Di Balik Kebiasaan Tidak Enakan, Ada Diri yang Terus Mengalah

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Pernahkah kita mengatakan "iya" padahal hati sebenarnya ingin menolak? Menerima tambahan pekerjaan meski sudah kelelahan, meminjamkan uang meski kondisi keuangan sedang pas-pasan, atau terus mengalah dalam hubungan hanya karena takut dianggap egois. Situasi seperti ini begitu akrab dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Bahkan, banyak orang menganggap sikap "tidak enakan" sebagai bentuk kesopanan, kepedulian, dan penghormatan kepada orang lain. Padahal, jika terus dipelihara tanpa batas yang sehat, kebiasaan tersebut dapat menjadi beban yang perlahan menguras kesehatan mental, hubungan sosial, bahkan kualitas hidup seseorang.

Budaya "tidak enakan" sebenarnya lahir dari nilai luhur yang berkembang di masyarakat Indonesia, seperti menghormati orang lain, menjaga keharmonisan, serta menghindari konflik. Nilai-nilai tersebut tentu memiliki sisi positif karena mampu memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat yang menjunjung tinggi semangat gotong royong.

Namun, dalam praktiknya, tidak sedikit orang yang akhirnya lebih takut mengecewakan orang lain daripada mengecewakan dirinya sendiri. Mereka memilih diam ketika diperlakukan tidak adil, sulit menolak permintaan yang memberatkan, dan terus memendam perasaan demi menjaga citra sebagai pribadi yang baik.

Fenomena ini semakin terasa di era modern. Di lingkungan kerja, misalnya, tidak sedikit karyawan yang menerima pekerjaan di luar tanggung jawabnya hanya karena khawatir dinilai tidak kooperatif. Di lingkungan pertemanan, seseorang rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kondisi finansial agar tetap diterima dalam kelompoknya. Di dalam keluarga, banyak anggota keluarga yang memendam pendapat demi menghindari pertengkaran, meskipun persoalan tersebut justru semakin membesar karena tidak pernah dibicarakan secara terbuka.

Dampaknya bukan sekadar rasa lelah sesaat. Kebiasaan terus-menerus mengesampingkan kebutuhan diri dapat menimbulkan tekanan psikologis yang serius. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa kesehatan mental merupakan bagian penting dari kesehatan secara keseluruhan, dan kemampuan mengelola tekanan hidup menjadi salah satu indikator seseorang memiliki kondisi mental yang baik.

Ketika seseorang terus memendam perasaan, sulit menetapkan batasan (boundaries), dan merasa bertanggung jawab atas perasaan semua orang, tekanan emosional akan semakin menumpuk. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memicu kecemasan, stres berkepanjangan, hingga kelelahan emosional (burnout).

Fenomena ini juga tercermin dalam data nasional. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang diterbitkan Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental masih menjadi perhatian penting di Indonesia, terutama pada kelompok usia produktif.

Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) melalui publikasi Indikator Kesejahteraan Rakyat 2024 juga menunjukkan bahwa kualitas hidup masyarakat tidak hanya diukur melalui aspek ekonomi, tetapi juga kesejahteraan sosial dan psikologis. Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan mental bukan lagi isu pribadi semata, melainkan bagian dari pembangunan manusia yang perlu mendapat perhatian bersama.

Lantas, mengapa budaya "tidak enakan" begitu kuat di Indonesia? Salah satu penyebabnya adalah karakter masyarakat Indonesia yang cenderung kolektif. Dalam budaya kolektif, menjaga hubungan baik sering kali dianggap lebih penting daripada menyampaikan pendapat secara terus terang.

Akibatnya, banyak orang dibesarkan dengan keyakinan bahwa menolak permintaan orang lain adalah tindakan yang tidak sopan. Sejak kecil, sebagian anak bahkan lebih sering diajarkan untuk selalu menurut daripada belajar menyampaikan pendapat secara asertif. Nilai tersebut memang bertujuan membentuk pribadi yang santun, tetapi jika diterapkan tanpa keseimbangan, seseorang dapat kehilangan keberanian untuk memperjuangkan hak dan kebutuhannya sendiri.

Media sosial turut memperkuat tekanan tersebut. Kehidupan yang tampak sempurna di dunia digital membuat banyak orang merasa harus selalu menjadi pribadi yang menyenangkan agar diterima lingkungan. Tidak sedikit yang takut dicap sombong ketika menolak ajakan, takut dianggap tidak peduli ketika tidak segera membantu, atau takut kehilangan relasi jika mulai menetapkan batasan. Akibatnya, mereka terus mengatakan "iya" meski sebenarnya sedang kelelahan.

Ironisnya, sikap terlalu sering mengalah tidak selalu menghasilkan hubungan yang sehat. Sebaliknya, hubungan yang dibangun tanpa kejujuran justru rentan menimbulkan kesalahpahaman. Orang lain menjadi terbiasa meminta bantuan karena menganggap kita selalu mampu, sementara kita sendiri semakin sulit mengungkapkan keberatan. Ketika rasa lelah akhirnya memuncak, konflik yang terjadi sering kali jauh lebih besar dibandingkan jika sejak awal seseorang berani menyampaikan penolakannya secara baik-baik.

Karena itu, mengubah budaya "tidak enakan" bukan berarti menghilangkan nilai sopan santun yang telah lama menjadi identitas masyarakat Indonesia. Yang perlu dibangun adalah kemampuan bersikap asertif, yakni mampu menyampaikan pendapat, kebutuhan, dan penolakan dengan tetap menghormati orang lain. Bersikap asertif berbeda dengan bersikap kasar. Menolak permintaan yang memang tidak mampu dipenuhi bukanlah bentuk egoisme, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.

Pemerintah juga memiliki peran penting dalam membangun kesadaran masyarakat mengenai kesehatan mental dan keterampilan sosial. Kementerian Kesehatan dalam beberapa tahun terakhir terus memperluas layanan kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan primer sebagai bagian dari transformasi layanan kesehatan.

Upaya ini perlu diiringi dengan edukasi publik mengenai pentingnya komunikasi yang sehat, kemampuan mengelola emosi, serta keberanian menetapkan batasan dalam hubungan sosial. Sekolah dan perguruan tinggi pun dapat memasukkan pendidikan mengenai kesehatan mental, komunikasi asertif, dan kecakapan sosial sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik.

Di lingkungan keluarga, perubahan dapat dimulai dari hal sederhana. Orang tua sebaiknya memberikan ruang bagi anak untuk menyampaikan pendapat tanpa rasa takut. Anak juga perlu diajarkan bahwa mengatakan "tidak" terhadap sesuatu yang merugikan dirinya bukan berarti menjadi anak yang tidak sopan.

Sebaliknya, mereka sedang belajar menghargai dirinya sendiri sekaligus menghormati orang lain melalui komunikasi yang jujur. Ketika keluarga menjadi tempat yang aman untuk mengungkapkan perasaan, anak akan tumbuh dengan kemampuan membangun hubungan yang sehat di masa depan.

Pada akhirnya, menjadi pribadi yang baik tidak harus selalu berarti mengorbankan diri sendiri. Kebaikan yang sehat adalah ketika kita mampu membantu orang lain tanpa kehilangan ketenangan batin dan tanpa mengabaikan kebutuhan diri sendiri. Mengatakan "tidak" pada waktu yang tepat bukanlah tanda bahwa kita kurang peduli, melainkan bentuk kedewasaan dalam menentukan batas yang sehat.

Sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap budaya "tidak enakan". Menjaga perasaan orang lain memang penting, tetapi menjaga kesehatan mental dan harga diri sendiri juga tidak kalah penting. Sebab, seseorang yang terus-menerus mengalah demi menyenangkan semua orang pada akhirnya berisiko kehilangan dirinya sendiri. Dan ketika itu terjadi, bukan hanya dirinya yang terluka, melainkan juga hubungan-hubungan yang selama ini berusaha ia pertahankan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KKP Siapkan BBM Khusus Rp 15.000 per Liter untuk Kapal Perikanan 30-200 GT
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
BI: Kinerja Manufaktur RI Masih Ekspansif, 51,42% di Kuartal II-2026
• 16 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Orientasi RUU Masyarakat Hukum Adat Tidak Boleh Bergeser Jadi Perlindungan Investasi Semata
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Prabowo: Pemimpin Indonesia Tidak Bodoh, Naif atau Penakut!
• 19 jam laluokezone.com
thumb
Saham RMKE Jatuh setelah Resmi Stock Split
• 18 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.