HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR—Nama Inriati Lewa dan Syahwan Alfianto Amir, dua dosen Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (Unhas), turut mengharumkan nama kampus di kancah akademik nasional. Keduanya menjadi bagian dari buku Seabad Setahun Asrul Sani: Intelektualitas, Jejak Karya, dan Sineas Indonesia, sebuah antologi dua jilid setebal 1.784 halaman yang diterbitkan Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) untuk memperingati satu abad kelahiran sekaligus setahun peringatan Asrul Sani.
Buku yang disunting oleh tim editor Novi Anoegrajekti, Yoseph Yapi Taum, Sastri Sunarti, Sudartomo Macaryus, Syauki Salahudin Sani, M. Yoesoef, dan Aprinus Salam ini diterbitkan bekerja sama dengan Pelaku Sanggar Pelakon pimpinan Mutiara Sani, serta diluncurkan resmi di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, pada 10 Juni 2026 lalu.
Menelusuri Jejak Eksistensial dalam Buku Puisi Mantera
Dalam antologi tersebut, Inriati Lewa dan Syahwan Alfianto Amir—keduanya dari Universitas Hasanuddin—menulis artikel berjudul “Wajah Puisi Indonesia di Tangan Asrul Sani” yang dimuat pada halaman 633 hingga 650 buku jilid pertama. Tulisan ini secara khusus membedah kumpulan puisi tunggal Asrul Sani berjudul Mantera, yang pertama kali terbit pada Februari 1975 oleh penerbit Budaja Djaja dan berisi 22 puisi.
Dalam artikelnya, kedua penulis menyoroti posisi istimewa Asrul Sani dalam sejarah sastra Indonesia. Mereka mencatat bahwa H.B. Jassin, yang dijuluki Paus Sastra Indonesia, bahkan memasukkan enam puisi Asrul Sani ke dalam buku Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi Jilid II, di antaranya “Anak Laut”, “Surat dari Ibu”, “Elang Laut”, “Orang dalam Perahu”, “Pengakuan”, dan “Orang dari Gunung”.
Inriati Lewa dan Syahwan Alfianto Amir menggambarkan karakter khas puisi Asrul Sani sebagai gema yang tenang dan dalam, jauh dari gaya berbunga-bunga ala Pujangga Baru maupun teriakan yang meledak-ledak. Menurut mereka, di tangan Asrul Sani, puisi tidak lagi sekadar ruang ungkapan emosi romantik, tetapi berubah menjadi ruang kesadaran tempat sang penyair bergulat dengan dirinya sendiri, zamannya, dan kenyataan sosial yang penuh ketegangan.
Eksistensialisme sebagai Nafas Puisi
Yang menarik dari kajian dua akademisi Unhas ini adalah pendekatan eksistensialisme yang mereka gunakan untuk membedah puisi-puisi seperti “Anak Laut”, “Elang Laut”, “Wajah”, “Untuk N”, “Pengungsi”, “Variasi atas Suatu Tanggapan-Sesaat”, hingga puisi berjudul “Mantera” itu sendiri. Mereka menafsirkan simbol-simbol seperti laut, senja, dan pengembaraan sebagai representasi manusia yang senantiasa berada dalam kondisi liminal (antara yang dikenal dan yang tak terbatas, antara harapan dan kehancuran).
Dalam simpulan tulisannya, Inriati Lewa dan Syahwan Alfianto Amir menegaskan bahwa puisi-puisi Asrul Sani dalam Mantera merupakan dokumen estetik sekaligus dokumen kemanusiaan yang melampaui zamannya, karena berhasil mempertemukan pergulatan eksistensial yang bersifat universal dengan konteks sosial-historis Indonesia yang sangat spesifik, mulai dari masa pendudukan Jepang, revolusi kemerdekaan, hingga suasana pascakemerdekaan.
Kontribusi Akademik dari Timur Indonesia
Keikutsertaan Inriati Lewa dan Syahwan Alfianto Amir dalam proyek besar ini menegaskan bahwa kajian sastra Indonesia terus tumbuh di berbagai wilayah, termasuk dari Universitas Hasanuddin di Makassar. Bersama ratusan akademisi, budayawan, sastrawan, dan sineas dari seluruh Indonesia, keduanya turut merawat dan mewariskan pemikiran Asrul Sani, sastrawan pelopor Angkatan ‘45 yang bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin dikenal sebagai trio pembaharu puisi Indonesia kepada generasi masa kini.
Buku Seabad Setahun Asrul Sani sendiri merupakan bagian dari rangkaian peringatan yang digagas HISKI bersama Pelaku Sanggar Pelakon dan Perpustakaan Nasional RI, meliputi pameran, dialog budaya, pemutaran film, seminar nasional, hingga penerbitan buku sebagai upaya pelestarian memori kolektif bangsa terhadap salah satu tokoh penting kebudayaan Indonesia. (*)





