organik dapur, dan air), pembusukan terbuka dapat ditekan. Cairan hasil fermentasi tersebut diproyeksikan menjadi pupuk cair alami, biopestisida, bahan pembersih lantai, hingga bioaktivator untuk menetralkan bau pada instalasi air MCK pondok.

Sementara itu, delegasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang diwakili Dr. Eng. Ir. Arie Dipareza Syafei, S.T., MEPM., IPU., ASEAN Eng., membawakan materi “Edukasi Urban Heat melalui Penghijauan”. ITS berfokus pada analisis mitigasi gas rumah kaca serta penurunan efek panas lokal (urban heat) untuk menstabilkan kualitas udara mikro di sekitar kawasan permukiman.

Setelah sosialisasi dan pelatihan intensif tersebut, Dr. Rita menegaskan program keberlanjutan UB tidak akan berhenti sampai di situ. Rencana aksi lanjutan telah disusun untuk diimplementasikan secara berkala.

“Untuk tahapan kegiatan berikutnya, kami dari Universitas Brawijaya akan mendampingi santri menanam tanaman pangan produktif seperti sayur-sayuran dengan memanfaatkan 150 bibit di sekitar pondok. Sedangkan rekan-rekan dari ITS akan mendukung langkah adaptasi mikroklimat dengan menanam 100 bibit pohon tabebuya di area dalam dan luar pondok, menyasar sepanjang wilayah Desa Panempan,” urai dosen UB tersebut.

Melalui sinergi lintas kampus yang dikomandoi UB ini, model Eco-Pesantren di Pamekasan ditargetkan mampu mengurangi sedikitnya 30 persen total sampah organik secara mandiri. Berdasarkan parameter pengujian ilmiah pre-test dan post-test, program ini juga ditargetkan meningkatkan tingkat literasi kebersihan lingkungan para santri hingga lebih dari 20 persen.

“Output jangka panjang dari pengabdian kolaboratif ini adalah lahirnya Unit Pengelola Eco-Pesantren mandiri yang dilengkapi dokumen Standar Operasional Prosedur (SOP) baku sehingga siap dijadikan percontohan nasional dan direplikasi oleh berbagai pondok pesantren lain di Jawa Timur,” tutup Dr. Rita. (dan/kun)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Camat Klarifikasi Usai Video Dirinya Asyik Main Gim di Ruang Rapat DPRD Viral, Ini Katanya!
• 2 jam lalukompas.tv
thumb
Anjasmara Viral Usai Diduga Tuding Syifa Hadju Selingkuhi Rizky Nazar di Masa Lalu, Denny Sumargo Beri Tanggapan Ini
• 10 jam lalugrid.id
thumb
Perempuan di Nganjuk Bunuh Ayah Angkat karena Dendam dan Cinta Tak Direstui
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Dari Medan hingga Jakarta, Nobar Piala Dunia 2026 BRI Hadirkan Kebersamaan yang Berkesan
• 4 jam lalumedcom.id
thumb
Meta Bakal Beri Peringatan ke Orang Tua Jika Anak Bahas Self-Harm dengan AI
• 2 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.