Ingatan Dias kembali ke tahun 1997 saat masa kecilnya di Aceh. Sebuah benda berbentuk piring terbang tampak di depan matanya. Itu adalah satu-satunya momen Dias melihat unidentified flying object (UFO).
"Kejadiannya itu tahun '97 sore hari. Percaya atau nggak percaya, saya sedang di lapangan. Kebetulan ini daerahnya di Aceh," kata Dias saat menjadi peserta Indonesia UFO Conference yang digelar di auditorium Institut Français d'Indonésie (IFI) Yogyakarta, Sabtu (18/7).
Dias yang kini tinggal di Tangerang Selatan datang ke Yogyakarta bersama anaknya, khusus mengikuti acara Indonesia UFO Festival yang digelar Indonesia Space Science Society (ISSS).
Acara yang digelar satu bulan ini memiliki sejumlah agenda salah satunya Indonesia UFO Conference yang menghadirkan pembicara dari Indonesia dan luar negeri.
"Itu ada benda asing kayak piring terbang tapi stay-nya lama. Saya lihatin aja. Kebetulan saya mau pulang naik sepeda. Itu aneh aja menurut aku," kata Dias melanjutkan kisahnya.
"Habis itu udah. Hilang tapi cepat 'sheng' gitu," katanya.
Dias mengaku sempat melihat piring terbang tersebut berputar-putar. "Kayak menempel (momen itu sampai sekarang)," katanya.
"Melihat postingan ini (acara ini) saya ke sini. Saya dari Tangsel," pungkasnya.
Mendeteksi UFO dengan TeknologiSalah satu narasumber dalam seminar ini adalah Pradhono Rakhmono Aji, Director Dapur AI. Aji memaparkan teknologi yang dikembangkannya yakni Vortex Intelligent Robot yang diciptakan tahun lalu.
Robot ini dilengkapi dengan AI dan akan bertugas untuk mendeteksi kemunculan UFO.
"Robot ini ada banyak sensor di atasnya, jadi dia akan mengukur environment semuanya ya, mulai dari panas, kemudian akustik, kemudian juga ada infrared, elektromagnet, bahkan kita juga put radiation detector. Jadi kita put Geiger counter. Jadi yang pernah dengar ya, Geiger counter itu untuk membaca radiasi nuklir terutama beta, gamma, dan X-ray. Kita put di sini juga," kata Aji.
"Ini kita tanamkan, kita equip with those kind of sensor. Jadi, kita juga ada sensor magnet, sensor elektrik, dan juga sensor radio. Harapannya, semua disturbances tadi yang terjadi itu bisa ditangkap," ujarnya.
Dengan serangkaian sensor itu, diharapkan robot ini bisa menangkap penampakan-penampakan yang muncul.
"Optical-nya kita juga ada sensor untuk mendeteksi inframerah. Dan juga ada kita put kamera di situ. Jadi kalau misalnya memang ada penampakan, kita akan foto, istilahnya seperti itu ya. Kemudian akustik kita juga ada mikrofon yang kita put di situ, jadi sensitive mikrofon yang kita put di robot," katanya.
Lanjutnya, di beberapa penampakan UFO, mereka meninggalkan radiasi nuklir yang terukur.
"Kita juga put radiation detector, dan juga sebenarnya ini antara gravity dan inersial itu kan sebenarnya saling berpasangan ya. Jadi kalau misalnya kita mendeteksi ada perubahan gravitasi, ketika kita di-lift gitu inersianya sebenarnya sensor inersianya juga membaca di situ ada perubahan something yang berefek ke gravity. Kita juga put sensor inersial di situ," katanya.
Fungsi AI pada robot ini digunakan untuk menghitung probabilitas berapa besar kemunculan UFO pada satu titik waktu berdasarkan pembacaan data-data di sensor tersebut.
"AI kita juga kita deploy offline ya. Jadi ketika tidak ada koneksi internet, kita juga bisa, masih bisa memutuskan, menghitung, memanipulasi seberapa besar kemungkinan kemunculan," katanya.
Kehidupan Adalah Teknologi itu SendiriVenzha Christ, Direktur Indonesia Space Science Society, mengatakan kehidupan itu adalah teknologi itu sendiri. Perkembangan akan selalu ada termasuk AI.
"Itu saya pikir akan mengurangi pertanyaan-pertanyaan mendasar kita tentang alam semesta. Yang paling sulit ya alam semesta, tentang keberadaan manusia, tentang asal-usul manusia, siapa penciptanya. Itu yang paling pertanyaan-pertanyaan mendasar yang sampai sekarang belum pernah bisa ada yang menjawab," katanya.
Venzha mengatakan soal UFO ini semua masih tafsir. Melalui AI acara ini akan mengungkapkan bahwa sebenarnya tidak ada yang saling bertentangan antara fenomena anomali dan perkembangan teknologi.
"Artinya bahwa ketika kita mencari jawaban tentang apa itu penampakan anomali yang menjadi fokus kita adalah bahwa hanya dengan teknologi, maka kita akan mendapat jawabannya," katanya.
Bukan untuk PenghakimanFenomena banyaknya orang yang mengaku melihat UFO menurut Venzha harus diwadahi agar tidak muncul ruang penghakiman.
"Kalau di komunitas UFO itu membuka forum, membuka form, membuka wacana, sehingga siapa pun orangnya, siapa pun teman kita, saudara kita, ataupun masyarakat luas, bisa untuk melaporkan kejadian-kejadian itu supaya tidak ada judging, supaya tidak ada anggapan-anggapan bahwa, "Oh itu mungkin halu," "Oh itu mungkin kurang turu apa piye," kayak gitu," katanya.
Venzha mengatakan banyak sekali fenomena yang tampak hadir dan nyata, diakui oleh orang banyak, dan memang dialami oleh bahkan teman-teman terdekat kita.
"Tapi kenapa kok itu tidak, jarang sekali diungkapkan? Jarang sekali diceritakan? Bahkan hanya sambil lalu nanti yang muncul adalah logika mistika," katanya.
Menurutnya, keberadaan teknologi supaya tidak timpang antara logika mistika dengan penerapan logika.
"Logika mistika enggak salah. Itu berguna sekali untuk kepercayaan kita, ya. Tapi kalau tidak diimbangi dengan logika yang berbasis teknologi, itu nanti akan kebablasan," katanya.
Harapannya teknologi seperti AI ini bisa menjadi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang selama ini belum kunjung terjawab.





