Teheran: Kementerian Luar Negeri (Kemlu) memastikan kondisi Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Timur Tengah tetap aman usai Amerika Serikat (AS) kembali meluncurkan serangan ke Iran. Kemenlu terus menjalin komunikasi dengan KBRI Iran untuk terus memantau situasi dan kondisi.
"Pemerintah Indonesia melalui KBRI kami di Teheran terus memantau secara ketat dan secara dekat kondisi keamanan bagi WNI yang berada di sana," ujar Juru Bicara Kemlu Vahd Nabyl Achmad, dalam program Metro Siang Metro TV, Sabtu, 18 Juli 2026.
Vahd menegaskan pihaknya masih memberlakukan status siaga satu. Artinya, WNI diingatkan untuk tidak mendekat ke daerah pusat konflik.
"Bagi WNI yang berada di luar Iran, kami imbau untuk belum perlu untuk ke Iran. Kecuali hal-hal yang sangat mendesak. Bagi yang saat ini sedang berada di Iran pun tetap dilakukan engage, dihubungi oleh KBRI dengan menggunakan berbagai platform untuk mengetahui kondisi mereka dan komunikasi tersebut masih terus dilakukan," kata Vahd.
Baca Juga :
Bahrain Aktifkan Sirene Serangan Udara Kelima di Tengah Konflik Iran-ASKetegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas menyusul rilis video terbaru dari Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM). Militer AS mengklaim telah melakukan serangan udara yang menghancurkan sebuah menara pengawasan maritim di Pelabuhan Shahid Kalantari, Chabahar, yang terletak di pesisir Teluk Oman, Iran.
Dalam rekaman video berdurasi singkat yang dirilis oleh pihak CENTCOM, terlihat detik-detik rudal menghantam target dengan akurasi tinggi. Ledakan tersebut memicu kepulan asap tebal yang membumbung tinggi dari fasilitas yang diklaim milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) tersebut.
Berdasarkan keterangan resmi dari CENTCOM, menara pengawas maritim itu merupakan aset strategis bagi militer Iran. Fasilitas tersebut diduga kuat digunakan untuk memantau pergerakan kapal-kapal komersial internasional dan mengoordinasikan berbagai serangan di wilayah perairan strategis Selat Hormuz.
Namun, hingga saat ini, pihak militer AS belum memberikan rincian mengenai waktu pasti pelaksanaan operasi tersebut. Pihak independen juga belum dapat memverifikasi tanggal pengambilan video tersebut secara akurat.




