Mata Yeni menatap erat sebuah instalasi seni yang berdiri di Taman Menteng, Jakarta. Semakin ia menatap tajam, semakin jelas terlihat kerutan di keningnya. Sesekali ia melihat sebuah papan informasi berupa penjelasan instalasi tersebut. Namun setelah membacanya, kebingungan di matanya tak juga hilang.
”Ini tuh maksudnya apa, sih?” gumam Yeni saat menyaksikan pameran seni rupa Jakarta PROVOKE! 2026 pada Jumat (17/7/2026) sore.
Berbagai usia menikmati seni rupa.
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Salah satu instalasi yang terpasang di sudut taman.
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Beberapa instalasi dapat dimainkan.
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Keluguan Yeni itu bukan tanpa penyebab. Ia amat asing dengan instalasi seni. Karya seni yang ia mengerti hanya lukisan dan patung. Itu pun yang bertemakan realis seperti lanskap pemandangan, hewan, maupun portrait manusia. Yeni mengaku belum pernah datang ke galeri untuk melihat karya-karya seni.
”Saya tidak ngerti seni Mas, jadi kalau ke galeri juga saya enggak pede, malah bingung nanti di sana,” ucapnya sembari tersenyum.
Walaupun demikian, ia mengapresiasi adanya pameran seni rupa di taman kota. Taman kota yang hanya diisi tumbuhan dan fasilitas bermain anak itu kini lebih berwarna. Pameran seni rupa ini bisa menjadi pintu masuk orang-orang awam yang tidak mengerti dan asing dengan instalasi seni seperti Yeni.
Hal itu senada dengan pernyataan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno saat membuka Jakarta PROVOKE! di Taman Menteng. Menurut dia, seni tidak harus selalu hadir di galeri. Ruang publik dapat menjadi tempat bertemunya karya seni dengan masyarakat sehingga mampu menghidupkan kota sekaligus memperluas akses terhadap seni.
”Seni dapat dihadirkan di tengah kehidupan masyarakat, menghidupkan ruang kota, sekaligus mengajak masyarakat membaca Jakarta dengan cara yang berbeda,” ucap Rano dalam sambutannya.
Rano berharap Jakarta PROVOKE! terus berkembang menjadi ruang yang melahirkan karya-karya berkualitas dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional. Selain itu, Rano menantang para seniman untuk menjadikan ruang terbuka di Jakarta sebagai galeri seni pada perayaan 500 tahun Jakarta tahun depan.
”Saya menantang panitia agar pada peringatan 500 tahun Jakarta nanti kita memanfaatkan ruang terbuka yang membentang mulai dari Ratu Plaza hingga Bundaran Hotel Indonesia sebagai ruang pamer seni. Momentum lima abad Jakarta harus menjadi perayaan budaya yang luar biasa,” katanya.
Jakarta PROVOKE! merupakan hasil kolaborasi Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dengan Yayasan Artpora Jakarta PROVOKE!. Pada tahun ini Jakarta PROVOKE! mengusung konsep satu perupa, satu kurator, satu karya, dalam satu panggung.
PROVOKE! tahun ini memamerkan 25 seni rupa dari 25 artist. Temanya pun beragam, mulai dari isu hunian, transportasi, lingkungan, hingga dinamika kehidupan masyarakat Jakarta. Beberapa karya yang dipamerkan pun menggunakan material daur ulang sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan.
Hadirnya seni di ruang kota yang mudah dijangkau dan gratis untuk didatangi menegaskan bahwa seni milik siapa saja. Seni tidak melulu harus berakhir di ruang galeri yang tertutup dinding dingin dan terasing dengan dunia luar. Rumput basah, deru kendaraan, suara klakson, dan sinar matahari yang langsung menyorot ke atas kepala menjadi teman pengunjung kala menikmati pameran seni rupa Jakarta PROVOKE!.





