Duel di Tokyo Metropolitan Gymnasium berjalan dengan intensitas tinggi. Putri mampu memberikan perlawanan dan menjaga peluangnya dalam reli-reli panjang dan memenangi gim pertama.
Namun, pengalaman Akane dalam mengubah tempo permainan serta keberaniannya memainkan pukulan spekulatif menjadi pembeda, terutama setelah kedudukan 16-16 pada gim kedua. Putri akhirnya kalah dengan skor 21-9, 16-21, 14-21.
Seusai laga, Putri mengungkapkan bahwa pertandingan tersebut menguras tenaga sekaligus ketahanan mentalnya.
“Hari ini cukup melelahkan, pertandingan yang menguras semua tenaga, fisik dan mental. Sejujurnya saya merasa punya peluang menang tadi, tetapi sayang di gim kedua saya tidak bisa terus memepet dia menjelang akhir,” kata Putri seusai pertandingan dalam rilis Tim Media & Humas PBSI.
Perubahan Tempo Akane Kejutkan Putri KW
Putri mengungkapkan bahwa momentum pertandingan mulai bergeser ketika skor gim kedua berada dalam posisi sama kuat 16-16. Pada fase krusial tersebut, Akane tidak terus mempertahankan pola cepat. Pemain Jepang itu justru memperlambat permainan dan mulai mengirimkan pukulan-pukulan depan yang sulit diprediksi.
“Di poin 16-16 itu Akane membuat banyak sekali spekulasi pukulan depannya dan memperlambat tempo. Itu membuat saya beberapa kali kaget,” ujar Putri.
Strategi tersebut memaksa Putri keluar dari ritme permainan yang sebelumnya dapat dijaganya. Akane mampu membaca situasi dengan lebih tenang, sementara Putri mulai kehilangan kesempatan untuk terus menempel perolehan angka lawannya.
Pertarungan kemudian berlanjut ke gim penentuan. Putri berusaha kembali mengambil kendali, tetapi beberapa kesalahan muncul secara beruntun ketika mengarahkan serangan ke sisi kiri pertahanan Akane.
“Di gim ketiga, saya melakukan kesalahan beruntun di titik yang sama, sebelah kiri pertahanan Akane. Itu cukup berpengaruh akhirnya ke sisa jalannya pertandingan,” tuturnya.
Kesalahan tersebut memberikan ruang kepada Akane untuk membangun keunggulan dan mengontrol sisa pertandingan. Putri masih berupaya memperpanjang reli, tetapi energi yang terkuras sejak dua gim awal membuatnya semakin sulit menahan konsistensi permainan pemain unggulan tuan rumah itu.
Tetap Puas karena Sempat Singkirkan Wang Zhi Yi
Kekalahan pada semifinal tidak menghapus perkembangan positif yang diperlihatkan Putri selama Japan Open 2026. Sebelum menghadapi Akane, unggulan keenam tersebut membuat kejutan besar dengan menyingkirkan unggulan kedua asal Tiongkok, Wang Zhi Yi, lewat skor 9-21, 21-17, dan 21-4 pada perempat final. Kemenangan itu menjadi keberhasilan pertamanya atas Wang setelah selalu kalah dalam tujuh pertemuan sebelumnya.
Hasil tersebut memiliki arti penting karena Putri sebelumnya kerap mampu merebut satu gim dari pemain elite, tetapi kehilangan kontrol saat memasuki gim penentuan. Di Tokyo, ia membalikkan keadaan secara meyakinkan dan mendominasi Wang pada gim ketiga.
“Walau terhenti di semifinal, saya cukup senang dengan pencapaian ini karena bisa menang dari Wang Zhi Yi dan tadi tampil lumayan baik melawan Akane,” kata Putri.
Sebelum semifinal ini, Akane memenangi seluruh tujuh pertemuan terdahulu melawan Putri. Kekalahan di Tokyo membuat wakil Indonesia tersebut belum berhasil memutus dominasi pemain Jepang itu dalam delapan duel mereka.
Meski demikian, jarak permainan terlihat semakin rapat. Putri bukan sekadar bertahan, tetapi telah mampu memaksa Akane memainkan laga panjang dan melakukan penyesuaian taktik untuk keluar dari tekanan.
Persiapan Sebulan Mulai Membuahkan Hasil
Putri menyebut penampilannya di Japan Open tidak terlepas dari evaluasi setelah Indonesia Open 2026. Hasil yang belum memuaskan di kandang membuatnya menjalani persiapan lebih terarah selama kurang lebih satu bulan.
“Saya belajar banyak dari hasil di Indonesia Open. Dari sebulan persiapan itu, saya benar-benar fokus di latihan,” ungkapnya.
Program tersebut perlahan tercermin dalam konsistensi pola permainan dan daya juang Putri. Ia mampu melewati Beiwen Zhang dan Huang Yu Hsun dengan dua gim langsung, sebelum menumbangkan Wang melalui pertarungan tiga gim pada perempat final.
“Hasilnya saya merasa di sini bisa terus menunjukkan konsistensi permainan dan daya juang yang lebih bagus dari sebelumnya,” lanjut Putri.
Capaian semifinal turnamen BWF World Tour Super 750 ini menjadi modal penting bagi Putri untuk menghadapi agenda internasional berikutnya. Japan Open 2026 sendiri berlangsung pada 14 sampai 19 Juli di Tokyo dan memiliki total hadiah USD950 ribu.
Daya Tahan Menjadi Evaluasi Utama
Terlepas dari peningkatan teknis dan mental, Putri menilai aspek fisik masih menjadi pekerjaan rumah terbesar. Pertandingan melawan Akane memperlihatkan pentingnya menjaga kualitas pukulan saat tubuh mulai kelelahan.
“Untuk evaluasi, saya masih harus lebih meningkatkan daya tahan lagi,” tutup Putri.
Pernyataan tersebut cukup menggambarkan tantangan Putri dalam persaingan tunggal putri dunia. Pemain seperti Akane memiliki pertahanan rapat, pergerakan luas, serta kesabaran untuk memainkan reli panjang. Lawan tidak selalu menjatuhkan Putri melalui satu serangan keras. Kadang-kadang, tekanan dibangun perlahan sampai akurasi mulai retak.
Putri memang belum membawa pulang gelar dari Tokyo. Namun, kemenangan atas Wang Zhi Yi dan perlawanan ketat menghadapi Akane memperlihatkan satu hal yang sulit diabaikan. Permainannya tumbuh, daya juangnya lebih kukuh, dan jarak dengan kelompok elite tunggal putri dunia mulai dipangkas sedikit demi sedikit.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(KAH)





