REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dunia kerja modern menuntut ritme yang serba cepat. Di balik target perusahaan yang tinggi, ada modal paling mendasar yang menentukan keberhasilan, yaitu kondisi fisik dan mental para pekerja. Sayangnya, urusan kesehatan pekerja sering kali baru mendapat perhatian saat penyakit sudah datang.
Banyak manajemen perusahaan dinilai terjebak pada pemenuhan fasilitas medis yang sifatnya sekadar mengobati, tanpa benar-benar memahami risiko nyata yang dihadapi staf mereka di lapangan. Ketidaksesuaian ini disebut tidak hanya memicu lonjakan klaim biaya medis, tetapi juga membuat performa kerja menurun.
Baca Juga
Manfaat Belajar Bahasa Asing Bagi Kesehatan Otak
Lima Manfaat Kopi untuk Kesehatan yang Jarang Diketahui
Ribuan Warga AS Rela Antre demi Lihat Bunga Bangkai Mekar
Kesenjangan dalam pemberian fasilitas medis ini menjadi salah satu sorotan utama dalam peluncuran Employee Health Benefit Report 2026 oleh Halodoc di Jakarta pada Kamis (16/7/2026). Berdasarkan pengamatan situasi kerja terkini, mayoritas pelaku usaha masih menerapkan kebijakan proteksi yang kurang menyeluruh.
Chief of Medical Halodoc Dr. Irwan Heriyanto, MARS., Head of Human Resources Halodoc Ruth Novalinda, Chief Marketing Officer Halodoc Fibriyani Elastria, dan VP of Insurance Halodoc Saswat Satadal saat sesi talkshow pada Media Gathering peluncuran Employee Health Benefit Report 2026 di Jakarta, Kamis (16/7/2026). - (Dok. Mg166)
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Head of Human Resources Halodoc, Ruth Novalinda, mengatakan sebagian besar perusahaan masih menitikberatkan anggaran mereka pada aspek pengobatan standar saja. Beberapa perusahaan lebih banyak fokus untuk yang sifatnya kuratif, jadi misalnya rawat jalan di sekitar 89 persen dan kemudian rawat inap ada tambahan. Sebenarnya yang menyeluruh, mulai dari rawat inap, rawat jalan, gigi, kacamata, bahkan melahirkan itu cuma 9 persen.
Padahal, mengandalkan satu kebijakan medis yang seragam untuk semua staf kini dinilai sudah tidak lagi efektif. Setiap orang memiliki kerentanan yang berbeda, yang sangat dipengaruhi oleh faktor usia, jenis kelamin, hingga lingkungan kerja sehari-hari. Berdasarkan data yang dihimpun Halodoc selama tiga bulan pertama pada 2026, jenis penyakit yang menyerang kelompok usia tertentu menunjukkan pola yang sangat spesifik. Kelompok pekerja muda di bawah usia 30 tahun, misalnya, memiliki kecenderungan tinggi untuk terserang infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) atau flu.
Chief of Medical Halodoc, dr Irwan Heriyanto, MARS., mengatakan faktor mobilitas dan interaksi sosial yang tinggi di tempat umum menjadi pemicu utama kerentanan kelompok usia muda tersebut. Menurutnya, hal ini berkaitan erat dengan aktivitas harian serta kondisi transportasi publik yang padat.
"Ya mungkin aktivitas ya, per aktivitas tapi mungkin juga kurang bisa menjaga. Atau memang dalam kondisi transportasi, karena itu deket-deketan loh. Orang bersin aja mungkin masuk semua sehingga sangat wajar untuk di usia-usia di bawah 30 tahun untuk terkena penyakit itu,” kata dia.