Studi: KDRT di Inggris Cenderung Meningkat saat Piala Dunia Berlangsung

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Di tengah semarak Piala Dunia, banyak perempuan di Inggris yang menyimpan luka mendalam. Menurut sebuah studi, angka kekerasan domestik atau kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) disebut mengalami peningkatan setiap kali turnamen sepak bola besar, seperti Piala Dunia, tengah berlangsung.

Hal ini terungkap dalam studi yang dirilis di Journal of Research in Crimes and Delinquency pada 2013. Penelitian tersebut dilakukan dengan menganalisis data laporan KDRT secara harian dan bulanan yang diterima oleh kepolisian area North West Inggris selama Piala Dunia 2002, 2006, dan 2010.

Dari analisis tersebut, peneliti mengungkap bahwa risiko KDRT terhadap perempuan meningkat sebesar 26 persen ketika tim nasional Inggris menang atau seri dalam sebuah pertandingan. Sementara itu, saat tim nasional Inggris kalah, risiko KDRT meningkat sebesar 38 persen.

Tak hanya di Piala Dunia, tren peningkatan kekerasan domestik juga tercatat selama turnamen sepak bola Euro atau UEFA Euro Football Championship. Pada 2024, kepolisian Inggris melaporkan adanya 351 kasus KDRT yang berkaitan dengan pertandingan sepak bola.

Di 2026, lembaga kejaksaan Inggris atau Crown Prosecution Service turut memperingattkan adanya risiko peningkatan KDRT selama Piala Dunia berlangsung.

“Kita sering kali melihat bahwa kasus KDRT lebih banyak terjadi saat turnamen sepak bola besar tengah berlangsung, seperti Piala Dunia. Kami menegaskan bahwa para pelaku akan disanksi dan kami tidak akan ragu untuk mengadili mereka,” kata pimpinan CPS nasional, Olivia Rose, sebagaimana dilansir The Guardian pada Juni lalu.

Namun, mengapa hal ini bisa terjadi? Menurut yayasan Women’s Aid UK, olahraga sepak bola bukanlah penyebab kekerasan terhadap perempuan. Namun, konsumsi alkohol serta peningkatan emosi akibat menonton pertandingan bisa memperburuk kondisi dan berpotensi berujung pada kekerasan.

CEO Women’s Aid, Farah Nazeer, mengatakan bahwa KDRT dapat terjadi baik ketika tim sepak bola kalah atau menang. Sebab, kekerasan bukanlah tindakan yang terjadi hanya dalam satu waktu atau sebagai hasil dari satu pertandingan tertentu, melainkan pola yang sudah berulang.

“Sepak bola tidak menyebabkan terjadinya kekerasan domestik. Kekerasan adalah pilihan yang diambil oleh pelaku, lagi dan lagi, tanpa memandang apakah suatu tim menang atau kalah,” kata Farah, dikutip dari situs resmi Women’s Aid.

“Riset menunjukkan bahwa KDRT memang meningkat saat turnamen berlangsung, tetapi sungguh tidak benar bila ada yang mengatakan bahwa kesuksesan suatu tim menentukan apakah laki-laki akan melakukan KDRT atau tidak. Kita tahu bahwa ini adalah sebuah pola perilaku yang terus berulang, dan ini bukanlah sesuatu yang terjadi sebagai akibat dari satu pertandingan,” imbuhnya.

Peningkatan KDRT selama turnamen sepak bola besar mendorong hadirnya kampanye di Inggris bertajuk “Stop It Coming Home”. Diinisiasi oleh yayasan Solace Women’s Aid, kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan soal KDRT di masa-masa turnamen besar.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pujian CORTIS untuk Antusian Para Penggemar Indonesia, Berharap Bisa Datang Lagi!
• 10 jam lalucumicumi.com
thumb
Ada Konser Akbar Monas 2026 Malam Ini, Pengendara Diimbau Hindari Jalan Medan Merdeka Jakpus
• 14 jam lalukompas.com
thumb
Ramalan Zodiak Hari Ini Sabtu, 18 Juli 2026: Peluang Datang untuk Scorpio, Aquarius Dapat Kejutan
• 12 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Hilux Generasi Baru Unjuk Gigi, SPK di Kaltim Membeludak
• 7 jam lalubisnis.com
thumb
Status Febrie Adriansyah dan Don Ritto di 3 Kasus yang Ditangani Kejagung
• 14 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.