MALANG, KOMPAS — Presiden Prabowo Subianto mengatakan akan dilakukan peremajaan terhadap semua tanaman tebu di Tanah Air. Proses peremajaan tersebut ditargetkan berlangsung dalam dua tahun.
Hal itu disampaikan Presiden saat berpidata pada acara panen raya dalam rangka TNI Mendukung Program Ketahanan Pangan Nasional di Pangkalan TNI Angkatan Udara Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7/202) sore. Kegiatan panen raya dilakukan serentak pada 34 titik.
“Mentan (Menteri Pertanian) tadi sampaikan kepada saya sudah 12 tahun tidak ada peremajaan tebu. Kita akan meremajakan semua tebu yang kita miliki,” ujarnya sebagaimana disiarkan secara langsung melalui beberapa stasiun televisi dan kanal Youtube.
Menurut Prabowo program ini tadinya diperkirakan bisa selesai dalam waktu empat tahun. Namun, setelah dirinya menanyakan lagi ke Mentan Andi Amran Sulaiman, yang bersangkutan menyanggupi selesai dalam dua tahun.
Prabowo mengatakan taget swasembada pangan sudah tercapai. Sekarang Indonesia tengah menuju swasembada energi. Swasembada air juga sedang dirintis sehingga semua rakyat memiliki akses terhadap air bersih dan air untuk tanaman.
“Kita sedang adakan penertiban besar-besaran terhadap kegiatan-kegiatan ilegal, penyeludupan, tambang ilegal, perkebunan ilegal, perikanan ilegal, permainan dagang ilegal, pekerjaan kita besar. Tapi Insyallah dengan tekad, dengan hati, dengan kehendak kita akan mencapai yang kita inginkan,” katanya.
Presiden juga menyinggung baru-baru ini Indonesia berhasil memulai pembangunan blok gas salah satu kawasan terbesar setelah 28 tahun mangkrak. Presiden juga menyebut Indonesia menjadi negara pertama yang menghasilkan B50 sehingga mulai bulan Juli ini tidak lagi impor solar dari luar negeri.
Selanjutnya, Indonesia mulai menuju Etanol 10 (E10), yakni campuran bahan bakar bensin dengan 10 persen etanol. “Petugas (saat presiden tinjau pameran) tadi katakan kita bisa sampai E20, butuh pabrik. Pabrik yang kita punya satu tadi, kita putuskan kita akan bangun minimal 30 pabrik. Kalau perlu sampai 50 pabrik. India sudah E20, Brazil sudah E100, masa Indonesia tidak bisa? Indonesia bisa kan? Bisa,” tegas Prabowo yang juga menyinggung bahwa sebentar lagi kita memiliki sepeda motor nasional, berupa sepeda motor listrik.
Adapun terkait panen raya oleh TNI, Prabowo mengatakan kegiatan ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan saja urusan Kementan namun gerakan nasional yang melibatkan seluruh kekuatan bangsa. “Saya menghargai semangat persatuan, kolaborasi, dan gotong-royong dari seluruh komponen bangsa,” katanya.
Dua bulan lalu, kata Prabowo kita menyaksikan panen raya jagung bersama Polri. Sekarang panen raya berama TNI. Hal ini menunjukkan bahwa TNI-Polri bukan saja penjaga pertahanan dan kemanan negara tetapi keduanya bagian yang tak bisa dipisahkan dari rakyat Indonesia.
“TNI dan Polri adalah anak kandung rakyat. TNI-Polri harus selalu bersama rakyat di tengah-tengah rakyat. Kesulitan rakyat adalah kesulitan TNI–Polri. Selama ada rakyat yang hidupnya susah menjadi kewajiban semua komponen untuk bersatu, bahu membahu berbuat langkah-langkah yang benar, langkah-langkah yang besar, langkah-langkah nyata untuk atasi kesulitan rakyat,” katanya.
Prabowo pun mengajak semua kekuatan untuk bersatu demi bangsa dan rakyat. Ia bilang tidak akan menolerir mereka yang membuat kebijakan dan tindakannya merugikan rakyat. Apalagi mencuri uang rakyat.
Sementara itu, Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto mengatakan, menindaklajuti arahan Presiden, TNI telah melakukan pendampingan terpadu. Jika TNI AU melakukan pendampingan pada komoditas tebu, maka TNI AL pada komoditas kedelai, dan TNI AD padi.
Terkait tebu, TNI AU bersama sinergi perusahaan gula nusantara, swasta, dan asosiasi petani pada panen 2026 telah mendampingi lahan seluas 236.048 hektar (ha) dengan potensi 18,386 juta ton tebu, atau setara 1,36 juta ton gula, dan berkontribusi 45,05 persen terhadap target gula nasional 2026.
Di Lanud Abdulrachman Saleh sendiri, luas tebu siap panen 800,5 ha dengan estimasi hasil 72.045 ton, dengan nilai diterima pabrik rata-rata Rp 720.000 per ton.
Adapun TNI AL mendampingi 2.432 ha lahan dengan produksi total 3.676 ton tersebar di enam wilayah dengan kontribusi 0,35 persen target produksi kedelai nasional 2026. Dalam rangka meningkatkan hasil produksi, hingga Juni telah dibuka lahan baru di lahan TNI AL dan lahan binaan Komando Daerah TNI AL seluas 3.110 ha di tujuh wilayah dengan estimasi hasil 5.287 ton. “Ini akan perkuat kemandirian pangan dan kurangi ketergantungan impor,” katanya.
Di sektor padi, menurut Agus TNI AD pada Juli ini mendampingi panen 479.659 ha. Sejak Januari-Juni pendampingan TNI AD mencakup 6,26 juta ha padi dengan produksi 19,2 juta ton beras atau mendukung 55,24 persen target produksi beras nasional 2026.
“Panen raya ini bukti nyata TNI hadir memperkuat kemandirian pangan dan majukan perekonomian bangsa sebagai fondasi menuju Indonesia emas 2045. Hasil sinergi TNI, pemerintah, BUMN, akademisi dan masyarakat,” katanya.





