AGAM, iNews.id - Seorang perempuan bernama Ayu Elsih (32), warga Garagahan, Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, diduga disekap dan mengalami kekerasan di kawasan Mae Sot-Myawaddy, Myanmar. Keluarga memohon bantuan pemerintah setelah menerima informasi adanya permintaan uang tebusan sebesar Rp220 juta.
Informasi dugaan penyekapan tersebut mulai beredar pada Selasa (14/7/2026). Ayu disebut berada di sebuah kamp di kawasan hutan yang dijaga ketat oleh kelompok bersenjata sehingga tidak dapat meninggalkan lokasi.
Ayu diduga tidak sendirian. Dia disekap bersama rekannya bernama Susi, warga Batam, setelah keduanya menerima tawaran pekerjaan di luar negeri.
Adik Ayu, Yuliza, berharap pemerintah segera mengambil langkah penyelamatan. Kondisi kakaknya disebut semakin memprihatinkan berdasarkan komunikasi terakhir yang diterima keluarga.
"Kami sangat berharap pemerintah segera membantu menyelamatkan kakak kami sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," ujar Yuliza, Jumat (17/7/2026).
Baca Juga:Miris! Gedung SDN Tlomar 2 Bangkalan Mirip Kandang Sapi, 10 Tahun Tak DirenovasiMenurut keluarga, Ayu meninggalkan kampung halaman sekitar satu tahun lalu. Dia awalnya bekerja di Batam bersama Susi, kemudian berpindah ke Malaysia dan Thailand.
Saat berada di Thailand, keduanya mendapat tawaran pekerjaan di sebuah restoran. Namun, keluarga menerima informasi bahwa Ayu dan Susi justru dibawa menuju Kamboja.
Dalam perjalanan, keduanya dikabarkan sempat melarikan diri dan mendapatkan perlindungan di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kamboja.
Setelah keluar dari KBRI, Ayu dan Susi kembali menerima tawaran pekerjaan yang disebut masih berada di sektor restoran. Keluarga kemudian kehilangan jejak keduanya hingga mendapat kabar bahwa mereka berada di kawasan Mae Sot-Myawaddy, Myanmar.
Keluarga menduga keduanya menjadi korban jaringan perekrutan ilegal yang menggunakan modus tawaran pekerjaan di luar negeri.
Pada Rabu (15/7/2026), Ayu disebut sempat menghubungi keluarga dan sejumlah rekannya melalui panggilan video. Dalam komunikasi tersebut, dia memperlihatkan kondisi tubuh yang diduga mengalami luka akibat kekerasan.
Baca Juga:Pekan Ini, Kemensos Salurkan Bantuan Pascabencana Sumatera untuk 10 KabupatenSehari kemudian, Kamis (16/7/2026) pukul 18.27 WIB, Ayu kembali mengirimkan pesan suara kepada tantenya. Pesan itu berisi permintaan pertolongan dan informasi bahwa tempat dia berada dijaga kelompok bersenjata.
Keluarga juga mengaku mendapat informasi bahwa pihak yang menahan Ayu meminta tebusan Rp220 juta. Apabila permintaan tersebut tidak dipenuhi, korban disebut diancam akan kembali mengalami kekerasan.
Meski demikian, informasi mengenai permintaan tebusan, keberadaan kelompok bersenjata, dan kondisi korban belum dapat diverifikasi secara independen melalui pihak berwenang.
Melalui unggahan di media sosial, keluarga meminta perhatian Presiden, Gubernur Sumatera Barat, dan masyarakat untuk membantu proses penyelamatan Ayu dan Susi.
Keluarga juga mendesak Kementerian Luar Negeri, Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, serta Bareskrim Polri berkoordinasi melalui jalur diplomasi internasional.
Selain proses evakuasi, aparat diminta menyelidiki pihak yang diduga merekrut korban dengan tawaran pekerjaan di luar negeri. Rekening yang diduga digunakan untuk meminta uang tebusan juga diminta untuk ditelusuri.
Baca Juga:Polisi dan Subdenpom Labuhanbatu Dalami Dugaan Penganiayaan yang Tewaskan WargaAyu diketahui telah yatim piatu. Keluarganya di Kabupaten Agam berharap pemerintah bergerak cepat sebelum kondisi korban semakin memburuk. Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat keterangan resmi dari Kementerian Luar Negeri, BP2MI maupun Kepolisian terkait keberadaan dan kondisi Ayu.
#sumbar




