Bisnis.com, JAKARTA - Ketika publik pecinta sepak bola di seluruh dunia menonton pertandingan sepak bola, terutama yang melibatkan timnas Argentina, mereka kerap geregetan. Bukan persoalan kualitas permainan para pesepakbolanya, melainkan ada sesuatu yang dalam pandangan mereka mengundang pertanyaan.
Pemimpin pertandingan seolah lebih berpihak pada tim Albiceleste. Tidak heran kalau kemudian muncul beragam ungkapan senada, misalnya, FIFA ingin Argentina juara atau Messi anak emas FIFA, dan sejenisnya.
Persepsi itu biasanya muncul setiap kali terjadi keputusan wasit yang dianggap menguntungkan Argentina, misalnya menganulir gol, menggunakan VAR lebih banyak diterapkan untuk tim lawan, hingga memberikan kartu.
Pertandingan melawan Tanjung Verde dan Swiss mungkin bisa menjadi contoh, yang pada gilirannya berujung kontroversi. Benar atau tidaknya persepsi tersebut boleh jadi tidak akan pernah dapat dibuktikan secara mutlak. Namun, dalam perspektif ekonomi politik media, pertanyaan yang lebih menarik justru bukan apakah FIFA benar-benar berpihak, melainkan mengapa publik begitu mudah mempercayainya.
Di sinilah teori ekonomi politik media menjadi relevan. Vincent Mosco dalam The Political Economy of Communication (2009, edisi 2) menjelaskan bahwa media massa tidak dapat dipisahkan dari proses yang disebut dengan komodifikasi (commodification), yakni perubahan berbagai aspek kehidupan menjadi komoditas yang memiliki nilai ekonomi.
Dalam industri media global, perhatian publik menjadi komoditas yang paling mahal. Semakin besar perhatian yang diperoleh suatu peristiwa, semakin tinggi pula nilai hak siar, sponsor, iklan, hingga penjualan merchandise.
Piala Dunia merupakan contoh paling nyata dari industri perhatian tersebut. FIFA bukan hanya organisasi olahraga, tetapi juga pengelola salah satu produk hiburan terbesar di dunia. Nilai hak siar televisi mencapai miliaran dolar, sementara sponsor global seperti Adidas, Coca-Cola, Visa, Hyundai, dan berbagai perusahaan multinasional menginvestasikan dana dalam jumlah fantastis.
Dengan demikian, keberhasilan sebuah turnamen tidak hanya diukur dari kualitas pertandingan, tetapi juga dari besarnya perhatian global yang berhasil dipertahankan.
Dalam konteks itu, kehadiran seorang megabintang seperti Lionel Messi memiliki nilai ekonomi yang luar biasa. Messi bukan sekadar pemain sepak bola, melainkan sebuah merek (brand). Namanya menjual tiket pertandingan, meningkatkan rating televisi, memperbesar interaksi media sosial, menaikkan penjualan jersey, hingga menarik sponsor baru. Dengan kata lain, Messi merupakan aset ekonomi yang mampu memperbesar nilai komersial sebuah Piala Dunia.
Mosco menyebut kondisi tersebut sebagai komodifikasi individu, ketika seseorang tidak lagi dipandang semata-mata sebagai manusia atau atlet, melainkan sebagai produk ekonomi yang memiliki nilai jual. Fenomena serupa juga pernah terjadi pada Michael Jordan di basket, Tiger Woods di golf, Roger Federer di tenis, maupun Cristiano Ronaldo dalam sepak bola. Kehadiran mereka mampu menggerakkan industri olahraga secara keseluruhan.
Di sinilah kemudian muncul persepsi publik mengenai dugaan keberpihakan terhadap Argentina. Ketika setiap keputusan kontroversial cenderung menguntungkan Messi dan timnya, sebagian penggemar mulai menghubungkan keputusan tersebut dengan kepentingan ekonomi yang lebih besar. Mereka berasumsi bahwa semakin lama Messi bertahan di turnamen, semakin tinggi pula nilai komersial Piala Dunia.
Antara Persepsi dan FaktaPertanyaan yang layak diajukan adalah apakah asumsi tersebut benar? Belum tentu. Tidak ada bukti empiris yang menunjukkan bahwa FIFA secara sistematis menginstruksikan wasit untuk menguntungkan Argentina atau Messi.
Keputusan wasit dalam sepak bola merupakan hasil interpretasi terhadap situasi pertandingan yang sangat kompleks, bahkan dengan bantuan teknologi VAR sekalipun. Banyak keputusan kontroversial juga terjadi terhadap negara-negara lain tanpa melibatkan Argentina.
Namun, dalam perspektif ekonomi politik media, persepsi publik tetap memiliki makna penting. Sebab, sebagaimana dijelaskan oleh Mosco, industri media bekerja melalui produksi makna (production of meaning) yang kemudian dikonsumsi oleh masyarakat. Media konvensional, media digital, influencer sepak bola, hingga algoritma media sosial terus memproduksi narasi tentang Messi, GOAT, dan sebagainya. Narasi tersebut kemudian menciptakan ekspektasi emosional yang sangat kuat.
Ketika publik telah memiliki ekspektasi bahwa Piala Dunia adalah panggung terakhir Messi, maka setiap keputusan yang menguntungkan Argentina akan lebih mudah dibaca sebagai bagian dari narasi besar tersebut. Sebaliknya, keputusan yang merugikan Argentina sering kali terlupakan atau tidak memperoleh perhatian yang sama. Fenomena ini dikenal dalam psikologi sebagai confirmation bias, yaitu kecenderungan seseorang hanya memperhatikan informasi yang sesuai dengan keyakinannya.
Selain itu, ekonomi digital semakin memperkuat situasi tersebut. Algoritma media sosial bekerja berdasarkan tingkat interaksi pengguna. Konten yang memuat judul seperti FIFA bantu Messi, wasit berpihak kepada Argentina, atau VAR kembali menyelamatkan Messi dan lain-lain hampir selalu memperoleh jutaan tayangan karena memancing emosi publik. Akibatnya, algoritma terus memperluas distribusi narasi tersebut, terlepas dari benar atau tidaknya isi kontennya.
Dengan demikian, persepsi mengenai adanya keberpihakan tidak semata-mata lahir dari keputusan wasit atau jalannya pertandingan di atas lapangan. Persepsi tersebut juga dibentuk oleh ekosistem media digital yang bekerja berdasarkan logika ekonomi perhatian (attention economy), di mana konten yang kontroversial, provokatif, dan memicu perdebatan cenderung memperoleh lebih banyak trafik, klik, komentar, dan pembagian ulang.
Algoritma media sosial kemudian memperluas penyebaran konten semacam itu karena dianggap mampu meningkatkan keterlibatan pengguna, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap pendapatan iklan dan keuntungan platform.
Dalam situasi seperti ini, narasi tentang dugaan keberpihakan terhadap tim atau pemain tertentu lebih mudah menjadi viral dibandingkan penjelasan yang bersifat faktual dan berimbang. Akibatnya, opini publik sering kali terbentuk bukan hanya oleh fakta pertandingan, tetapi juga oleh dinamika ekonomi politik media digital yang mengomersialkan perhatian audiens.
Ekonomi politik media mengajarkan bahwa dalam industri hiburan global, perhatian adalah mata uang utama. Tokoh-tokoh besar seperti Messi memang memiliki nilai ekonomi yang jauh melampaui sekadar kemampuan bermain sepak bola.
Akan tetapi, pengakuan terhadap nilai ekonomi tersebut tidak otomatis membuktikan adanya manipulasi pertandingan. Yang dapat dikatakan adalah bahwa semakin besar nilai komersial seorang atlet, semakin besar pula intensitas media dalam membangun narasi di sekelilingnya.
Karena itu, publik perlu membedakan antara kepentingan ekonomi industri sepak bola dengan bukti adanya rekayasa pertandingan. Yang pertama dapat dijelaskan melalui teori ekonomi politik media, sedangkan yang kedua memerlukan bukti empiris yang kuat, bukan sekadar dugaan atau persepsi.
Pada akhirnya, Piala Dunia memang bukan hanya kompetisi olahraga tetapi juga industri media global yang mempertemukan olahraga, bisnis, politik, dan hiburan dalam satu panggung raksasa. Di dalamnya, pemain hebat seperti Lionel Messi menjadi pusat perhatian karena kualitas permainannya sekaligus karena nilai ekonominya.
Tantangan terbesar bagi FIFA adalah menjaga agar besarnya kepentingan komersial tersebut tidak sampai menggerus kepercayaan publik terhadap integritas pertandingan. Sebab, ketika penonton mulai lebih percaya pada narasi konspirasi daripada keputusan di lapangan, yang dipertaruhkan bukan hanya hasil pertandingan, melainkan juga legitimasi sepak bola sebagai olahraga paling populer di dunia.





